BAD WIFE

BAD WIFE
ALFA VS FAWAZ



"Alfa, kamu .."


"Hanum, selesai meeting di bali. Aku berusaha datang, karyawan papa, Lani. Ia bicara kamu sakit, kamu berdarah ada apa?" Alfa memeluk Hanum, membuat Hanum terkejut tak berani membalas pelukan atau sekedar menyentuh lingkar pinggang Alfa.


Sementara Fawaz dibelakangnya, ia ternganga dan merasa sakit ketika Hanum tidak menolak atau mendorong tubuh Alfa.


"Bukankah kamu suami haram untuk disentuh!"


"Hey! apa maksudmu dokter Fawaz yang terhormat?"


Alfa melepas erat pelukan Hanum, ia mengecup kening Hanum. Sehingga membuat tatapan Hanum menoleh dan kaku. Di balik pintu, terlihat Lisa memperhatikan adiknya yang kini di apit dua pria. Satu pria suaminya, satu lagi sahabat masa lalu cintanya Hanum.


Melihat pemandangan seperti ini, ada rasa cemburu bagi Lisa, tapi itulah namanya cinta bukan karna fisik. Lisa tau, kecantikan Hanum murni dari hati, wajahnya yang selalu natural membuat pria baru sadar di akhir. Tapi saat ini Lisa tidak bisa memilih keduanya, ia memang menginginkan Hanum bercerai dengan Alfa, tapi melihat sikap Alfa manis, Lisa bingung karna satu pria itu seorang dokter yang membuat jantungnya berdebar.


'Astaga! apa seorang dokter jantung membuat paseinnya berdebar. Tidak! aku tidak benar benar jatuh hati pada dokter Fawaz.' gumam Lisa berlalu kekamar.


Fawaz mendekat dan merentangkan tangan. Lalu bicara pada Alfa dengan menyentuh salah satu pundaknya.


"Akhirilah drama mu Raja Players. Kau itu hanya membuat luka dan sakit bagi Hanum. Seminggu lagi, bibi Maria akan pulang dengan sehat. Dengan begitu Hanum akan mengatakan semuanya dan boom! Berpisah dari Alfa Jhonson." ucapan Fawaz membuat rahang Alfa mengeras.


"Hey! Dokter Fawaz Abraham Jhonson putra mendiang Ardhan Jhonson. Aku bicara seperti ini karna kau itu anak yang telah di tinggalkan karna penyakit, Paman Ardhan begitu bangga pasti melihatmu saat ini. Tapi bisakah kamu tidak mengejar istri sepupumu?" senyum renyah Alfa pada Fawaz.


"Aku akan membahagiakan Hanum. Dia tidak berhak dengan suami kotor, yang sangat menjijikan. Jangan sampai Hanum terkena penyakit karna ulahmu Alfa!"


"Hentikan ocehanmu! Dr. Fawaz Abraham Jhonson. SP.J. Lebih baik kau rawat pasein lain yang terkena jantung dan pembuluh darah. Atau bisa saja dirimu akan terkontaminasi pembuluh darahmu pecah. Jika Hanum akan mempertahankan pernikahannya untukku, jadi hentikan malam ini juga menemui Hanum!"


Mendengar perdebatan kedua pria, Hanum segera melerai. Hanum jujur ingin sekali memihak Fawaz. Tapi ia tak mau kakaknya yang jatuh hati pada Fawaz, akan patah hati ketika bersamanya kelak.


"Fawaz, ada baiknya kamu pulang dulu. Aku minta maaf mengusirmu!" sedih Hanum.


"Hahaaa, lihatkan! satu poin aku menang malam ini, kau di usir dari sini itu sudah tanda jawaban." cetus Alfa.


"Di usir bukan berarti kalah, tapi mengalah demi seorang wanita yang ia cintai."


Hoooh! maniak sekali, Fawaz itu mirip pamanku yang telah tiada. Cetusnya, membuat Hanum pergi masuk kedalam kamar. Ia menangis dan Alfa terkejut ketika Hanum meninggalkannya.


"Han, tunggu aku!"


"Hentikan tingkah drama kamu Alfa, tidak bisakah kamu membawa seseorang yang telah tiada. Kamu tau, rasanya mengungkit seorang papa yang telah tiada. Itu sama hal kamu mengungkit papaku. Kamu lupa papaku sakit karna apa, dia sama seperti papa dari Fawaz. Huhuuu." isak tangis Hanum pecah.


"Hanum, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih seperti ini. Kita pulang ya!"


Hanum masuk kedalam kamar, ketukan Alfa yang membuat kebisingan Lisa dikamar sebelah, membuat matanya terbuka. Ia keluar dan menoleh pada Alfa.


Tok! Hanum, ayo kita bicara! aku jauh jauh mengkhawatirkan kamu. Tapi aku tidak tau, jika bertemu Fawaz membuatku ingin marah dan berdebat. Maka maafkan aku Hanum!


Hanum Saraswati. Bicaralah! katakanlah kamu tidak akan bicara pada mamaku, dan jangan berpisah dariku! Hanum Saraswati, aku akan memperbaikinya. Pertanyaanmu akan aku jawab apapun itu, akan aku lakukan semuanya demi kamu!


Took! Took! masih mengetuk pintu kamar Hanum.


"Haduuh, hey Alfa! berisik tau gak."


"Lisa, tolong bantu aku. Bujuk Hanum, aku menyesal perlakuan lamaku membuatnya terluka."


"Aku menyadari karna satu hal, tapi itu hanya akan aku jelaskan pada Hanum. Aku mohon ka Lisa!"


Deuugh! "Tumben sopan manggil. Ada maunya."


"Alfa, peluang yang diberi. Hargailah sebaik mungkin. Jangan ingkari, buat yang terbaik. Tolong jangan khianati janjimu yang udah diucapkan. Aku bantu bicara sama Hanum, sekarang pergilah. Besok kamu datang lagi jemput dia!"


"Thanks."


Sepergi Alfa, Lisa mendengus nafas. Awalnya ia benar benar ga tega kalau Hanum tidak jadi berpisah. Tapi melihat Alfa, ia tau pria tulus yang bersungguh sungguh. Hingga dimana ia menghubungi seorang teman yang ia percayai.


"Mo, coba jujur. Dia benar benar insaf. Atau ada sesuatu terselubung. Besok temuin jam 7 pagi di cafe biasa!" titah Lisa melalui pesan.


***


Keesokan paginya.


Hanum yang masih terjaga dalam tasbih, ia masih memohon pada pencipta. Keraguan dan kegundahan pada dua pria, yang saat ini membuat hatinya terganggu. Fawaz adalah cinta yang sangat ia inginkan sejak dahulu, tapi keberadaan Alfa yang membuat hatinya terporak berada dalam wahana terjun bebas, dan kembali terjaga. Membuat hati Hanum sulit untuk memutuskan.


'Fawaz. Aku bukan mengingkari, tapi aku tidak tau harus apa?' batin.


Sujud Hanum memohon pertolongan. Ia sudah lelah dengan nama cinta, baginya ia hanya ingin tenang dan percaya jika cinta yang telah di kirimkan adalah terbaik untuknya, itu sudah lebih cukup. Ketika ia mencintai seseorang dengan dalam, hatinya sangat sakit. Ketika ia berhenti maka memutuskan membuat hatinya sakit, karna dirinya jauh dari wanita sempurna yang tidak patut di perebutkan.


BERBEDA DENGAN LISA DI CAFE TUJUH.


"Coba lo jujur sama gue, kenapa dia lakuin kaya gini!"


Lisa memberikan video cctv kediamannya. Yakni perdebatan dua pria antara Alfa dan Fawaz. Hingga dimana, Elmo terdiam dan menganalisa.


"Gue bilang sama lo atas dasar pertemanan lama kita, atau gue yang jadi asisten Alfa udah turun temurun dari jaman bokap gue?" cetus Elmo.


"Dua duanya lah! inget jujur, gue ga mau Hanum adik gue sakit hati."


"Terus hati lo apa Lis?"


"Menyatukan dan memberikan satu kesempatan buat alfa?"


"Tumben lo bener, itu bukan karna lo suka sama si dokter itu kan?"


"Apaan sih, cepet lo kasih tau gue! soal majikan gila lo sekarang!"


"Gue liat mata lo, kayaknya lo berdebar debar deh liat dokter Fawaz. Gimana kalau pura pura jadi pasien sakit jantung?" goda Elmo.


Sialan lo! tebas kaki Elmo yang di tendang oleh kaki Lisa.


"Aduh, sakit Lis. Masih kasar aja lo sama cowo, ga laku baru tau rasa. Bentar gue ambil pesanan coffe dulu." lirih Elmo pergi.


Lisa yang mengambil ponsel di tasnya, ia segera bangkit dan berniat mengejar Elmo. Karna ia ingin menukar pesanan coffe dengan vanila. Tapi nahas tubuhnya bertabrakan dengan Fawaz yang tak sengaja ia juga sedang menelpon dan tak fokus.


"Upps! sorry." lirih Fawaz.


To Be Continue!!