
Meninggalkan Ghina dan Ghani yang sedang berada di ruang kerja Rico. Leo di kamar bersimpuh pada kaki Bunda Hanum. Ia mencintai Hanum, bukan sebagai aunty tapi ibu kandung yang tak pernah ia rasakan.
"Bunda, maaf kedatangan Leo selalu buat masalah bagi kedua anak Bunda."
"Ini bukan salah kamu leo, anak anak Bunda yang tidak dewasa. Andai Ghina tidak mendengar percakapan terakhir kakek mu. Juga berita yang bermunculan kembali, kamu tahu kan musuh papa Rico banyak di dunia market. Setelah bermunculan, mereka ingin memecahkan market dan keluarga kita. Bunda minta maaf! jangan ambil hati perkataan Ghina dan Ghani. Mereka belum cukup dewasa."
"Leo mengerti Bunda! setelah Ghani cukup matang, Leo akan pergi dan menjalani hidup Leo. Tanpa sepeserpun."
"Enggak! kamu berhak sayang, kamu tetap anak Bunda. Meski kamu tidak lahir dari rahim Bunda, kamu tetap anak Bunda dan Papa Rico. Jangan lagi ucap hal sedih, bunda dan papa menyayangi kamu."
"Leo tahu, kasih sayang Bunda dan papa Rico sangat baik. Tapi Leo merasa, Leo juga harus punya kehidupan sendiri. Leo sedih dan sakit, jika Ghina bicara. Bunda dan papa, selalu mementingkan kebahagian Leo."
"Tidak nak! Bunda dan papa hanya membentuk semua anak anak dewasa dengan semestinya. Rukun dan berdamai, karena kalian tidak salah. Masalah masa lalu, hanya bunda dan papa Rico yang rasakan. Kalian semua hanya korban, janji sama Bunda. Jangan tinggalin keluaga kita. Beri Ghina dan Ghani waktu untuk mereka sadar!"
Ucapan Hanum, membuat Leo sadar. Ia memang berada di posisi tertinggi seperti pengganti Rico. Karena usia kedua orangtuanya yang tidak gagah seperti dulu. Dan sang papa selalu siaga pada kesehatan Bunda Hanum. Leo harus memimpin market Marco keberbagai negara. Memang benar musuh papa sangat banyak, sepak terjang papa Rico tak perlu diragukan lagi.
Banyak musuh menjatuhkan, tapi Leo berada disisi Rico, seolah balas budi kasih sayang mereka yang membuat perlakuan dan sifatnya menjadi anak baik dan penurut. Kasih sayang Hanum melebihi ibu kandung yang tak pernah ia dapatkan.
Andai Leo bisa memilih, ia ingin sekali dilahirkan dari rahim wanita bernama Hanum. Bukan Adelia yang menyakitkan jika melihat berita, ia adalah anak dari ibu yang kejam. Banyak klien selalu mengungkit dirinya dengan tajam menusuk hati, tapi Leo tak pernah pusingkan dan selalu mematahkan musuh klien fanatik yang penuh ambisi menjatuhkan market Marco.
Kakek Mark, juga tidak salah. Saat hari akhir ia menghembus nafas, ia mengatakan yang sebenarnya saat Leo ingin tahu, apa benar ibunya adalah Adelia yang meninggal mengenaskan. Terlebih sering menyakiti bunda Hanum, yang menurut Leo dia adalah wanita bagai malaikat tanpa sayap.
Beruntung dan sangat bahagianya papa Rico menemukan wanita seperti Hanum. Terlebih ia tahu, jika Rico begitu menyayangi Hanum dengan banyak perjuangan mereka lalui tidaklah sedikit.
"Bunda, jika Leo berharap. Semoga Leo, bisa menemukan sosok wanita bagai malaikat seperti Bunda." ujar Leo.
"Heuumph! kamu memang pandai buat bunda tersenyum dan terbang ya." senyum Hanum, mengusap rambut Leo.
"Bunda, Leo pamit. Sepertinya papa akan lama, jadi Leo titip ini. Dan ini untuk makan siang Bunda dan Papa. Leo pamit ya, leo janji setelah selesai bekerja. Leo akan sempatkan menemani Bunda."
"Baiklah! hati hati Nak! semoga sukses, dan setiap langkahmu diberkahi. Bunda selalu mendoakanmu nak!"
"Terimakasih Bunda." ujar Leo, ia pamit menyalami tangan Hanum yang terlihat mengkerut itu. Meski sudah sedikit tua, tapi wajahnya selalu bersinar dalam hati Leo.
Hanum melihat dengan lekat, kala ia berada di kursi roda. Lalu menatap Leo telah pergi dengan sebuah mobilnya sendiri. Kepergiaan Erwin yang membuat Leo, tidak ingin mempunyai asisten pribadi. Bagi Leo, terlalu banyak kaki tangan, tapi tidak ada satupun yang ia percaya. Karena itu ia lebih memilih menyetir sendiri, setelah Erwin yang sudah tidak lagi muda, mengundurkan diri dan hidup di desa. Baginya Erwin adalah paman bagi Leo yang sangat baik.
***
"Pikirkan masa depan kalian. Bisakah kalian berdamai, Leo itu tetap kakakmu. Hormati dia, papa tidak membedakan. Papa akan memberikan semuanya pada kalian bertiga. Tapi papa mohon! kalian belajar dari bawah!"
"Jadi, aku harus berada dalam suruhan Leo si anak angkat itu." ujar Ghani.
"Aku akan tetap bekerja di perusahaan lain. Meski kuli bangunan sekalipun, aku tidak mau disuruh oleh Leo pah!" ujar Ghani membantah.
"Apa sikapmu karena pengaruh Ghina. Apa yang orang katakan, jika mereka tahu anak papa menjadi kuli?" ujar Rico menepuk bahu anaknya.
"Biar saja. Semua itu keinginan papakan. Aku tidak gila harta pah! aku akan buktikan, jika aku bisa sukses tanpa market Marco. Meskipun aku akan dicoret dari nama keluarga ini!"
"Ghani." teriak Rico yang sesak.
Ghina sebal, ia mengejar Ghani yang pergi begitu saja. Seolah meminta saudara kembarnya itu bertahan, dan melakukan misi untuk menyingkirkan Leo. Tapi ide Ghina ditolak, ia hanya ingin mengejar cintanya Arum kekasihnya dan hidup sukses bersama tanpa bantuan keluarganya.
Matahari seakan-akan membuat matanya tersayu dalam kesilauan yang dimana wajahnya benar-benar berlawanan dengan arah cahaya matahari yang begitu sangat terang benderang dan panas menyerang.
Jari jemarinya rasanya sudah pegal dan rasanya ia sudah lelah dalam menurunkan dan menaikkan tangannya berkali-kali itu, yang ia tempelkan di dekat alis di samping mata bagian kanannya. Ghani tetaplah pada pendiriannya, ia tidak peduli dengan kisah Leo. Hanya saja ia tidak ingin membuat Ghina yang memintanya menguasai perusahaan papa dengan begitu cepat.
"Kau akan pergi, lupa dengan aku bilang tadi?" ujar Ghina.
"Aku akan pikirkan, tapi aku ingin kejar Arum. Kuliahnya dia sedang diambang hancur, ia akan dinikahkan dengan pria lain. Mengertilah!"
"Lantas, dengan kekuatan kau sebagai pemilik nomor satu market Marco papa. Kau akan di terima Ghani. Sambil menyelam minum air, kau bisa terima perjodohan papa. Tapi kau buat wanita itu sebal, dan bercerai. Lalu kau nikahi Arum, bukankah papanya matre?"
"Ghina, cukuplah! aku penat. Aku ingin sendiri, jangan hubungi aku beberapa hari ini!" ujar Ghani pergi begitu saja. Membuat Ghina sebal dan membenci seolah ia sendiri dan sepi.
Sementara Rico tak percaya, putrinya begitu membenci Leo. Dan membuat ide gila, mempengaruhi Ghani menjadi pria yang tidak bertanggung jawab.
"Mas, bagaimana dengan kedua anak kita?" tanya Hanum, dari bilik jendela.
"Mas, akan beri tegas. Jika mereka ingin keluar dari rumah ini, kita harus biarkan kemauan mereka yang ingin mandiri. Mungkin itu sudah jalannya. Mas minta kamu percaya! meski begitu, mas dan Leo tidak akan berhenti mengawasi mereka dan membantunya dalam hal tersulit tanpa mereka tahu." ujar Rico, membuat Hanum sedih.
"Maafin Hanum mas, andai Hanum bisa berjalan seperti dulu. Hanum sudah gagal menjadi ibu, karena Hanum sakit sakitan. Hanum tidak bisa membentuk mereka jadi anak baik."
"Ssst! semua salah mas. Jangan salahin diri kamu lagi ya sayang!" sedih Rico menatap Hanum istri yang ia cintai. Dilema bagi Rico saat ini, kala melihat kedua anaknya tidak baik baik saja.
Tbc.
Mampir All, jejak tap love ya. Ini akan berhubungan dengan kisah anak Hanum. Ghani dan Ghina.