BAD WIFE

BAD WIFE
RENCANA BOHONG



"Sayang, kamu ga apa apa? mana yang sakit?"


"Mas, tolong supirnya! dia terluka, kita harus bawa dia ke rumah sakit. Mobil dan semuanya dibawa pergi!" lemas Hanum, memegang perut.


Rico berusaha memeluk Hanum, bagusnya ada beberapa orang yang membantunya. Bahkan seorang juru parkir berhasil menghadang dua pengendara dan meninggalkan mobil mewah itu, dari jarak lima kilo meter.


"Pak maaf! ini kunci mobilnya, tapi punten. Saya ga bisa bawa mobilnya ada di sebelah sana." ungkap juru parkir itu.


"Terimakasih pak, terimakasih sudah banyak membantu saya dan istri saya." lirih Rico.


Beberapa orang mengangkat supir, lalu Rico menghubungi Afandi dengan segera mungkin. Menceritakan segalah musibah dirinya yang baru sampai menepi di Paraland.


"Afandi, supirmu saat ini sedang menuju rumah sakit. Dan mobil maaf, sedikit hancur karena trouble!"


"Tenanglah bro, gue di perjalanan menuju tempat lo. Kita akan segera mengurus kronologi dua pelaku. Fokus my wife, jangan tinggalkan dia sendirian!" ucap Afandi.


RESORT PARALAND.


Rico mendudukkan Hanum di atas tempat tidur. Dia menyenderkan tubuh Hanum ke kepala ranjang, lalu memberikan segelas air putih untuknya.


"Sayang minumlah!"


Hanum menatap Rico dan air putih yang di sodorkan kepadanya. Sampai saat ini, Hanum masih tidak percaya kejadian beberapa jam lalu.


"Mas jangan pergi jauh!"


"Sayang, mas ga kemana mana. Mas menunggu Afandi datang, dia akan membantu kita sampai desa rumah baru kita, mas minta maaf. Harusnya mas tidak meninggalkan kamu tadi."


"Aku yang minta maaf tadi mas, karena itu aku ga bisa menolong semua tas kamu. Bahkan seluruh uang penjualan mobil tadi."


"Ga usah di pikirkan. Soal itu, mas akan meminta Erwin mengurus segala identitas kamu yang hilang, mas juga udah melapor pada polisi. Dan mas yakin ini orang suruhan Alfa."


"Mas jangan suudzon, meski Hanum juga mengarah padanya. Tapi kalau itu memang begal yang sudah biasa dan kita hanya sedikit apes aja."


"Tidurlah sayang, bell berbunyi. Mas yakin itu Afandi, mas sudah menyiapkan makanan. Kamu makan sebentar ya, kasihan bayi kita kalau kamu ga makan."


"Iya, makasih ya mas."


Sementara Hanum menatap Rico yang menutup pintu kamar, ia menyalakan televisi dan berusaha rileks melupakan kejadian dua penodong tadi. Bagus saja Hanum merelakan seluruh tas barang berharga, jika ia mempertahankan dan tidak keluar dari mobil. Mungkin sayatan benda tajam melukainya.


Rico pun mempersilahkan Afandi, sahabat karib yang notabane pengusaha sekaligus intel. Sehingga ia mengobrol panjang akan kasus dirinya soal Alfa dan market Marco. Sekaligus kejadian dua begal yang menghampiri dirinya tadi, saat Rico meninggalkan Hanum bersama supirnya.


"Ini rekaman dari resort tadi, sory bro! harusnya gue .."


"Udahlah bro, ini musibah. Jangan merasa bersalah. Kebaikan papa Mark pada keluarga gue lebih dari ini. Udah saatnya gue juga bantu lo! sabar, dan jangan melakukan perlawanan. Supaya kita bisa ringkus seluruh antek antek Alfa." jelas Afandi.


\*\*\*


KEDIAMAN JHONSON


Alfa menautkan kedua alisnya pada Adelia. Ia melepas kaitan tali di kedua tangannya.


"Apa kamu tidak mau menjadi istriku selamanya?" tanyanya seraya menatap Adelia dengan wajah datar. Tapi Adelia tetap diam.


Tangis Adelia kembali pecah. Hatinya sakit mendengar perkataan Alfa. Awalnya ia ingin memisahkan Rico dan Hanum, tapi dirinya terjerat menjadi pemuas Alfa begitu saja.


"Lepasin aku Alfa! anak ku pasti menungguku! aku sudah berikan tanda tangan tanah Marco, hanya itu saja, tapi kenapa aku masih ditahan di sini!" isak tangis Adelia.


"Apa kamu mau menikah denganku secara sah, hanya demi mendapatkan warisan saja, juga misi ku belum selesai?" pinta Alfa.


Adelia mengangguk. "Tentu saja. Tidak mungkin aku menikah denganmu karena cinta. Kita tidak saling mengenal," jawabnya acuh.


"Aha, benar. Kita menikah hanya sandiwara. Setelah kamu menikah denganku, aku pastikan kamu bisa bertemu dengan anakmu. Asalkan perintahku tetap kamu jalani, jika sampai bocor kamu tau kan?"


Hati Adelia berdenyut nyeri. Setelah dibuang oleh suami pertamanya, dan kini Alfa pria keduanya pun akan membuangnya. Adelia menatap Alfa dengan wajah berlinang air mata.


"Kenapa pria begitu mudah mengucap kata cerai dan pisah? Apa menurut kalian pernikahan itu hanya mainan?"


Alfa menatap Adelia dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jadi, kamu mau menjadi istriku selamanya?"


"Bukankah sudah terlambat untuk menanyakan itu? aku jelas tidak mau kamu tiduri aku tanpa status." ketus Adelia terpaksa.


"Apa salahku padamu? Kenapa kamu juga akan menceraikan aku? Aku tidak mau menjadi janda untuk kedua kalinya?" potong Adelia seraya terisak.


Alfa kembali terdiam. Tangannya mencengkram erat gelas yang dipegangnya. Ia memang menikahi Adelia beberapa minggu lalu demi misi merayu agar Rico jatuh miskin. Sekaligus membayar dendam keluarganya.


"Maaf, lalu apa yang kamu inginkan. Setelah aku tak memerlukanmu. Aku juga akan membayar dan kamu tidak akan kekurangan uang bukan?"


Adelia menunduk seraya memainkan jari tangannya. Dia bingung. Hatinya masih mencintai seseorang, niat hati ingin memisahkan Hanum dan Rico. Tapi lagi lagi kenyataan dua pria yang dekat dengannya hanya memanfaatkannya, demi nama Hanum.


"Entahlah! Aku bingung," gumam Adelia dengan suara serak.


"Minumlah, dulu! Tenggorokanmu akan membaik setelah minum." Alfa kembali menyodorkan air ditangannya.


"Alfa, apa pentingnya wanita bernama Hanum. Kenapa semua pria mengejar Hanum. Apa kelebihannya?" tanya Adelia. Membuat tawa Alfa pecah dan menatap Adelia dengan sorot tajam.


"Hahaha, kamu lupa. Tidak ada yang bisa membuat pria bahagia. Aku bodoh dulu melepasnya. Aku pria bodoh, aku memang telah membuang permata indah berkilau. Kedua orangtua ku memilih wanita untuk pendampingku. Sayang aku terlambat menyadari, Hanum jauh lebih terhormat darimu. Jika kau tanya, lebih baik kau berkaca Adelia!" teriak Alfa, lalu pergi meninggalkan Adelia.


"Kalau begitu ijinkan aku pergi satu hari, aku harus pulang. Aku harus ke bali menemui putraku Alfa. Aku janji akan kembali lagi, dan menuruti apapun yang kamu perintah!"


"Baiklah, dua hari! ingat selama ini kamu punya uang dari mana? Semua uang yang kamu punya berasal dari Alfa Jhonson. Otomatis itu sudah menjadi milik kamu, dan itu akan membungkam kamu jika kamu berani membongkar dan membocorkan misiku!"


Adelia memungut uang yang di lempar Alfa, ia segera menahan kesedihannya. Saat ini ia ingin pulang dan meminta bibi Dena terus menjaga putranya. Sehingga kerinduan dan rasa bersalahnya terobati.


'Lion, mama pulang sayang. Mama rindu kamu.' deru batin Adelia.


Sementara Alfa menatap satu laptopnya, ia menatap seluruh ruangan cctv dan informasi bagus yang ia dapati dari anak buahnya.


"Hanum, aku yakin setelah Rico tak punya apa apa. Kamu akan datang, dan memohon padaku. Gemas rasanya, tak sabar melihat Rico kehilanganmu kelak." tawa riang Alfa.


Namun saat Alfa tertawa, satu pesan membuat alisnya mengerut kesal.


Tbc.