BAD WIFE

BAD WIFE
LISA MARAH



"Biar mas buka sayang, kamu cepat ganti pakaian! jangan sampai memalukan ada tamu, kita ketahuan.."


"Cukup! mas, Hanum akan berganti pakaian. Mas yang sabar ya!" bisik Hanum menggoda.


Rico dengan gaya frustasinya seolah tidak mood, kala Hanum seakan tertawa puas. Benar saja jika istrinya sudah melepas, tapi dirinya. Oh! tidak adil, itu adalah gerutu Rico sebelum membuka pintu.


Rico membuka pintu, terlihat Fawaz dengan sebuah kotak di tangannya. Senyum lebar bagai tanpa dosa.


"Kau, semalam ini untuk apa kemari?"


"Lihatlah! seorang dokter yang sedang cuti, menemani istri yang ingin bertemu dengan adiknya." jelas Fawaz.


"Maksudmu, wah. Ini sudah pukul sepuluh malam loh."


"Kenapa, apa aku mengganggu mu?" cetus Fawaz.


"Aaaakh! baru saja aku sedang menarik jackpot. Dan kau malah gila datang di saat tidak tepat." Rico menjelaskan dengan raut frustasi. Mengusap rambutnya yang acak acakan.


Hay! Rico, Hanum ada di dalam. Maaf ya, kami datang malam malam! ujar Lisa dengan mengunyah permen lolipop. Ia masuk melewati Rico dan Fawaz yang masih saja berdiri beradu kata di depan pintu.


"Honey, ayo masuk! Rico kenapa ga menyuruh suami ku masuk?"


"Yah, ini mau." gemas Rico, tapi Fawaz hanya berusaha menertawakannya dari punggung Rico yang lebar.


Hanuuum!! teriak Lisa.


"Eh, kak! kapan datang. Kok ga bilang sih mau kemari? kirain masih nginep di villa."


"Sekalian nih, bawa kue dari mama. Bingkisan dari om Sony sih. Kali aja ada taburan sihir, jadi kakak bawa. Terus mau kasih lihat kamu, kakak ga ijinin mama nyicipin." jelas Lisa.


"Oh, segitunya kak Lisa. Apa mama ga marah?"


"Mana bisa mama marah sama kakak, pokoknya kakak bakal protec kalau ada yang genit ke mama. Kakak bakal paling maju buat .."


"Seleksi." sambar Fawaz.


"Yank, enak aja. Pastinya buat mencegah hal yang ga di inginkan." cemberut Lisa.


"Owh, mas kira apa."


Rico dan Fawaz saling menatap dan ia menyingkir ke arah dapur dengan berbisik bisik.


"Ric, kau masih bisa buat kopi vietnam?"


"Ada, mau buat. Ayolah, kita ke dapur sekarang!" ajak Rico.


Sementara Hanum dan Lisa duduk berdempetan dan Lisa mengeluarkan seutai benda merah dari tas kecilnya. Lalu Hanum mengambilnya dan bertanya.


"Ini gunanya untuk apa kak?"


"Han, ini katanya voucher resort bali. Om Sony kasih buat liburan keluarga. Mama sih ga tau, tapi aku sabotase. Kamu ikut ya!"


"Om Sony kasih ke kakak, terus kakak ga bilang sama mama?"


"Iy, kenapa?"


"Pepatah apa?"


Baik itu ibu nya atau ayah nya, tidak ada orang tua ingin anak dalam bahaya. Orang tua akan selalu berikan segala terbaik, sekalipun itu nyawanya. Agar anak nya tetap melihat dunia. Ibu ayah akan selalu ada di dalam hati nya, setiap detik akan terasa selalu dekat.. walaupun jiwa raga tidak bersama dalam kehidupan.


"Maksud kamu apa Han?"


"Kak, sebaik baiknya. Kita kayaknya ga harus terlalu menekan deh. Silaturahmi mungkin aja kan, gimana kalau kita di takdirkan hanya jadi teman. Misalkan kita di posisi mama dan om Sony. Menurut kaka, apa kakak ga keterlaluan kita lakuin kaya gini?"


"Jadi kamu dukung om itu deketin mama, terus jadi papa baru kita. Gitu, kamu suka. Kamu ga ngerti sih Han, gimana rasanya dan betapa sedihnya hati kita di tinggal, terus papa di alam sana bakal sedih liat kamu dukung mama nikah lagi! Honey, ayo kita pulang!" teriak Lisa.


"Kak, bukan gitu maksud Hanum. Maksud Hanum bukan ijinin mama nikah lagi, kak Lisa, denger dulu dong yang Hanum bilang!"


"Enggak, aku marah sama jalan pikiran kamu Han, udah! stop ga ada guna kakak bicara dateng malem malem ke sini!" ujarnya.


Hanum merasa sedih kala Lisa salah paham, lalu melihat Fawaz yang baru saja menghirup coffe vietnam tidak jadi, saat Lisa sudah marah menekuk wajah dan berada di ujung pintu.


"Ada apa ini?" tanya Fawaz.


"Aku rasa kak Lisa salah paham, tadi.." berusaha menjelaskan.


"Yank! ayo pulang!" teriak Lisa membuat kuping sakit.


"Fawaz, nih gue pindahin ke gelas. Lo bawa deh, bawa istri yang lagi ga moodan!"


"Ok! nanti gue telepon ya." Fawaz pamit.


Hanum merasa ka Lisa sangat terlalu jauh, padahal tidak ada yang mau atau mudah, ketika melihat sang mama di dekati seorang pria. Hanya saja Hanum beranggapan sebagai anak tidak perlu terlalu ketat, yang membuat pertemanan sang mama nanti semakin buruk. Tapi Lisa malah beranggapan lain.


"Sayang."


"Mas, kak Lisa salah tanggap." sedih Hanum.


"Biarkan saja, Lisa perlu meredam emosi. Hanya sesaat pasti dia marah. Biarkan Fawaz yang menasehatinya." peluk Rico.


Hanum yang kembali merapihkan beberapa piring gelas kotor. Rico hentikan ketika suatu gesekan sudah ingin menancap pada pemiliknya.


"Mas."


"Apa?" menatap wajah lesu.


"Kunci dulu pintunya!"


"Hooh! baiklah, mas hampir lupa."


***


Paginya alarm di pukul lima, membuat Hanum bangun dan mematikan jam walker. Tak lama ia melihat satu buku yang terbuka begitu saja, membuat Hanum penasaran.


Tbc.


Sambil nunggu Hanum! yuks melipir baca karya temen Author.