BAD WIFE

BAD WIFE
IKUT DENGANKU



Hanum yang kini kembali bingung, lagi lagi makanan antar tanpa dikenakan biaya dan tanpa ia pesan. Kali ini steak ayam dengan sayuran dan kentang serta Saus Bolognese, khas italia.


"Siapa lagi ini, apa jangan jangan pak Erwin yang kirimkan ini semua?" termenung Hanum.


Belum lagi Hanum mendapat panggilan dari pak Erwin, jika besok ia tidak di gudang. Ia segera ke lantai tujuh menemui pak Rico. Hanum kembali memutar pikiran, kenapa bagai dejavu. Hanum ingat kala pertama kali menjadi house keeper, lantai tujuh.


"Semoga aku tidak lagi dejavu dengan nomor 501." gumam Hanum.


Berbeda hal dengan kediaman Fawaz.


"Fawaz!”


Suara benda besar dan berat seperti sebuah karung beras terjatuh menggema dalam kamar Lisa, sehingga membuat jantung berdegub kaget.


“Auw!” rintih kesakitan Lisa.


Entah karena kecerobohannya yang melekat saat menjadi Lisa atau karena gaunnya yang terlalu panjang dan ribet, Lisa terjatuh saat mengejar Fawaz. Kakinya terjerat gaunnya sendiri sehingga tubuh Lisa mendarat dengan sangat cantik di atas lantai dingin. Jatuh di lantai ternyata tidak seindah jatuh cinta. Rasanya lebih sakit dibanding sakit hatinya saja, yang mencintai Fawaz seorang diri.


Fawaz terkejut ketika mendengar suara benda jatuh. Tubuhnya langsung memutar, dia pikir ada barang miliknya yang jatuh. Matanya membuka lebar dengan alis terangkat. Tulang wajahnya tertarik melihat apa yang terjatuh sehingga menimbulkan suara menggema berat dalam kamarnya.


“Lisa, kamu terjatuh?" ketika mengetahui benda apa yang terjatuh.


Lisa meringis menahan sakit pada tubuh bagian depannya. Bukan hanya rasa sakit yang harus dia tanggung saat ini, tapi juga rasa malu. Cara Fawaz memandang dan membentuk sudut bibirnya membuat Lisa semakin terlihat tolol dan bodoh di mata Fawaz.


Lisa kembali meringis menutupi rasa malunya, karna saat ini Lisa akan di ajak Fawaz dalam acara pernikahan keponakannya, tentu saja Alfa dan keluarga Jhonson akan hadir. Hal itu agar mereka tak berani menyentuh Lisa dan tante Rita. Sehingga hati Fawaz sudah menunaikan janjinya pada Hanum, karna rasa besarnya kecintaan dan kegilaan ia yang menunggu Hanum, tapi kembali mendapat penolakan.


“Tolong aku!” rengek Lisa mengulurkan tangan meminta Fawas membantunya bangun.


Posisi tubuh Lisa di atas lantai seperti seekor buaya betina sedang merayap meminta makan pada pawangnya. Tubuh Lisa terbaring dengan posisi tengkurap. Wajahnya sedikit terangkat menunjukkan ekspresi memelas ke arah Fawaz.


Bukannya segera menolong, Fawaz malah berdiri dengan santai. Kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Tatapan dan senyumnya terlihat menggoda, Fawaz memandang wajah cantik Lisa.


“Kamu punya kaki kan?”


“Punya.”


“Punya tangan?”


“Punya.”


“Aku rasa tangan dan kakimu bisa kamu gunakan untuk bangun sendiri,” ucap Fawaz cuek dan terdengar dingin.


"Baiklah." lirih Lisa.


"Tidak, aku hanya bercanda. Jika kamu ceroboh, followersmu akan menertawaimu Lisa. Aku tidak akan jauh jauh pergi darimu, lain kali berhati hati ya!" senyum Fawaz mengulurkan tangan.


Lisa pikir Fawaz akan kembali memutar tubuhnya dan membiarkan ia tetap terbaring di lantai. Kakinya kembali melangkah dan membuka pintu.


“Hi!!!” geram Lisa meregangkan wajahnya dengan senyuman bahagia.


\*\*\*


KE ESOKAN HARINYA.


Hari ini Hanum sedikit ketar ketir, setidaknya tatapan Dewi dan Vita mengarah tajam. Kenapa ia bisa di pindahkan bekerja dalam waktu kurang dari seminggu. Bukankah sp adalah peringatan kecerobohan, tapi kenapa hukumannya naik jabatan.


Dewi akhirnya hanya menyelamati Hanum, berbeda dengan yang lain. Dan kini Hanum pergi ke gedung sebelah, lalu naik lift dengan memencet tombol angka tujuh.


"Bismillah, semoga hariku baik." gumam Hanum.


"Kebetulan sekali, jangan lagi terlambat menemui atasanmu. Hanum, ingat itu! sekarang kamu ikut aku!"


"Ba-baik pak Rico."


Hanum semakin kesal, kedua tangannya mengepal dan memukul dinding lift dengan gerakan cepat, karena hatinya sangat geram dan marah atas sikap cuek atasannya itu. Hanum merasa belum tau ia harus bekerja apa, karna posisinya sangat mendadak.


Hanum menghentikan gerakan memukulnya dan melebarkan senyum bibirnya, ia memperlihatkan barisan gigi putih miliknya karena secara tiba tiba Rico berbalik badan dan menatapnya dengan tatapan aneh.


“He … he … he ….” cara Hanum tersenyum membuat wajahnya semakin jelek.


“Dasar wanita aneh." Rico merasa jengah dan jera dengan tingkah Hanum, tapi ia suka.


“Ingat! Jangan ke mana mana dan jangan ke luar! Tetap di sini! Aku tidak mau mereka tau siapa kamu,” pesan Rico sebelum benar benar ke luar meninggalkan Hanum dalam ruangan.


Hanum mengangkat tubuhnya dengan susah payah karena, bajunya membuat pergerakannya ribet. Dia duduk dan melihat rak buku yang menjulang dan berjejer rapih serta jika di hitung mungkin ribuan.


"Gila, apa pekerjaanku adalah seperti membaca dongeng untuk bosku?"


“Pak Rico, bisakah saya ikut keluar juga?"


“Tidak!”


“Tapi-“


“Sekali tidak, tetap tidak! Jangan buat aku marah dan menyakitimu!” bentak Rico.


Melihat mata Rico kembali tajam menerjangnya membuat Hanum menutup rapat bibirnya. Kedua katup bibir pucat Hanum merapat hingga membentuk kerucut menunjukkan rasa kecewa dan kesal atas keputusan sepihak Rico.


“Jadilah gadis yang baik selama menjadi asistenku!” pesan Rico sebelum akhirnya ke luar dan menutup rapat pintu.


“Pak Rico, jangan dikunci!” teriak Hanum ketika mendengar suara pintu terkunci dari luar.


Hanum hendak bangun mengejar Rico, tapi lagi lagi kakinya terjerat karna rok hitam yang ketat.


“Ahk, rok sialan!” makinya kesal sembari membuat gerakan seolah sedang merobek agar kendor.


Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali menangis kesal atas nasib yang dilalui hari ini. Hanum menyembunyikan wajah dengan tangan sebagai bantalan. Dia tidak segera bangkit dari lantai hanya untuk meratapi nasib sialnya. Isak tangisnya terdengar menyedihkan. Menyesal pun tidak ada gunanya. Menjadi asisten kontrak Rico sudah menjadi pilihannya.


Tidak ada yang bisa Hanum lakukan, kecuali hanya duduk dan melamun. Namun pintu kembali terbuka kala Rico datang dengan delapan orang wanita dengan membawa gaun serta alat make up.


"Tunggu, pak Rico apa ini maksudnya?"


"Kalian dandani, pilih baju yang pas tapi tidak terbuka!"


"Baik pak." serentag semua pelayan salon dan butik.


"Pak Rico jawab saya, kerjaan saya apa sih. Kenapa saya harus di dandani. Pak Rico tidak akan jual saya kan?"


"Hah! Jual? gila kamu, tetaplah tenang. Mereka semua mau make over. Saat ini ada acara pernikahan keponakan. Banyak rekan dan keluarga yang datang. Jadi kamu cukup temani aku, dampingi aku dari ulat jambu yang akan menghampiriku. Itu tugas pertamamu!" jelas Rico.


"Ulat jambu, apa maksudnya?" lega Hanum, tapi bingung.


"Sudahlah! tenanglah, dan makanan kecil itu bisa kamu kunyah! aku bos yang tidak menjerumuskan karyawannya." lirih Rico, yang di sambut tawa sembunyi Erwin di belakang tubuh Rico.


~ **Bersambung** ~