BAD WIFE

BAD WIFE
MARK BINGUNG



Hanum telah menunggu sang anak di ruang ugd, kala dokter sedang menangani. Bersyukurnya baby Ghina tak apa, hanya terjadi pencernaan yang tak bagus dan pengaruh cuaca.


Hal itu juga membuat Hanum ekstra disiplin, pada seluruh pengasuhnya. Agar selalu bersih, dan kembali mengecek setiap botol susu, atau segala hal dari pakaian yang harus di setrika dan hangat sebelum memakaikan semua bayinya setelah mandi.


"Mas, syukur Ghina ga apa apa."


"Kamu tunggu mas disini ya! Mas ke ruangan papa dulu." ucap Rico, dan dianggukan oleh Hanum.


Papa Mark, merasa ada yang aneh dengan putranya, beberapa hari belakangan ini, terutama setelah operasi transplantasinya selesai dilakukan—ah, tidak, mungkin tepatnya keanehan itu memang sudah terjadi jauh sebelumnya. Tepatnya saat Rico mengatakan bahwa dirinya sudah membayar lunas biaya transplantasi yang dibutuhkan.


Sudah tiga kali pagi ini Rico berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Sejak pulang dari rumah sakit kemarin sore, anak itu juga tidak bisa mencium bau yang katanya tercium sangat menyengat di hidungnya, padahal menurut papa, tidak ada bau menyengat yang Rico bicarakan. Yang pasti semua gelagat yang papa temui itulah yang kemudian membuatnya menyadari keanehan, yang terjadi pada putranya belakangan ini.


“Kamu yakin baik-baik saja, Rico?” tanya Mark begitu melihat putrinya keluar dari kamar mandi, sambil mengelap bibir yang basah. Wajahnya terlihat pucat, lelah dan tak bertenaga.


“Iya, Pah. Aku baik, mungkin cuma masuk angin.”


Dahi papa berkerut, selalu jawaban yang sama yang diterimanya setiap kali bertanya. Dan kali ini, setelah sekian kali hanya mengangguk mengerti dan mempercayai putranya itu, papa ingin mendapat jawaban lebih pasti dan detail dari putranya.


“Kamu sudah bilang begitu sejak empat hari lalu, saat papa masih dirawat di rumah sakit. Dan papa rasa, ini bukan lagi masalah masuk angin. Bilang pada papa kamu kenapa, Rico? Kamu sadar nggak kalau belakangan ini kamu kelihatan aneh sekali?”


Rico yang memilih duduk di sofa kecil dalam unit rumah sakit, yang mereka tempati bersandar lemah dengan mata terpejam. Kepalanya sudah pusing dengan mual yang dialami, Rico tidak ingin paginya juga diisi oleh omelan papa yang tetap membahas hal itu-itu saja. Dirinya sedang amat sensitif saat ini, dan Papa yang mengomel jelas bukan pilihan bagus untuk dihadapi.


“Rico baik-baik saja, Pah ... Mungkin terlalu lelah karena mengambil banyak lemburan pekerjaan belakangan ini.”


Raut wajah sang papa dari yang semula keras karena penasaran, berubah menjadi sendu dengan penuh rasa bersalah yang tersirat jelas. Tangannya mendekati putranya, di samping Rico yang masih memejamkan mata. Entah karena masih mengantuk atau karena hal lain yang membuatnya memilih terpejam.


“Maaf...” ucap papa sambil mengelus kepala Rico lembut, merasa bersalah karena sudah membuat putranya bekerja sekeras ini.


Dahi Rico berkerut, membuka matanya perlahan dan membalas tatapan papa yang mengarah padanya. Bukan tak nyaman karena sentuhan papa, tentu saja jelas bukan karena hal itu, karena sentuhan sayang sang papa. Jelas adalah hal terbaik di dunia, Rico hanya merasa terganggu dengan permintaan maaf yang didengarnya.


“Maaf untuk apa? Kalau ini masih soal biaya rumah sakit, bisa aku tidak mendengarnya dulu, Pah?”


“Tapi kamu kerja keras sampai lembur setiap hari karena itu, kan? Karena kamu harus membayar utang yang sedemikian besar itu yang dilakukan oleh Adelia...”


Mata Rico baru akan kembali tertutup ketika suara yang dikenalnya justru membuat dirinya terjaga sepenuhnya. Rico pun menyingkirkan seluruh pusing dan mual yang seketika hilang karena justru kini adrenalinnya yang dibuat terpacu.


"Pah, Hanum datang. Ada cucu papa disini." ucap Hanum melembut.


"Kamu ajak bayi Hanum, ah senangnya jika bisa bermain dengan mereka. Setelah ini cepatlah pulang! rumah sakit tidak bagus untuk bayi!"


"Iy pah."


Hanum juga menjelaskan beberapa hal, terkait baby Ghina saat itu. Tapi bersyukurnya bayi perempuan mereka tidak apa apa. Sehingga di izinkan untuk pulang.


Dan dalam beberapa puluh menit, Rico mengajak pulang Hanum, dan bayinya setelah meminta pengurusan pihak rumah sakit. Jika sang papa setelah pulih, untuk di rawat di rumah saja. Ada lantai paling aman, yang bisa di tinggali oleh sang papa di rumah barunya. Karena sebaiknya tempat paling nyaman adalah rumah.


***


Esok Harinya.


Kediaman apartemen Adelia, Rico segera mengetuk dengan menggendor gedor. Hal itu juga membuat Rico mengancam Adelia.


“Ah... Ada apa ya, Kak? Ngapain Kakak ke sini? Kita kan bisa ketemu nanti di tempat kerja aja.” wajah Adelia sudah berusaha sedemikian rupa untuk menunjukkan isyarat bahwa sebaiknya Rico segera pergi dari rumahnya dan membicarakan apa yang ingin Rico sampaikan, hal itu nanti saat mereka sedang berdua saja. Karena Rico tahu, suara kamar mandi sedang berbunyi kucuran air, dan itu pasti paman Jhony.


Tapi seakan tidak mengerti, atau lebih tepatnya tidak menghiraukan isyarat itu, Rico tetap mengarahkan pandangannya pada Adelia, masih ramah seperti pertama kali mereka bertemu beberapa menit lalu.


"Jangan sodorkan aspri pada kantor kakak, sekalipun untuk kebaikan Leo. Ingat dia anak Rico saat ini! dia menjadi keluarga Mark, dan mencoret nama Adelia pinot, untuk membenarkan muka dan sikap yang tidak tau diri. Sekali lagi kamu dekati papa Mark, di rumah sakit. Juga mengunjungi kediaman kami yang baru. Ingat untuk berhati hati." kesal Rico dan pergi, setelah mendorong pintu.


"Kak, sebegitu bencinya kah kakak padaku, aku salah membuat banyak kesalahan baik itu fisik dan materi. Tapi aku ingin diberi kesempatan, tinggal bersama Leo."


"Jangan harap! bahkan sejengkal kamu datang, maka polisi yang menyeretmu! jangan lagi ganggu keluarga Mark, istriku dan anak anakku. Paham kamu Adelia!" cetus Rico.


Rico kembali menuju loby, dan sesampainya ia terkejut akan seseorang yang tak asing, berlari melewati tangga darurat.


Tbc.