
Hanum yang kini sedang mengeringkan rambut, ia masih menatap cermin. Masih sama dengan semalam. Mengunci rapat pintu, agar Alfa tidak seenaknya masuk kekamarnya. Meski ia tinggal bersama Alfa, tetap saja mereka tidur di berbeda kamar.
Masih jelas ketika Irene datang dan masuk berteriak manja. Ia melakukan sesuatu di ruang tv saat Hanum sedang mengambil minum di dapur. Saat ini pun Hanum memutar otaknya, agar Alfa bisa menjaga privasi padanya. Jika ditanya, apa kamu sabar jika sebagai Hanum. Melihat suami sah mu bermain di ruang tv dengan santai ketika ia tak menganggapmu.
Saat ini Hanum bukan lagi berperang dengan ocehan Alfa terhadap fisiknya. Melainkan berperang pada wanita movie yang harus Hanum kalahkan. Tujuannya memang terdengar licik, membuat Alfa jatuh cinta padanya, setelah itu meninggalkannya.
'Apa aku mundur saja, atau aku perlu membalasnya. Apa langkah yang aku ambil sudah tepat?'
Benak Hanum sedikit ragu, tapi melihat wajah Alfa dan Irene ia sudah sangat muak. Tapi resiko ketakutan ini, Hanum takut terbawa perasaan pada pria bernama Alfa.
Cekleg!
Hanum membuka pintu, terlihat Irene juga menyapa dengan wajah sangat cantik. Lalu ia senyum mendekati Hanum dengan wajah sok polos.
"Mau kemana?"
"Hey! aku bilang kamu mau kemana. Ga jawab, sombong amat sih. Kamu tau kan ini rumah Alfa Jhonson. Kekasihku?"
"Nona teeeeeeer.. populer dikalangan movie bispak! anda bicara sama aku, aku punya nama. Dan ingat aku istri sah keluarga Jhonson. Apa kamu dianggap olehnya?" senyum menyeringai Hanum.
"Kau .."
"Kenapa mau protes?" tawa Hanum pada wajah Irene. Meski hatinya sedikit gugup kala menentang.
Hanum kembali mengabaikan Irene yang kesal. Bisa bisanya ia mengancam, sedang dirinya saja hanya sebuah status yang mudah dipakai.
Hanum saat ini keluar rumah, lokasi kediaman Alfa memang komplek. Tapi Hanum ingin mencari tukang sayur dan buah di sekitar area komplek perumahannya.
"Aah! itu dia bang sayur. Sini!" melambai tangan.
"Duh, bu Jhonson ya. Baru keliatan lagi ya?"
"Panggil Hanum aja bang! yang terkenal kan mertua saya. Saya mah apa atuh," senyum tipis.
"Duh neng Hanum merendah untuk meroket. Owh ia mau beli apa nih neng?"
Bayam dua iket! pare satu kilo! Udang basah sama sambelan aja deh!
Abang tukang sayur segera menyiapkan, membungkus dan menghitungnya. Lalu Hanum menatap satu buah kuning indah dan hijau membuat dirinya ingin.
"Itu belimbing sama mangga ya bang?"
"Ya! tapi buat petis enaknya."
"Ada asem jawanya? Hanum mau deh bang!"
"Siap Nona Hanum."
Saat memilih milih, datang tiga ibu ibu ikut serta. Memilih dan juga pastinya ngerumpi. Tidak ada kata lain lagi, selain ghibah menceritakan tentang suaminya.
Lalu sorot mata ibu ibu dan abang sayur terlihat menatap sebuah pintu rumah. Sudah jelas Hanum ikut menoleh.
"Duh! Neng itu bukan suaminya ya? Kok ada perempuan lain. Manja banget lagi gelendotan?" menyenggol tangan sebelahnya.
"Hoooh!" jawab ibu satu lagi ghibah.
Hanum terdiam, ia menggaruk sedikit kepala tidak gatal. Mencari alasan yang tepat agar semua ibu ibu mengerti dan percaya.
"Oh! itukan adiknya suami. Maaf ya, emang semenjak menikah adiknya itu ga pernah mau ketinggalan sama suami. Sakin deketnya bu." jelas Hanum berusaha tidak gugup.
"Ibu ibu, terimakasih. Saya duluan ya! bang makasih." Hanum memberikan beberapa lembar uang merah pada tukang sayur. Tidak lupa kembalian Hanum tak pernah di ambil.
"Duh, lima orang kembaliannya empat puluh delapan ribu. Kalau banyakan bisa naik haji saya." Parman tukang sayur. Sementara ibu ibu hanya memanyunkan bibir kala tukang sayur menyindir.
"Kamu masak apa?" tanya Alfa menghampiri Hanum.
"Dia dari tadi juga gitu loh Darling! aku tanya dia malah ngomel ngomel gajelas. Sekarang kamu tanya diem aja kan?"
Praak! praak.
Suara pisau itu membuat Hanum berhenti memotong. Lalu mencodongkan pisau kewajah dua sejoli di depannya.
"Kalian sadar gak sih? apa letak salah kalian?"
"Apa, kita buat salah? Sejak semalam kamu dikamar aja. Apa kami buat salah?"
"Alfa! jika kamu tidak bisa menuruti permintaanku. Maka aku tidak peduli atas mama kita syok apapun. Aku sudah cukup kehilangan pria yang bijak. Papaku, dan jika aku harus kehilangan mamaku dan dirimu atau dibenci pun. Aku ga peduli, jadi jaga sikapmu untuk tidak bermesraan di depan rumah. Juga bercinta di ruang tv di saat ada aku!"
"Hahahaa, perjanjian omong kosong apa itu." cibir Alfa bertolak pinggang.
"Darling! dia cemburu, dia ga suka dengan kita yang .."
"Irene, apa semurah itu kamu mengobralnya. Jika kamu ingin menjadi istri Jhonson. Turuti permintaanku. Atau aku bilang sama ibu komplek tadi. Kalau kamu pelakor, bukankah itu cukup bagus. Bagus untuk menjatuhkan pria players dan wanita movie murahan?" ketus Hanum.
"Kau jangan macam macam ya Hanum! Menghancurkan reputasi seseorang?!" ketus Irene.
"Lalu aku bisa apa, two choices. Pilihan pertama jaga sikap! atau pilihan kedua aku ungkap semuanya."
Hanum tertawa pada wajah Irene dan Alfa yang terdiam. Mungkin saat ini dua sejoli kalah telak. Mereka terdiam dan saling menatap. Dengan begitu Hanum tidak lagi di perlakukan semena mena.
"Aku pikirkan! beri aku waktu beberapa jam Hanum." lirih Alfa pergi, mengejar Irene yang lebih dulu masuk kedalam kamar.
'Katanya artis movie. Gitu aja langsung ciut ngambek langsung nangis ke kamar.' gumam Hanum.
Hanum tersenyum, baru kali ini ia bisa membuat Alfa terdiam tak berkutik. Bahkan irene saja terdiam tak bisa menjawab. Ia kembali memotong buah belimbing dan mangga segar. Lalu berusaha mengulek sambel dengan sepuluh cabai.
TOOK! TOOK!
Suara pintu terketuk, Hanum menghentikan aksi memotongnya. Ia berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
BREUUUM!
Hanum terdiam, kala seseorang datang membuat tingkah Hanum gelagat tak karuan. Karna saat ini bukan hanya Hanum saja dengan Alfa dirumah.
~ To Be Continue ~
Sambil nunggu bab kelanjutannya Hanum Baca juga karya author.
- Story Halwa dan Zalwa
- Pernikahan kedua
- Dady Danzel
- Wanita Seperti Dia