BAD WIFE

BAD WIFE
PERCAYA AKU



"Han, tunggu Hanum, jangan pergi! aku mohon kita harus bicara."


"Hhhhhheuk! Ga ada yang perlu dibicarain Rico, aku lagi ga mau ketemu."


"Ga bisa, aku ga tenang. Ingat, pondasi satu hubungan itu percaya dan kejujuran. Jika aku punya salah, aku minta maaf. Kita obrolin hari ini juga, kita kelarin semua masalahnya." jelas Rico.


"Kamu pikir gampang jadi aku, kalau aku percaya dan kamu katakan iya. Jujur kamu itu buat aku sakit Rico. A-aku ga sanggup, lebih baik aku sendiri." isak tangis Hanum.


"Ya Rabb, ampuni aku yang sudah membuat air mata wanita menangis. Jika mamaku masih ada, aku akan merasa terpukul dan bersalah membuat anak wanita dari ayahnya sedih. Jujur sama aku ada apa? katakan semuanya!"


Rico saat itu berjalan benar melewati gang, benar saja itu adalah Hanum, ia berjalan pulang dengan berjalan kaki dengan beberapa kilometer. Karena butuh beberapa puluh menit untuk mencari taksi lewat.


Rico memaksa Hanum, ia menarik Hanum untuk ikut ke dalam mobilnya yang tak jauh dari lokasinya saat ini. Hanum yang menolak, tetap saja ikut kala Rico menggendongnya dan memaksa Hanum masuk ke dalam mobil.


Tlith! suara alarm mobil.


Rico masuk segera dan mengunci pintu mobil. Memberikan satu botol air minum untuk Hanum tenang.


"Ayo, minum dulu! atau kita cari tempat ibadah terdekat. Agar semua tenang, terus kita bicara Hanum."


Hanum hanya mengangguk, jujur saja ia masih amat sakit dan tidak tenang. Bicara dengan Rico saat ini, hanya ingin membuatnya marah tapi terpendam. Rico pun berjalan mencari tempat ibadah, memarkir dan menatap Hanum yang lebih dulu masuk ke dalam mesjid.


"Ampuni aku, beri aku kesabaran. Mungkin aku harus lebih sabar. Jika menghadapi wanita yang sedang marah."


Perkataan Rico, membuat ia membeli sebuah coklat dan bunga. Konon, saat nanti mereka bicara. Suasana akan tenang, dan mereka bisa bicara dari hati ke hati. Hal itu ia pernah dapati, dari sebuah buku konflik asmara. Meski tidak semua isi buku, membenarkan dan wanita menyukainya.


Hanum yang sedang menjalankan ibadah, lama ia berdzikir. Ia memohon diberikan petunjuk dan ketenangan hati. Jujur Hanum patah arah, jika ia benar benar mendapati kebenaran Rico, yang benar benar membuat khilaf. Hanum memohon untuk diberikan yang terbaik, diberikan kekuatan ekstra lebih sabar. Belum lagi undangan telah tersebar, semua acara telah beres, dari Wo, gedung dan catering.


"Ya rabb, jika mama tau. Aku ga mau kehilangan mama dengan kabar buruk ini, aku hanya ingin diriku sebagai wanita lemah ini. Diberikan kesabaran lebih jika dia adalah jodohku. Jika jodohku salah dan khilaf, beri aku petunjuk agar tidak menyakiti perasaan kami, dan hati sesama wanita, tanpa harus melukai hati sang mama yang tau juga kelak, jika aku sangat terluka."


Rico masih menatap Hanum yang lama berdoa, ia menunggu di lantai bawah. Lalu menatap pesan dari Nazim, jika ada seorang wanita yang mengaku dihamili olehnya.


"Ujian apa lagi ini, aku ga pernah hamili wanita lain. Hanum pasti salah paham, pantas tadi pagi dia terlihat berbeda menatapku." rutug Rico, mengusap wajahnya.


Setelah beberapa saat menunggu Hanum, Rico langsung menemui Hanum. Memberikan air mineral, lalu mengajak Hanum bicara di tempat aman.


"Sudah lebih baik, kita bicara ya?!"


"Udah cukup membaik, tapi jelas hati dan ucapan masih tidak singkron. Kita bicara di dalam mobil aja, aku ga suka kita bicara di tempat umum Ric. Takut pandangan orang lain menatap aneh."


Hanum sedikit tidak percaya, entah kenapa sikap Rico tidak mungkin melakukan hal itu. Tapi dengan jelas jika ingat wanita itu, rasanya ingin memaki dan berteriak pada Rico, tapi Hanum tak sampai hati. Entah kenapa Rico benar benar membuat dirinya tidak baik saat ini.


"Aku buka jendela mobilnya ya. Sekarang kamu bicara, aku sempat diberi tau Nazim. Soal wanita kemarin."


"Hoh! kamu sudah tau, apa sudah ada jawaban yang tepat buat mengalihkan, atau membela diri kamu Rico?"


"Ya ampun, Hanum. Bahkan Nazim gajelas kasih tau aku, dia minta aku kamu jujur semuanya. Hari ini juga kita kelarin, aku ga mau hal kecil kaya gini bisa jadi pemicu kita terus bertengkar Han."


"Hal kecil, kamu bilang ini hal kecil Rico?" sentag Hanum menatap Rico.


"Istighfar Hanum! ada kala kita emosi, luapkan semuanya agar kamu tenang. Aku ga mau, kelak istriku terlalu sakit ketika aku tidak peka. Aku harus mulai dari mana agar kamu percaya. Hah?"


"Paris? pertemuan kamu dengan Caty dan Meri yang kamu hamili."


Rico terdiam, ia menatap Hanum dengan melontarkan asma tuhan. Menarik nafas dan memegang pundak Hanum.


"Lihat mata aku Hanum! apa ada wajah dan mata yang kamu kenali, aku meeting dengan klien dan ada Caty. Tapi aku ga kenal Meri, setelah saat di sana selesai. Aku ga pernah tau apalagi kejadian setelah aku pergi, Meri wanita yang kamu sebut aku ga kenal. Caty juga langsung pergi setelah aku pergi." jelas Rico.


Hanum ingin sekali percaya, tapi tetap saja hatinya sangat sakit. Hingga dimana Rico menghubungi Erwin, meminta rekaman dan siapa saja orang yang datang, serta klien baru saat di paris.


Sementara Hanum, masih mendengarkan Rico bicara sesuatu hal pada Erwin. Entah harus percaya atau tidak, ia meneguk air mineral dan memuji asma tuhan.


"Dimana, apa? baik cegah dia sampai aku datang. Aku segera tiba Erwin!" perintah Rico membuat Hanum menatap.


"Kita selesaikan semuanya! aku tidak suka kita yang sebentar lagi akan menikah, tapi kamu ga percaya sama aku Han."


"Kamu mau aku percaya, yang jelas jelas wanita itu bicara itu adalah kamu. Aku wanita Rico, aku pernah ada di posisi yang sulit, kamu ga ngerti jadi aku." teriak Hanum naik satu oktaf.


Sreeeth! rem mendadak, lalu Rico menatap balik Hanum dengan mata merah dan menjatuhkan air mata.


"Aku juga mau kamu ngerti Hanum!!! aku mau kita selesain semuanya. Aku bersumpah, tidak menghamili wanita lain. Bisa kamu ikut denganku, please! percaya sama calon imam kamu yang sebentar lagi kita akan mengarungi rumah tangga. Apa setiap ada masalah, kita harus dengan hati dan isi kepala yang panas?" sentag Rico, membuat Hanum terdiam.


Lama Hanum terdiam, Rico masih menatapnya dengan dalam. Mengusap wajahnya berkali kali dengan wajah merah menahan air mata. Jujur ini pertama kalinya bagi Hanum melihat pria menangis di depannya.


"Ma-maaf Rico, aku takut. Aku ga terima sejujurnya, aku minta maaf dengan sikapku ini!"


Tbc