BAD WIFE

BAD WIFE
DI TAMPAR



"Berani beraninya kamu kemari? kau, kenapa bisa datang ke rumah ini. Haaah?" sentag Rico, membuat Adelia terdiam.


Ia kembali memakai kacamata hitam, guna menghindar dan ingin pergi.


"Adelia! Plaaak!" tamparan keras itu membuat Hanum menunduk.


Pasalnya ini pertamakali Hanum melihat mas Rico emosi, dan dengan begitu Hanum meminta mas Rico untuk menyudahi aksinya. Karena ia takut, Leo melihatnya. Bagaimana pun, Leo belum berangkat sekolah.


"Beginikah kakak kepada adiknya? apa pantas kakak menamparku, bagaimana bisa anakku dirawat oleh pria sekasar kak Rico?"


"Kau jangan mengambil alih, dan alibi. Jelas kau yang lancang kemari. Apa hal, kau bisa ke ruangan kerja rumah ini. Apalagi kamu bisa masuk ke rumah ini? Pengawaaal!!"


Teriakan Rico, membuat para asisten dan beberapa pengawal datang. Terlebih Erwin yang baru saja turun dari tangga, kala ia telah merapihkan Leo, bocah tujuh tahun lebih itu yang telah memakai seragam dan tas ranselnya.


"Mas, ayo sabar sedikit! Leo datang."


"Ssst! Hanum, kamu bawa Leo lewat arah lain, biarkan mas yang urus wanita ini."


Hanum tidak tega, jika reaksi mas Rico sangat marah besar. Ia bingung untuk membela, satu sisi ia juga takut jika Adelia akan berulah seperti dulu. Perusahaan market Marco ia ubah nama, dan ia jual. Apalagi aset rumah baru yang ia tinggali. Hanum juga bingung, kenapa Adelia bisa masuk ke dalam rumah seprivasi ini.


"Leo, sudah sarapan sayang? bunda antar ke depan ya."


"Bunda, aku dengar paman papa berteriak. Apa ada tamu mengesalkan?"


"Heeemh! ya, tapi bunda ga ingin kamu melihat aksi orang dewasa sayang. Kamu jangan sampai terlambat, bunda janji akan jemput kamu sekolah dengan adik adik. Gimana?"


"Ok. Bunda, mmmuuaccch!" senyum Leo, memeluk Hanum.


Adelia merasa sakit hati, ia sudah dibuang dari keluarga Mark. Ia juga kehilangan anak semata wayangnya. Rasanya sendiri dalam kesepiaan, hidupnya tidak tentu arah. Hal itu juga membuat Adelia terbakar kesal pada Hanum, yang telah merampas keluarganya dan anaknya juga.


"Kak, kembalikan Leo padaku! aku bisa merawatnya. Dan aku juga ada hak kan, market Marco itu banyak. Kakak ga berikan salah satu market untuk aku, pasti berikan juga pada Leo. Biar aku kelola, beri aku kesempatan kak!" memohon Adelia.


"Kau, dicoret dari keluarga Mark! apa kau tidak punya muka? aku yakin ada orang berkomplot kenapa bisa kamu masuk ke rumah ini! satu lagi, jangan injak rumah ini, injak market Marco dimanapun! apalagi tunjukan wajah kamu pada kami, mark tidak punya anak bernama Adelia. Kau hanya sampah yang tidak tahu diri, apa kau berkomplot dengan Alfa?"


"Kak! maafin aku, aku terdesak. Karena aku disuruh oleh seseorang. Kak aku minta maaf, jangan pisahkan aku dengan Leo, jangan buang aku kak! aku ingin seperti dulu, disayang papa dan kakak!"


"Benci dengan mulut manis kotormu itu! simpan dan bawa pergi! papa Mark sudah hampir tak bernyawa karenamu, kondisi kami setelah miskin, bangkit lagi dan kamu memohon. Tidak tahu diri, urusanmu bukan urusan kami. Pengawaaaal!!! bawa wanita ini, bereskan seluruh orang yang bekerjsama dengannya! siapa yang memberikan kunci, pastikan ia pergi ke kantor polisi saat ini juga tanpa barang barang di rumah ini!" teriak Rico.


"Baik pak." ujar pengawal, menarik paksa Adelia keluar dari pintu lain, tak lupa menutup mulutnya.


Rico menghela nafas, lalu ia kembali menyusul ke meja makan, dengan susana tak karuan. Hal itu membuat Hanum mendekat dan memberikan obat pada mas Rico.


"Mas ini minumnya! teh madu hangat. Mas jaga ego, jangan marah seperti tadi ya! Hanum ga mau kena darah tinggi lagi, ingat kata dokter Abigain!"


"Iy sayang. Makasih, untung saja kamu agak cepat temui dia, entah apa lagi. Mas bisa kehilangan kamu, anak anak mas ga ingin mereka merasakan tinggal dan kondisi yang tidak nyaman. Mas juga udah suruh Erwin, setelah antar Leo, ia urus segalanya ke kantor polisi. Mengamankan semua kunci rumah dan peraturan baru dirumah ini untuk diganti lebih ketat, termasuk asisten kita yang ceroboh dan membiarkan Adelia masuk."


"Iy mas. Udah ya! mas makan dulu, Hanum udah siapin." menyabarkan bahu Rico, Hanum takut dan cemas kala kesehatan mas Rico yang kembali drop.


***


KANTOR POLISI.


"Pak, saya mohon! jangan pecat saya!"


"Keputusan itu bukan pada saya, saya juga hanya tangan kanan sesuai perintah! jika bapak tidak bersekongkol, pak Rico pasti akan memberikan kesempatan. Tapi mungkin dengan suasana baru."


Erwin pergi meninggalkan kantor polisi, sementara Adelia ditahan. Hal itu juga membuat ia berpapasan dengan Jhoni di ruang parkir.


"Bisa bisanya Rico bawa istriku ke polisi?" sentag Jhoni.


"Maaf! semua perintah pak Rico, dan Adelia bersalah."


"Bilang pada Rico, tunggu saya! saya akan memberikan pelajaran. Adelia pasti terdesak, ia melakukan itu karena Alfa. Bukan keinginannya!"


"Paman, ayolah terbuka! tidak ada gunannya untuk menutupi kejahatan istri muda dan anak anda. Kejahatan harus di adili, dan dipertanggungjawabkan. Sudah berapa kerugian keluarga Mark, karena keluarga anda." ancam Erwin, lalu pergi.


'Dasar kaki tangan sok setia, siaa-alan kau. Kau akan tahu nanti akibatnya!' gerutu Jhoni Jhonson.


DI DALAM RUANGAN, TERLIHAT ALFA MENATAP TAJAM ADELIA.


Pertanyaannya itu hampir membuat Adelia darah tinggi.


Adelia membuka kacamata hitam dan maskernya, lalu duduk di hadapan Alfa. Dia menatap Alfa dengan kesal dan berkata,


“Katakan, kamu butuh berapa?” Alfa menyipitkan matanya.


“Berapa apanya?” Adelia tersenyum sinis.


“Kamu mengirimkan foto itu ke media dan menjadikan aku berita terpanas se Philadelphia, bukannya itu karena kamu butuh uang? dan kamu kembali mengambil surat, seolah kamu bekerja sama denganku. Hey! aku tidak terlibat, katakan bagaimana agar kamu pergi dari kehidupan papaku. Berapa yang kamu butuhkan? apakah Jhoni Jhonson memberikan kamu uang kurang setiap bulan?" sinis Alfa, yang tiba sebelum sang papa datang.


Alfa meletakkan pulpen di tangannya dan mengangguk. "Silaahkan, kamu butuh berapa?"


“Ya, aku tidak hanya menginginkan uangmu, tapi aku juga menginginkanmu. Bisakah kita bekerja sama, aku ingin Leo kembali. Dan aku punyak hak atas market Marco. Selama dua belas tahun aku juga ikut mendirikan. Aku benci dengan Hanum."


“Hahaha!” Alfa tidak bisa menahan tawanya.


“Adelia, apa kamu bermimpi?”


“Apakah aku bermimpi atau tidak wanita licik memberikanku penawaran....” Alfa berdiri dan berjalan mendekati Adelia, lalu berkata dengan suara rendah dan lembut,


“Coba kita lihat, bagaimana Adelia, aku akan membereskanmu sebelum papaku kembali! ingat aku bukan Alfa yang tidak tahu diri, masalahmu bukan masalahku. Masalahku adalah membawamu pergi dari sini ke rumah abadi dibawah tanah, akan aku beri perhitungan padamu setelah ini!"


Kalimat Alfa terdengar ambigu. Adelia menghela napas dengan kesal dan mengangkat tangan hendak memukul pria di hadapannya ini. Akan tetapi seorang polisi memberikan jaminan, pada Alfa. Lalu Alfa menarik paksa Adelia, pergi dari tempat itu melalui pintu lain.


"Jangan kasar!"


"Stop membual, jika kamu ingin mati." bisik Alfa, membuat Adelia mencari seseorang untuk menolongnya.


Tbc