BAD WIFE

BAD WIFE
KARMA IRENE



Hari ini Hanum berada di toko kue, tak jauh dari market Marco. Hanum berniat ingin membawakan makan siang suami, lalu membeli kue untuk di kirim ke rumah Lisa sebagai tanda maaf. Belum lagi buku terbuka semalam, membuat Hanum gagal menanyakan pada mas Rico.


"Sayang, ga apa kalau mas tinggal sebentar?"


"Ga apa mas, lagian Hanum juga menunggu mama. Mama katanya menuju kesini dengan taksi. Hanum langsung ke rumah Lisa ya mas."


"Iy, mas ijinkan sayang. Ingat, Lisa hanya salah paham. Jangan di ambil hati, dia bukan marah sama kamu. Ketakutan Lisa membuat cemburu berlebih, terlebih hormon kehamilan membuat Lisa sensitif, itu yang mas dengar saat di telepon Fawaz tadi menjelaskan."


"Begitu ya mas, padahal Hanum ga merasa seperti itu."


"Sayang, tiap kehamilan berbeda syantik. Ya udah, kamu hati hati ya! mas udah suruh supir menunggu kamu temanin."


"Ya mas, makasih." kecup Hanum di punggung tangan suaminya.


Saat beberapa menit Hanum menunggu, ia melihat seorang wanita dengan pakaian lusuh. Terlihat tidak jelas dari samping, yang Hanum pikir ia gelandangan yang tersesat dan lapar meminta makanan ke toko toko sekitarnya.


Bruugh!


"Maaf mbak, aku ga sengaja." ucapnya masih mode menunduk, rambutnya menutupi setengah wajahnya.


"Irene. Kamu benar Irene?" terkejut Hanum, menahan rasa bau.


"Ke-kenapa harus kamu yang aku temui, kamu Hanum secantik seperti ini. Mana boleh aku bertemu denganmu seperti ini." menunduk Irene, lalu menangis ketika melihat perut Hanum yang membulat.


'Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan uang itu. Aku harus mendapatkannya.' celoteh irene bagai orang linglung.


Irene bangkit pergi, berjalan sambil berpikir kalut di lorong cafe genik. Masih terngiang ucapan dokter yang menangani penyakitnya, dan berkata.


“Lima ratus juta. Itu biaya yang harus disiapkan untuk operasi kangkernya." benak Irene.


"Irene tunggu! jangan lari, apa yang sedang kamu hadapi, kamu bisa cerita sama aku!" teriak Hanum.


Kepala Irene kembali berdenyut, mendengar angkanya saja sudah membuat sesak dan terhimpit. Ia menoleh ke arah Hanum dengan mengatakan tidak boleh! aku malu pada wanita yang aku jahati! gelak tangisan histeris.


Tapi ke mana aku harus mencari uang sebanyak itu? Kalau memang ada caranya. Apa pun, apa pun akan aku lakukan! aku masih punya adikku yang kini berada di panti, lalu bagaimana aku bisa bertahan.


Hanum yang mendengar Irene bicara sendiri, membuatnya merasa iba dan kasihan. Ia yakin jika Irene sedang menghadapi masa sulit yang paling pahit dan tak ingin semua orang dapati, menghampiri hidupnya.


Irene menangis sepanjang koridor, melewati tempat ramai hingga sepi dengan isakkan yang terdengar sesenggukan. Irene benci menjadi dirinya yang tidak berdaya, Irene benci mengakui bahwa dirinya tidak mampu, dan Irene benci dengan keadaannya saat ini. Terlebih ia masih melihat Hanum yang mengikutinya, dan terlihat seorang pria yang menjaga Hanum.


"Bu Hanum, ibu sudah sangat jauh mengejarnya! ayo kembali, ibu nyonya sebentar lagi sampai!" ucap supir.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku merasa kenal dengannya, dan mau menolongnya bapak tunggu sebentar ya!" titah Hanum.


"Baiklah, saya akan menunggu bu Hanum sepuluh menit jika tidak, mau tidak mau saya laporkan pada pak Rico. Mohon maaf bu, sebab ini perintah pak Rico. Mohon mengerti tugas saya selain mengantar ibu!"


Hah! ya benar, Rico itu membayar seorang intel untuk menjaga istrinya kemanapun berada. Meski tidak setiap hari Hanum pergi ke luar rumah agar jenuh melanda hilang. Mau tidak mau Hanum mengangguk, karena ia juga kasihan pada pria yang sedang bertugas apalagi jika itu perintah Rico, yang Hanum kasihani adalah yang bekerja pada suaminya pasti mempunyai keluarga.


Derasnya tangisannya membuat Hanum itu tidak memerhatikan sekitar, hingga dia tidak sadar bahwa dari arah berlawanan ada seseorang yang juga berjalan sejalur dengannya. Celakanya, laki laki itu sibuk dengan layar handphone di tangan, hingga tanpa bisa dicegah keduanya bertabrakan cukup keras.


"Jangan beritahu Rico. Biar saya nanti yang jelaskan. Tadi saya juga yang salah tidak melihat!" ungkap Hanum.


“Ok." lirih pria itu dan kembali pergi, sementara Hanum mendekat ke arah Irene.


Hanum melanjutkan langkahnya, sama sekali tidak menoleh lagi ke belakang meski laki laki yang ditabraknya tadi menyaksikan punggungnya yang berlalu menjauh. Pria itu penasaran, apa yang membuat wanita hamil itu mendekat ke arah wanita gelandangan?


Hahh, terus melangkah, melarikan diri menuju kursi taman yang saat ini telah berada di pelupuk mata. Secara kebetulan, Hanum menemukan Irene dan seorang dokter yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, karena ia teman baik Lisa. Tak sengaja juga menunggunya di tempat itu.


"Dr Cathy. Anda kenapa di sini?"


"Loh, bu Hanum. Kebetulan sekali, ini dia .. nanti saat bu Hanum konsultasi mampir ke ruangan saya ya! banyak yang saya tahu, dan cerita sedikit." ujarnya.


"Baiklah."


Supir sudah meminta bu Hanum untuk segera pergi, karena saat ini Hanum mengejar Irene sudah sangat jauh, jauh dari parkir mobilnya saat ini yang berada di depan toko kue genik.


"Bu Hanum, jangan pergi lagi. Jika dia berlari, saya harap bu Hanum tidak pergi mengejarnya. Saya akan membawa mobil, dan bu Hanum tunggu di sini! saya tidak lama memutar jalan."


"Ya, baiklah. Jemput mama saya juga ya, bu Rita udah sampai. Salamin permintaan maaf, gara gara ini aku lupa sedang bertemu dengan mama."


"Baik bu."


Minuman kemasan bervarian rasa jeruk itu disodorkan Hanum pada Irene yang lantas duduk termenung di kursi taman sejak kedatangannya. Wajahnya terlihat kacau dengan bekas bekas air mata, pun tampak pada kelopak matanya yang bengkak karena menguras banyak cairan dari sana.


Irene mendongak, menatap sedih sosok yang menghampirinya, meski setelahnya ia beralih pada minuman kemasan yang Hanum sodorkan. Irene terlihat enggan, tapi toh Hanum memaksa untuk ia menerima pemberian itu, meletakannya dalam pangkuan dan mencengkeramnya erat di sana.


“Kamu butuh bantuan apa, ceritalah! mungkin aku bisa membantumu Irene!"


"Tidak, Hanum. Aku malu, malu jahatnya aku padamu. Mungkin ini karma diriku, hidupku bagai pengemis tanpa arah. Bagaimana bisa aku menerima dan meminta tolong padamu!"


"Ren, aku sudah memaafkan kamu. Itu sudah berlalu, ikutlah denganku!"


"Enggak, jangan paksa aku untuk ikut denganmu Hanum, kamu terlalu baik. Aku punya penyakit ganas, yang mungkin saja bisa tertular. Aku positif hiv, aku kangker rahim. Harus segera di operasi dan mungkin akan mati. Huhuhu." tangis Irene pecah.


Hanum berdiri, ia merasa tertekan hatinya sakit, melihat penderitaan Irene saat ini. Hanya karena mereka sama sama seorang wanita.


'Apa yang harus aku lakukan?'


"Nyonya Hanum, menjauhlah!" ujar seseorang yang membuat tatapan Hanum bulat terkejut.


Tbc.


Masih ada lanjutan bab berikutnya ya! masih proses reveiw.


Sambil nunggu kelanjutan Hanum, mampir novel temen litersi Author juga nih! yuks mampir cuss kepoin.