BAD WIFE

BAD WIFE
MADUNYA



Setelah usg dengan bi inah. Lisa menahan sesak ketika benar Sinta mendapatkan tempat tinggal Nestia. Benar saja, itu adalah mas Fawaz.


Air mata Lisa tumpah, meski ia sembunyikan kala bi Inah bertanya. Tapi Lisa tetap senyum, berusaha menutupi apa yang terjadi.


"Non, bibi maaf ikut campur. Kalau bibi minta ijin pulang kampung sehari, boleh gak?"


"Bi inah mau kemana? ga betah, ada yang sakit?"


"Ga kok non, kemarin nyonya besar hubungi bibi. Maaf ya non, bibi bilang apa adanya kalau den Fawaz sudah jarang pulang dan perhatian ke non Lisa. Bibi minta maaf ikut campur, habis nyonya besar maksa."


"Maksud bi Inah, mama Felicia. Aaah, pantas panggilan dari tadi, tapi Lisa ga berani angkat. Lisa bingung bi buat kasih kejelasan sama mama. Belum lagi bu Riris masih dalam perawatan rumah sakit."


"Bi inah jangan pergi, kalau mau ada apa apa. Saudara atau ada keperluan, datang aja ke sini. Jangan bibi yang pulang kampung."


"Bibi punya kenalan keponakan dari pak Soe, suka ruqiah dan yang agak pinter gitu non kalau di kampung mah. Yang jelas bukan dukun, kali aja den Fawaz kena guna guna."


"Aduh, kok bibi mistis gitu sih. Ya udah, bibi langsung pulang aja ya. Lisa mau turun disini, Sinta udah nungguin. Lisa mau ada kerjaan kontrak baru."


"Non ga percaya ya, bibi mau ngenalin orang pinter."


"Iy, Lisa ga percaya gitu gituan bi, tahayul."


"Iy udah non, baik baik. Jangan capek capek ya!"


"Iy bi, kan bentar lagi juga Lisa cuti." senyumnya.


***


Kantor Be.


Tak sengaja, Lisa berpapasan dengan Nestia yang baru saja ia lihat dari foto di ponselnya. Sinta menyabarkan agar Lisa tidak terpancing emosi, sampai waktu tiba. Apalagi Lisa belum melihat mas Fawaz.


Lisa masih terdiam. Setelah beberapa saat meeting selesai, ia segera berlalu dan menepi di lantai ruangan berkas samping toilet. Hal yang paling ia benci adalah di buntuti.


Lisa ingin sekali menampar wanita yang telah membuat Fawaz lupa. Hingga berbalik badan dan menatap Nestia. Ya, tinggi mereka tidaklah jauh. Hanya saja, polesan Nestia lebih nyentrik dan terlihat anggun.


"Kamu ikutin aku?"


"Hey, aku mana mungkin mau ikutin kamu. Hanya memastikan saja, apa benar kamu adalah wanita yang dianggap istrinya. Eh, tapi bukan istrinya sih lebih tepat mantan istrinya."


Lisa kembali menahan, benar wanita di depannya ini sudah tidak tau malu. Terang terangan ia tahu suami siapa yang ia rebut, dan anehnya ia mendekati. Jika saja bukan di area kantor, mungkin Lisa sudah menampar wanita di depannya.


"Nestia. Aku tau kamu benci denganku. Kamu ga bisa melupakan suami orang untuk meninggalkanmu. Jujur aku gak pernah tau, jika mas Fawaz mempunyai kekasih. Kamu salah jika terus menerus mengangguku. Dan kamu salah, jika kamu terus damai dengan milik orang lain."


"Wuuuah, rupanya kamu istri cerdas. Sudah tau aku siapa, ingat ya. Kebetulan karena kamu sudah tau. Aku mau bilang, kenalkan aku Nestia istri baru Fawaz. Setelah ini bahkan aku bakal di resmikan." senyum tanpa dosa.


"Apa, kamu istrinya mas Fawaz. Kamu udah nikah secara siri, begitu?" menahan sakit Lisa, dengan helaan nafas.


"Haaaah .. omong kosong. Kamu adalah wanita lugu yang kesekian kalinya aku lihat Lisa. Aku ga percaya jika kamu benar benar tidak tau."


"Aku sudah jelaskan padamu Nestia. Jujur aku mengagumi mas Fawaz hingga jatuh cinta padanya. Tapi aku bodoh, sudah seharusnya melupakannya. Aku benci pria yang meninggalkan seorang ibu hanya demi wanita model picik sepertimu,"


Lisa pergi berbalik arah. Nestia menepis tangannya.


"Jangan bicara sembarangan Lisa. Apa kamu pikir hidupmu akan tenang saat ini. HAAAH ... ?"


Lisa membenarkan posisinya. Hal itu pun membuat Nestia kesal dan ingin mengambil sebuah batang dari besi, bekas alat pel yang tak terpakai. Hingga Nestia mengambilnya dan ingin memukul kepala Lisa.


"Hey..." teriak Sinta.


Nestia tidak jadi, ia langsung pergi begitu teman Lisa datang. Lisa yang menoleh kebingungan kala alat pel sudah dijatuhkan wanita itu.


"Lis, lo ga apa apa?"


"Gak apa apa, suami gue dia bilang, dia bilang dia udah nikah siri. Sin, gue harus gimana. Sakit banget rasanya. Jauh saat gue dulu putus cinta."


"Sabar ya Lis, gue yakin lo kuat kok."


Sinta dan Lisa duduk di resto, setelah ingin pulang. Tapi ia melihat layar ponselnya dari mas Fawaz. Lisa mengirim pesan kembali, jika dirinya berada di resto dekat butik kembar.


Ddddreeth ... Ponsel Lisa berdering.


"Gue tunggu di meja itu ya Lis, gue ga mau lo kenapa kenapa."


"Thanks Sin."


Lisa mendapat balas pesan dari Fawaz. Ia begitu tersenyum saat Fawaz membalasnya. Ia pun segera menunggunya.


'Mas. Kenapa saat kita akan berpisah. Kamu cepat tak mengabaikan aku. Biasanya aku mendapat balas pesanmu. Tidak terhitung, hanya satu atau dua pesan. Jauh lebih cepat bukan itungan hari atau minggu.'


Lisa menempelkan ponselnya. Pesan yang membuat ia hanyut senang. Ia tempelkan di hatinya, sebuah rasa bahagia. Ini pertama kalinya Lisa merasa tak di abaikan, meski konyol. Itu cukup membuat Lisa bahagia.


"Duduklah Lisa. Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Bisakah kita memesan dulu, mas."


"Lisa. Komitmen dan sadarlah. Kita bukan lagi pasangan. Kamu lupa aku telah .."


"Ya. Mas, kamu telah menalak aku, tapi kamu harus tau, percerain kita di tunda sampai aku melahirkan dan masa nifas. Jadi aku harus apa, aku hanya terkejut karena balasan kasih sayangmu seperti ini. Kamu pertama kalinya membuat aku tak di abaikan, saat ini."


Perkataan Lisa membuat Fawaz menatap Lisa. Fawaz menatap dengan dalam, wajah yang merah terlihat mengembang menahan air mata itu tumpah. Ia begitu melihat sisi kecantikan Lisa yang tak pernah ia tau. Atau ia saja yang bodoh, ia bodoh karena menatapnya dalam kali ini.


'Kenapa aku bisa menceraikan wanita di depanku ini, bahkan aku masih bingung kenapa dan ada masalah apa. Bahkan aku ga ingat pernah menikah dengan wanita bernama Lisa. Sebenarnya siapa yang harus aku percaya. Kenapa hatiku ikut sakit jika wanita di depanku ini menangis.' batin Fawaz.


"Lalu. Apa yang ingin kamu katakan. Lisa?"


"Mas. Aku tau tak ada sedikitpun rasa cinta padamu untuk aku saat ini. Aku mendapat peringatan, dan kamu tau. Aku bodoh jika aku mengira kamu benar baik dan gila kerja. Jika aku tau dari awal, kita tak seharusnya menikah. Harusnya kamu lebih peka, apa arti pernikahan kita selama beberapa tahun, kamu sulit mendapatkan aku. Tapi aku luluh, kamu seolah membalasnya untuk menjauh."


"Lisa, apa maksudmu. Kenapa kita sudah menikah selama beberapa tahun. Aku ga ingat."


"Hoah, ga ingat. Jelas karena ada istri baru kan. Tenang saja mas, aku tidak akan mengadukan kamu. Bahkan aku tidak akan menggugat kamu karena diam diam menikah lagi. Tapi aku pastikan, aku dan bayi ini akan bahagia tanpamu."


Lisa pergi, mengambil tas. Lalu Sinta yang senyum meraih tangan Lisa untuk berjalan hati hati. Sinta menyabarkan Lisa yang saat ini terus saja menangis.


"Kamu pasti kuat Lis." sedih Sinta.


Tbc.