BAD WIFE

BAD WIFE
AKHIRNYA BERTEMU



'Kita pernah ada, kita pernah bersama sama. Hingga akhirnya kita saling melukai satu sama lain, tapi sialnya rasa sayangku lebih besar dari pada rasa sakitku.'


Hanum yang tau Fawaz mengenalinya dari jarak lima meter, ia segera melangkah pergi, menutup mata dengan kacamata topeng. Rico yang masih terbawa senang, kala ulat jambu di acara pernikahan tidak mendekatnya. Ia menoleh dan melihat Hanum mengalir air mata.


'Hanum, kamu benar masih selamat. Apa aku salah melihatmu atau hanya ilusi?' benak Fawaz.


Lisa segera berhenti, menggapai tangan Fawaz untuk masuk kedalam ruangan selanjutnya. Fawaz pun kembali melangkah, ia berfikir jika itu hanya mirip Hanum. Dan jika itu benar Hanum, ia juga tidak mungkin membuat masalah baru, karna dalam acara itu masih ada Alfa.


'Rico, aku akan mengunjunginya. Apa wanita itu benar Hanum?' batin Fawaz mengekor langkah Lisa.


"Tunggu! kamu menangis kenapa?" tanya Rico.


"Ak-aku. Tidak penting, bukankah setelah berada di parkiran kita harus bersikap biasa saja pak. Aturan dan batasan, terlebih intern saya dan bapak tidak perlu tau!"


Ya perkataan Hanum benar, Rico bukan tipe pria pemaksa. Hingga berlalu ia segera menyalakan mesin mobil dan ingin pergi. Sementara Hanum masih melihat arah jendela, terlihat Lisa naik dengan dibukakan pintu oleh Fawaz.


Hanum senyum, ia tau jika tadi Fawaz mengenalinya. Meski rasa takutnya kali ini tak bertemu Alfa dan kedua orangtuanya. Hanum ingin sekali melihat berita, kemana Irene dan kenapa tak mendampingi Alfa. Benar saja, Hanum terkejut kala berita Irene telah hengkang dari dunia entertain dengan mendadak dalam info isi berita sebuah situs.


'Mustahil, secepat itu kah?' batin Hanum.


"Ada apa?” Rico membuka pintu mobil, dengan wajah sudah menjelma menjadi buruk rupa.


"Aku tidak apa apa."


Rico mengerenyitkan kulit dahinya dengan mata menyipit, heran melihat penampakan gadis di hadapannya.


“Kembali ke asal,” cibirnya. “Tetap di sini dan jangan pernah mencoba kabur! aku ingin mengambil sesuatu yang tertinggal!" titah Rico kembali masuk ke gedung acara.


Hanum mengejarnya. “Kamu mau ke mana? Aku ikut saja boleh!"


Hal itu karna Hanum takut bertemu dengan Alfa secara mendadak. Tapi Rico yang aneh, ia segera mengangguk. Hingga dimana langkah Rico menyapa Fawaz juga memanggil Alfa.


Tubuh Hanum terdiam, benar saja ia harusnya sudah jujur lebih dulu pada Rico. Tapi Hanum berusaha tidak nervous. Tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun.


"Ric, sudah lama kita tidak bertemu." adu jotos Fawaz dan Rico.


Ibu Rico dan Fawaz adalah kakak beradik. Hanya saja, Fawaz lebih dulu kehilangan sang papa. Sementara Rico kehilangan sang ibu setelah lulus kuliah di negeri sebrang, karna sakit keras.


"Sudah lama kita tak pernah bertemu?" sindir Rico.


"Karna dirimu juga sibuk mengembangkan market. Sementara aku, tidak jauh soal pasein." gelak tawa.


Fawaz saling bercerita, sementara Lisa mengenalkam dirinya dengan mengulurkan tangan. Hal itu membuat Hanum tak ingin di kenali saat itu juga.


"Eheuuum! Eheeeum. Uhuuuk! Uhuuuk."


Hanum mengisyaratkan dirinya sakit tenggorokan, belum lagi rasa gatal mendadak. Rico yang paham, ia segera mengejar Hanum. Kala Hanum meminta maaf dengan kode tangan dan tunjuk jempol ke arah toilet.


"Dia asisten baruku. Tapi tunggu sebentar ya! saya lihat dia." jelas Rico yang pamit.


Tak lama Alfa menahan Rico, ia berteriak dan menarik pundak Rico, karna sudah lama tak berjumpa.


"Baik. Tapi aku harus menjemputnya, dia sedang tidak baik. Kalian lebih dulu ke acara dance. Aku akan memperkenalkannya pada kalian!" dengan sombongnya Rico berlaga.


Alfa dan Lisa saling menatap, lalu pergi dari tempat itu ke ruangan berbeda. Yakni resepsi potong kue dan sedikit dansa oleh pengantin dan para tamu yang datang.


Rico menarik tangan Hanum, ia melepaskan topeng yang dikenakan Hanum dengan kilat.


"Auuuwh."


"Topeng ini terlalu merah bagi wajahmu, tidak baik untuk pernapasan! ikut denganku, aku ingin mengenalkanmu dengan mereka!"


Haah! "Pak Rico, saya mohon jangan! saya tidak ingin menemui mereka saat ini. Saya minta maaf, pekerjaan misi saya saat ini tidak berjalan dengan lancar."


"Jelaskan, sejak awal kita berjalan ke tempat mempelai wanita. Gelagat mu aneh, kamu sedang menghindar dari siapa. Ada yang kamu kenal selain aku di sini?" cecar Rico.


"Saya akan menjelaskannya. Tapi tidak di sini pak! saya minta maaf."


Rico mengerti, ia menarik tangan Hanum kedalam mobil. Mematikan ponselnya serta menutup rapat segala kaca, hingga Hanum terdiam bingung.


"Hanya ada kita berdua." lirih Rico.


"Maksud bapak?" bingung Hanum menoleh.


"Kamu ingin katakan sesuatu padaku kan? aku tidak suka seorang karyawan mempunyai masalah berat sendiri. Aku ikhlas membantumu!"


Hanum hampir saja traveling, apalagi saat ini kancing baju Rico terlepas dua kait. Hal itu terbuka membuat mata Hanum membuang wajah sejak ingin menjelaskan. Apalagi posisi mereka di jok belakang dan saling berhadapan.


"Kenapa diam? kamu tipe ingkar janji ya. Kita sudah berdua, tunggu apa lagi. Ayo cepat katakan padaku!"


"Pak, kancing bapak membuat mata saya sakit. Bagaimana bisa saya mau bicara? apa saya bicara terus terang dengan memberi punggung?" jelas Hanum.


Rico menutup mata, ia segera merapihkan pakaian dan berkata. "Sudah beres."


Hanum menghela nafas, ia mau tidak mau harus jujur. Dan menjaga jarak, mungkin pak Rico akan berlalu tidak membedakan dirinya dengan karyawan lain, setelah ia mengatakan semuanya.


"Sejujurnya saya tidak tau, jika Fawaz masih satu keluarga dengan pak Rico. Hubungan kami baik, bahkan hampir mempunyai impian bersama. Tapi sayangnya saya menikah karna perjodohan, dan karna sebuah kecelakaan hingga kami telah berpisah."


"Apa, jadi kamu sudah pernah menikah?" terkejut Rico.


"Ya pak! bahkan saya berusaha menghindar darinya juga dari Fawaz. Saya tidak ingin muncul di hadapan dua pria yang sangat dekat hubungan kami, hingga saat ini saya memilih sendiri. Sebelum kecelakaan saat itu, saya berniat ke singapore atau perancis tempat teman saya. Tapi semuanya berkhendak lain." jelas Hanum.


Lontaran itu membuat Rico terdiam, ia masih mencerna kejujuran Hanum yang artinya kecelakaan dan juga mempunyai impian bersama Fawaz. Hatinya seolah patah dan berduri, lagi lagi harapan palsu menerpa.


"Cinta adalah karunia Tuhan kepada jiwa jiwa yang peka dan agung. Haruskah kita campakkan kekayaan yang kita rasakan ini?" lirih Rico.


Hanum terdiam, menatap wajah Rico yang meneduhkan saat ini. "Apa maksud pak Rico?" tanya Hanum.


"Dunia begitu penuh keajaiban dan keindahan. Lalu mengapa kita hidup dalam terowongan sempit yang digali untuk kita. Hidup penuh dengan kebahagiaan dan kebebasan, mengapa kamu tetap membiarkan belenggu di pundak dan kamu patahkan rantai yang menjerat kakimu, lalu berjalan bebas menuju kedamaian?" tanya Rico menatap Hanum.


~ **Bersambung** ~