
"Kau malu, melihatku jijik seperti itu?" lirih Alfa melewati tubuh Hanum yang berdiri tak jauh.
"Kamu sangat mejijikan Alfa. Kau akan menyesal, wanita tidak pantas kau lakukan seperti tadi. Dan aku adalah istrimu, jangan! harusnya kau jangan lakukan itu di depanku." jelas Hanum.
"Apa yang akan kau lakukan? jika tubuhmu tidak gempal. Jika seksi seperti mereka, aku akan bersujud simpuh. Tidak akan bermain wanita seperti tadi. Asal kau bisa melayaniku puas, bagaimana. Kau sanggup?" cetus Alfa.
Hanum hanya menggeleng, ia hanya memutar otak. Bagaimana bisa merubah membuat Alfa jadi pria normal, ia bukan perhatiaan pada Alfa. Tapi sebagai wanita, ia lelah di buly akan fisik. Juga takut jika Alfa terkena penyakit kelamin. Satu satunya, Hanum benar benar ingin sekali cepat proses merubah penampilannya, agar Alfa sadar. Setelah itu, ia bisa pergi melanjutkan seperti biasa kebiasaannya.
Hanum merasa tak berdaya, ia masih terisak dan menatap cermin kecil dari dalam tasnya. Sehingga ia menatap wajah yang memang benar, akan membuat pria menjijikan melihatnya.
Tak lama Alfa datang, ia segera tersenyum miring menatap Hanum yang menyumputkan kesedihannya.
"Kenapa, kau menangis melihatku tadi?"
"Tidak! untuk apa. Alfa kenapa kau tidak menolak? Kau bisa mengatakan pada orang tuamu kalau kau tidak mencintaiku! Jika kau menikah dan terang terangan seperti tadi, itu sangat .." Hanum bertanya namun di potong.
"Aku tidak ada niat seperti itu! Tapi harusnya kau sadar, kebiasanku seperti ini. Bukankah kau juga di untungkan?"
'Di untungkan?' Hingga Hanum menyerang lagi yang membuat Alfa menatapnya dan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Hanya itu yang dilakukan Alfa tanpa bicara apapun, lalu membuang wajahnya ke arah jendela.
"Mamaku!"
Lirih Alfa mengambil Penfolds Ampoule dan ingin kembali keluar. Hal itu membuat Hanum bingung, botol apa itu yang di keluarkan dari dalam koper emas miliknya.
Alfa lalu menatap Hanum, saat dia bertemu denganmu, mamaku sepertinya sangat menyukaimu, aku bisa membedakan dari cara dia bicara dan cara dia berharap dengan kata katanya. Kalau bukan karena memandang dirinya, aku tidak akan mau menikah denganmu! Apa kau tidak sadar, bagaimana bentuk wajah dan fisikmu.
"Mamamu?" Hanum mengulang pernyataan Alfa dan pria itu pun mengangguk. Jelas tidak ada kebohongan di wajah Alfa. Dia bicara apa adanya tentang perasaannya.
"Satu satunya yang tidak mau aku sakiti adalah mamaku! Dia sepertinya ingin sekali aku menikah denganmu! Karena itu aku penuhi keinginannya! tapi jangan harap kita bisa bersama seperti kesalahanku menyentuhmu!Jadi kita cukup dengan rutinitas masing masing, dan kita berlaku baik ketika mereka datang!" jelas Alfa dan kembali keluar untuk bersenang senang.
Sementara masih dalam awak pesawat, Hanum tak bergerak di tempat. Bahkan ia menahan rasa ingin ketoilet karna tak ingin melewati ruangan dimana Alfa dengan pramugari tadi. Hanum masih ingat setelah mereka dari butik. Satu hari mereka membuat perjanjian bersama Alfa untuk menikah dan menyetujui perjodohan orang tua mereka.
FLASHBACK.
"Sudah begini saja, kita buat perjanjian bagaimana?" Alfa sudah malas ditanya tanya lagi oleh Hanum sehingga dia menatap serius pada Hanum dan mencoba membicarakan tentang hubungan mereka sekarang.
"Tapi kau mengizinkanku untuk kuliah kan?"
Alfa mengangguk, "selama kau tidak membuat ulah dan biar aku yang mencari tempat kuliahnya!"
"Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu!" Hanum sudah tersenyum senang, karna ia masih terlalu polos atau sedikit bodoh.
"Aku setuju kau mencarikan aku tempat kuliah!"
"Baguslah."
"Tapi sekarang kita mau ke mana?"
Sudah beberapa detik berlalu tapi Hanum belum mengutarakan apa yang ingin dikatakannya, sehingga Alfa terpaksa bicara lagi.
"Ehm ... sabarlah sedikit, Alfa! Aku juga kan harus berpikir dulu pertanyaan apa yang ingin aku tanyakan padamu. Karena banyak sekali pertanyaan di kepalaku dan aku hanya boleh memilih satu!"
"Dasar bodoh! Sepertinya kau lahir dengan otak hanya setengah ya?"
Kata kata yang membuat Hanum melotot menatap Alfa.
"Kenapa sih kau sembarangan saja bicara! Tidak bisakah kau tidak menghina sedikit saja?"
"Aku hitung sampai tiga, kalau kau tidak mau memberikan pertanyaan, aku akan meninggalkanmu tidur. Resepsi esok pasti akan melelahkan!" ocehnya.
Alfa mulai mengancam dan, "satu!"
"Eh iya iya! Aku bertanya sekarang! Apa kau sudah memiliki kekasih? Dan apakah suatu saat nanti kau akan menikah dengan kekasihmu? Andaikan saat itu terjadi, apa kita akan bercerai?"
Kata-kata Hanum yang membuat Alfa diam sejenak, pikirannya berlarian memikirkan kata kekasih. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh dirinya sendiri, tapi ucapan Hanum itu sungguh mengganjal di hatinya.
"Jadi benar yang aku tanyakan? Kau sudah punya kekasih bukan?"
"Gendut! Aku pertegas padamu ya!" ucap Alfa, sebelum dia masuk ke pernyataan intinya,
"Kalaupun aku punya kekasih dan aku mencintai seorang wanita, bukan berarti aku akan menceraikanmu! dan bukan juga aku bertahan karna cinta denganmu. Sadar diri Gendut!!"
Gleuk!
"Eeeh, apa maksudmu? Kau mau memaduku?" tanya Hanum tapi di tinggal begitu saja. Alfa tak menjawab pertanyaan Hanum.
Hanum semakin sesak, meski fisiknya terlihat tak enak. Ia akhirnya membaca pesan yang belum sempat ia baca, tapi masih dalam mode pesawat sebelum awak pesawat terbang. Hanum mencari sebuah facial di situs. Bahkan bertanya pada Lisa kakaknya yang seorang selebgram. Apakah ada herbal diet, atau sejenis facial agar jerawat kecil yang membludak di wajahnya itu tersingkirkan. Tapi apa daya, perlengkapan yang Hanum tanyakan di tolak mentah mentah oleh sang kakak.
Bagi Lisa, Hanum tidak perlu mencoba coba yang akan merusak dirinya kelak. Hingga Hanum menghela nafas, lalu ia teringat mbak Nazim.
"Sedang apa kau?" ketus Alfa, yang baru saja membawa sebotol minuman mahal.
Hanum terkejut, lalu menjatuhkan ponselnya. Sementara Alfa mengambil ponsel Hanum dan melihat tulisan apa yang ada di layar ponsel Hanum. Dengan cibiran membuat hati Hanum kembali sakit.
"Hah! Diet, facial apapun. Bahkan kau sedot lemak sekalipun tidak akan merubah dirimu jadi bidadari. Sekali gendut dan jelek, akan tetap seperti itu. Kau ingin merubah tampilanmu untuk siapa? Untukku?!"
"Jangan mimpii .. !!" cetus Alfa membuat mata Hanum memerah.
Lagi lagi pria yang telah menjadi suaminya, membuat dirinya terpukul dan kembali menghinanya. Namun tak lama Hanum yang akan beranjak ke toilet. Ia segera melewati Alfa yang masih mencibir, tapi menjatuhkan sebuah koper dan isinya keluar. Hal itu pun membuat Hanum terkejut akan sebuah foto yang mungkin Alfa juga ikut kaget, berusaha agar Hanum tak melihatnya.
"Gendut, Jangan sentuh itu!"
To Be Continue!!