
"Opah." lirih suara anak kecil.
Hanum ikut berdiri dan menghampiri. Ia segera memeluk anak kecil itu, setelah Mark memeluk dan menciumnya. Ia datang dengan seorang nenek.
"Sayang, ada apa ini?" lirih Hanum, menatap raut wajah Lion.
"Tante, apakah mamaku orang jahat. Kenapa teman teman sekolahku bicara mamaku sedang bekerja dengan menggunakan pakaian oren. Kejahatan apa tante, Opa tolong kasih tau Lion, di mana mama?"
Rico dan Hanum menatap sedih, jika perbuatannya menjebloskan Adelia, ada hati anak kecil yang tersakiti.
"Tidak benar sayang, mama hanya sedang berlibur. Siapa yang bicara, nanti tante temui ya. Tante jelasin, jika mama sedang berlibur tugas negara."
"Aku ga mau sekolah, aku mau sekolah baru aja. Huhuhu." isak tangis Lion, bocah kecil berusia lima tahun.
Hanum mengajak Lion jauh dari ruang tamu, ia mengajaknya ke kamar untuk menghibur. Sementara Rico dan Mark. Ia segera berbincang banyak hal. Dan mempersilahkan bibi Dena, apa yang terjadi.
"Kenapa Lion seperti tadi? bukankah kami mengirimnya ke negara lain. Jauh dari isu mamanya?"
"Maafkan saya! tapi seseorang memberitau, dan isu bu Adel santer hingga kepala sekolah."
Mendengar hal itu, Mark menghela nafas. Ia segera meminta Rico melakukan sesuatu. Sehingga keputusan mencari sekolah baru adalah yang terbaik. Tapi Rico meminta sang papa untuk tidak salah keputusan, jika menghindar adalah contoh Lion menjadi pria pecundang kelak.
"Biar Rico tangani pah! besok Rico akan kesekolah Lion." ucapnya, dan Mark mengangguk.
Tak lama Erwin datang, ia baru saja tiba dan akan menemui Mark. Rico yang mendeheum, ia segera pamit untuk menemui Hanum.
"Pah, Rico temui Hanum dan Lion dulu!"
"Ya, silahkan."
Erwin di persilahkan duduk karena Mark ingin bicara serius. Begitu terkejut Erwin kala melihat bibi Dena. Ia adalah kakak dari ibu kandung Adelia, yang sering di panggil bibi.
“Bibi Dena maaf, saya tidak sadar bu Dena ada disini." sapa Erwin hormat.
"Jangan sedih dulu, saya memanggil Erwin sekaligus kebetulan, jika bi Dena hadir saat ini."
"Memang ada kasus terbaru untuk Adelia, maaf jika saya lancang. Saya minta maaf, karena gagal mendidik Adelia." lirih bibi Dena.
"Kasus terbaru, masih sama. Hanya saja Hanum akan mencabut gugatan untuk Adelia. Hanum menantuku itu ingin berdamai, semoga Adelia bisa menjaga nama baik dan sikapnya."
"Lantas kabar apalagi pak?" tanya bi Dena.
“Adelia,” ucap Erwin, menyebutkan namanya. Setelah mendapat kode dari Mark.
Erwin mengangguk. “Bi Dena, Jujur saya sangat bangga melihat cinta kasih bibi yang begitu kuat, saya merasa malu dengan apa yang sudah dilakukan nya karena cemburu pada keluarga Mark. Saya sangat menyesal,” lirihnya.
Erwin mengangguk. Ia menatap bibi Dena juga menatapnya. Erwin mencari tahu drama seperti apa lagi yang sedang dilakukan Adelia itu, ia berusaha menikahinya selain dasar cinta. Juga kasih sayang tulus, agar Adelia menjadi wanita baik.
“Maaf sebelumnya, mungkin ini terdengar mengada ngada, tapi jujur Bi, saya tertarik pada Adelia. Kekuatan dan ketegaran membuatku jatuh cinta, terlepas dari masalah apa yang terjadi. Saya ingin melamar Adelia,” ucap Erwin menunduk.
"Apa, benarkah? lalu apakah Adelia sudah setuju?"
"Rencana setelah pulang dari rutan, saya akan melamarnya di depan semua orang. Saya akan pastikan Adelia bahagia, ia tidak akan kekurangan kasih sayang lagi. Saya akan menuntunnya." jelas Erwin.
“Bibi tahu ada sesuatu yang tidak beres pada Adelia. Tapi saya percaya karena kamu pria baik.” gumam Dena. Ia ternyata sudah mendengar dari pintu ruangan.
"Baiklah, rencana kalian menikah. Tidak perlu khawatir, yang jelas kamu harus membuat Adelia kembali kejalan baik. Erwin." cetus Mark.
"Ya pak, saya berjanji."
Di Kamar.
Sementara Hanum, ia masih bermain dengan Lion. Hingga beberapa saat, ia segera menatap jendela ke arah kolam. Lion terpukau dan tidur di pangkuan Hanum.
"Mas," lirih senyum Hanum.
"Dia tertidur, di pangkuanmu sayang?"
"Benar mas, aku kasihan dengan Lion. Sebaiknya kita urus pindah sekolah saja apa ya?"
"Mas sudah atur, jangan risau. Mas ga akan membuat pria kecil ini jadi penakut dan pecundang."
Rico menghampiri Hanum, Hanum bersandar di pundak Rico. Mereka menatap arah jendela layaknya keluarga bahagia nan lengkap. Rico menantikan ia di karunia anak cantik dan handsome. Sehingga Rico memindahkan Lion ke atas kasur.
"Biar mas, yang pindahkan sayang. Bocah ini cukup berat." gumam Rico.
Hanum terbawa tawa, hingga mereka saling menatap dan tak lama ponsel Hanum bergetar. Hanum melihatnya, lalu ia berikan pada Rico.
"Mas, pesan dari nomor ini lagi?" tanya Hanum panik.
"Jangan risau sayang! semua akan baik baik saja!" ucap Rico memeluk Hanum dan menenangkan.
Karena setiap hari, Hanum selalu mendapat pesan misterius menakutkan. Dan Hanum panikan, Rico berusaha menghubungi seseorang.
Took Took!! ketukan pintu, membuat Hanum dan Rico saling menoleh.
Tbc.