
"Mah, Hanum berangkat kerja dulu ya. Udah telat soalnya."
"Beneran telat, apa mau ketemu sugar dady?"
"Lisa kamu bicara apa sih, Han cepat pulang ya! mama ga mau kamu berpisah jauh lagi."
"Iy. Mah! Hanum pamit dulu."
"Lisa juga mah, proyek sama dr tampan juga satu jam lagi." kecup Lisa pada pipi mama.
"Siapa itu dokter?" terkejut Hanum.
"Siapa lagi kalau bukan Fawaz, dek." Eheueuum. Terdiam Lisa, mulutnya sejak tadi hampir lupa di saring.
Lisa tau betul perasaan Hanum dengan Fawaz. Sehingga tatapan mereka berdua di depan mama, kaku membisu.
"Bareng aja kak! Hanum seneng kok, kalau kalian berjodoh."
"Han, tapi kakak..."
Hanum menarik tangan Lisa, guna tidak menarik keributan di depan sang mama. Mereka bagai teletabies, Lisa yang ikut senang. Ia juga meminta Hanum bareng dengan taksi yang sama. Sehingga sebelum Hanum berhenti lebih dulu di perusahaan indomarco. Lisa menarik tangan Hanum agar tidak marah padanya.
"Han, kakak minta maaf!"
"Soal apa kak? Haah! kakak masih berfikir aku suka sama Fawaz. Kak! ayolah, semenjak adanya Alfa. Hidup Hanum tak berselera untuk menyukai pria. Terlebih Fawaz, Hanum sudah katakan bukan?"
"Tapi kalian pernah saling menyukai?"
"Kakak salah! Fawaz yang menyukai, aku hanya kagum karna sosok pria yang baik padaku, itu dulu tidak saat ini kak. Tapi Hanum sebetulnya bingung, apa perasaan Hanum pada pria yang satu ini, entahlah. Dia selalu membuat Hanum jadi ratu, dari kejutan kecil hingga besar." senyum merona.
"Rico, kamu bicara jujur soal Rico ya?" sentag Lisa dengan wajah tak kalah gembiranya.
"Kak! Hanum udah telat nih, bye!"
Hanum membuka pintu mobil taksi, ia kiss bye pada sang kakak. Wajahnya hampir saja, tak singkron dengan hati serta mulutnya. Batin Hanum tak boleh sampai keceplosan, apalagi Rico sampai dengar dari mulut Lisa yang lemes.
Hingga sampai di tempat kerja, kali ini jadwal Hanum memang siang. Ia segera mengendap ngendap masuk ke gudang. Agar tak bertemu Rico.
Dan benar saja terlihat Rico, Adelia sedang bertemu klien. Hanum sengaja menutupi wajahnya dengan tas, di balik supir box membawa barang dus yang bisa menutupi setengah tubuhnya.
Dulu Rico mengangkat Hanum naik jabatan, tapi karna Hanum yang tak bisa cepat langsung bertemu klien. Ia meminta Rico untuk menurunkan pekerjaannya seperti semula. Terlebih tidak enak dengan cercaan dia yang masih pemula.
Erwin yang berbisik pada Rico, jika Hanum baru datang. Ia sedikit melirik dan mengerenyitkan tatapan aneh melihat Hanum. Karna Hanum berjalan dengan cepat, berjalan di balik punggung supir box dengan kardus bertumpuk.
"Kenapa dia seperti itu?" tanya Rico.
"Menurut anda apa bos muda?" senyum Erwin.
"Mules, sepertinya dia sakit perut. Atau si Alfa itu mengikutinya?" sarkas suara Rico.
"Astaga! pak Rico, dia malu pada seseorang. Menurut anda, malu dengan siapa?" tanya Erwin.
Rico mengangkat bahu, menoleh kala Hanum masuk tak terlihat. Barulah ia kembali berjalan dengan klien. Bahkan klien dan adelia sendiri memutar mata melihat sikap Rico yang tidak peka.
"Dia itu malu pada kamu kak! kamu udah buat dia sampai mana, sehingga Hanum bisa takut melihat kamu?"
"Takut? sama aku. Tidak mungkin! nanti makan siang akan aku tanya langsung kenapa dia malu dengan saya. Saya tidak punya salah sebelumnya, hal ceroboh atau kasar juga tidak. Kenapa dia takut dan malu?" tanya Rico.
Sementara Rico lagi lagi kesal pada asisten sang papa yang semakin menggila, ia juga bicara, "Semakin tidak sopan saja, apalagi tidak tau tempat."
"Erwin bukan tidak sopan kak! tapi kakak yang aneh." cetus Adelia meninggalkan Rico.
"Hiiy! kalian berdua yang aneh." balas Rico tak mau kalah.
Berbeda hal dengan Hanum.
Hanum yang membuka kunci loker, guna menaruh barang berharga seperti dompet, ia menatap Dewi yang sedang bicara dengan seorang wanita. Sepertinya hrd baru, karna yang sebelumnya sudah resign total.
"Bu! Tolong kembalikan uang 3 juta itu, adikku sangat membutuhkan uang untuk biaya berobat, hal ini sudah tidak bisa ditunda lagi!"
Saat ini, Dewi sedang berlutut dengan berat dan wajahnya sudah jelek, dia hanya bisa memohon kebaikan dari bu Linda.
"Brengsek! Berani sekali kamu memfitnah kakak iparmu sendiri, orang yang memberimu makan dan tempat tinggal! Kapan aku punya utang padamu?"
Dewi yang menerima tamparan di wajah masih tetap memohon, "Kak, perusahaan asuransi mengatakan bahwa kakak sudah mengambil uang asuransi untuk biaya pengobatan adikku!"
Tiga hari yang lalu, adikku terluka parah dalam kecelakaan hebat, Alih alih bertanggung jawab, pelaku malah kabur.
Masalah biaya, membuat Dewi tidak bisa segera membawa adiknya ke rumah sakit yang mahal. Saat dia mencoba mengajukan klaim asuransi, malah diambil oleh kakak iparnya.
"Diam jangan di teruskan! pergilah bekerja lagi, jangan sampai kita ketauan. Aku di tempat kerja ini orang asing!" cetus Linda.
Hanum masih melihat Dewi yang memegangi perutnya yang terasa sakit dan hatinya juga terbakar amarah. Tetapi, ketika dia melirik bu Linda mengetahui ekspresinya, lalu menuju tatapan Hanum yang masih berdiri melihat perdebatan Dewi dan bu Linda tadi.
Hanum jelas melihat teman kerjanya disiksa hingga seperti itu, tapi dia hanya diam seribu bahasa.
"Heh pecundang! Kamu itu hanya menjadi pengganggu disini. Keluarga kami tidak seharusnya memiliki parasit sepertimu." cetus Linda pada Dewi.
"Anda masih satu keluarga? maaf jika saya ikut campur bu. Tapi tidak seharusnya anda berlaku kasar. Tidakah anda menyelesaikannya baik baik?" cetus Hanum, ia berusaha menarik tangan Dewi untuk bangun.
"Jangan ikut campur! jika tidak aku buat kamu dipecat dari sini anak baru!" ketus Linda hrd baru.
Dewi meminta Hanum tidak ikut campur, tapi sedihnya jelas terlihat sangat dalam. Hingga Hanum meminta Dewi mengatakan segala hal apa yang terjadi
"Masalahmu apa Dew, mungkin aku bisa bantu?"
"Adikku Deni, dia masih sekolah kelas enam. Kecelakaan, tapi uang asuransi diambil dia. Dia itu kakak iparku. Pelik Han, aku sesak jika tidak butuh pekerjaan ini. Mungkin aku maunya mengurus adikku." jelas Dewi.
"Berapa yang kamu butuhkan Dew?"
"Tiga juta perminggu, bahkan gaji bulananku jika dalam sebulan tidak sampai?"
"Aku bisa bantu kamu Dew, tapi itu bukan uangku. Nanti aku cari cara, agar adikmu dirawat hingga sembuh total."
"Kamu punya uang sebanyak itu, serius mau bantu aku Han?" wajah penuh harapan.
Hanum tak punya uang sebanyak itu, tapi melihat wajah Dewi. Ia menghela nafas, dan berusaha memberi pesan email pada Rico.
'Jujur aku malu jika bertemu dengan dia, tapi tidak ada jalan lain. Aku harus bicara dan ijin dengannya.' batin Hanum.
"Hanum. Kamu di panggil bu Iinda diruangan hrd." teriak Vita dari arah pintu lain. Membuat mata Dewi dan Hanum saling pandang.
**To Be Continue**!!