
"Duh, dia ekorin kamu tuh Han. Mbak tinggal dulu ya!" ungkap Nazim yang memilih menyingkir.
"Thanks ya mbak."
Hanum meraih tas, ia tak memperdulikan Alfa di sampingnya yang sedang menghalangi ia untuk pergi.
"Apa lagi Al? kamu mau maki maki aku, atau mau nuduh aku lagi di depan umum?"
"Dengerin aku dulu! aku cemburu dan takut kamu kembali sama Fawaz. Maka dari itu aku juga ingin kamu, maksudku kita saling membantu!"
"Kita .. what? dengan cara apa lagi Alfa. Apa dengan membuat kita bersama, terus aku penuhi permintaan papamu. Kamu tau, semua aset usaha ayah aku sudah ludes diambil. Bahkan saat ini papamu meminta denda 1,5 miliar. Rumahku saja hanya mencapai ratusan juta, tujuh kali lipat dari harga apartemen kamu. Apa sebuta itu bisnis, membuat aku dan keluargaku miskin perlahan. Itukah cara papamu kaya Alfa?" cetus Hanum dengan emosi.
"Papaku bukan rentenir. Ia hanya menggertak karna kamu tau rahasianya. Jadi berbaiklah temui papaku, agar rumahmu tidak di sita. Kamu harus berlaga baik pada keluargaku, dan kamu menerima jika aku mendekati Irene guna mengambil semua yang aku beri. Hal itu aku jamin tidak akan lama Hanum. Kita bisa saling mencintai dan tentram!"
Hahaaaaah! Hanum tertawa jahat, bagaimana mungkin Alfa meminta dirinya harus berwajah dua. Menerima suaminya dengan cinta, tetapi suaminya harus bermanis manja dengan irene sampai waktunya habis.
"Alfa! proses kita bercerai akan terus berjalan. Aku lebih baik di miskinkan, dari pada bertahan dengan pria model sepertimu. Aku tidak punya wadah untuk mengatakan semua masalah kalian, tidak ada untungnya juga mengurusi hidupmu dan papamu. Jadi soal aset yang dibelanjakan Irene. Soal aset yang kamu beri padanya, itu urusan kamu agar kembali. Bukan urusan aku!"
Hanum pergi meninggalkan cafe, tapi cekatan tangan Alfa meraih dan membenturkan Hanum ke tepi dinding dengan keras.
Aaauuuwwgh! menahan sakit siku dan lengannya terbentur.
"Jika itu maumu, maka aku tidak bisa menghentikan papaku padamu Hanum!"
Ancaman itu bagai pedang yang menusuk, Hanum meremas jemari rambut belakangnya. Ia lelah dengan masalah yang runyam. Lisa dan sang mama belum tau, jika rumah satu satunya akan di ambil oleh Jhoni Jhonson.
'Aku terima ancaman kamu Alfa. Kamu dan papamu adalah pria tidak layak yang mendapatkan ketenangan. Aku akan menemui Maria, sudah terlanjut kamu hancurkan hidupku dan mamaku. Maka kita harus berperang!' batin Hanum.
"Han, kamu mau lakuin apalagi? dia ancam kamu lagi?" tanya Nazim yang mendekat ke arah Hanum.
"Papa Hanum bekerja lama oleh Jhoni, papanya Alfa berusaha mengambil haknya. Karna katanya semua aset itu hasil dari pemberian Jhoni. Tapi jelas ada surat papa sudah membeli rumah itu, dari seluruh gaji papa bekerja puluhan tahun. Bahkan proyek besar, apa sangat etis Jhoni merebutnya mbak?"
"Ya ampun, pria gila itu. Trus kamu mau lakuin apa, kasih tau mbak. Jangan bertindak gegabah! ingat rumah mbak di paris kosong. Kamu sama mama dan kakakmu bisa tinggal disana, sampai kehidupan kamu baik baik aja!"
"Paris, maksud mbak Nazim. Perapatan ciamis gitu?" senyum Hanum. Karna memang Nazim tinggal di ciamis sebelum menikah dengan pria bule dulu.
"Haaaahaa! dasar, lagi serius tegang kamu bikin tawa aja. Ya asli dong, lagian minggu depan si penyewa udah go. Kalau ciamis kampung mbak, udah rata jadi perumahan." jelas Nazim.
"Efek kena gusur ketemu pak bule ya mbak?" goda Hanum sambil menghilangkan stres nya saat ini. Hingga mereka tertawa dengan candaan garing Hanum.
Sehingga mereka kembali tenang dan melanjutkan makan bersama dengan perbincangan yang makin serius.
Berbeda dengan Lisa.
Fawaz yang kini berada di kediaman Hanum bersama sang mama, ia harus menelan hal pahit karna Hanum tak ada.
Hal utama Fawaz adalah menemui Hanum, tapi sang mama yakni dokter Felicia sekalian ingin menjemput Lisa soal project iklan yang ia minta, Lisa saja yang membawakan.
"Dengarkan dulu penjelasanku, Lis!” tangannya dicengkram oleh seorang pria berpostur jenjang dengan poni menutup separuh dahi. Entah sudah berapa lama keduanya terjebak dalam siatuasi mengerikan seperti ini. Tak ada yang mampu menengahi. Semua berjalan sesuai ego diri.
"Lepasin gak! kita udah bubar. Ga ada hubungan, jangan deketin gue Reza!"
Hey lepasin jangan kasar! teriak Fawaz mendekat ke arah Lisa.
"Siapa lo. Ga ada hubungannya lo sama pacar gue!"
"Aku dr Fawaz. Benar dia pacar kamu Lisa?"
"Bukan, dia cuma mantan. Ga tau kenapa dia bisa di sini. Jangan jangan kamu yang selama ini nguntit aku dan kirim surat dengan kain merah ya?" tegas Lisa.
"Pergi atau, aku panggil polisi! Ingat ini area privasi. Ini milik keluargaku, kamu tau villa Abraham Jhonson?"
Ab-ra-ham Jhon-son! terpatah Reza segera mengenali nama itu. Jelas hanya orang penting yang bisa menyebut nama itu.
"Gue pastiin bakal nemuin lo lagi Lisa! ingat itu, kita belum selesai!" ancam Reza menatap tajam.
Tunggu! Bruugh! Bug .. Bug!!
Pukulan dan aksi mendorong pria bernama Reza itu tergontai. Fawaz memukul dan meminta security membawanya ke pihak berwajib. Cukup bagi Fawaz mengurungkan pria yang membuat gaduh, apalagi menyakiti dan ancam seorang wanita. Cctv banyak terpasang, jadi dengan mudah Fawaz bisa memberi pelajaran bagi pria yang bergelagat pecundang.
"Sekali lagi kau temui Lisa calon istriku, maka kamu akan mati mendekam di penjara!" bisik Fawaz spontan, hanya untuk menggertag.
Lisa terdiam kaku, hal itu membuat hatinya semakin berdebar dan kagum pada pria bernama Fawaz. Aksi tampan sebagai dokter, maka lepas dari baju dinasnya. Ia seperti pria maco yang selalu melindungi seorang wanita.
"Kamu putus dengan dia, kenapa Lisa?" tanya Fawaz sembari menepuk lengan kemejanya.
"Huuah. Reza, cowo tadi?" kembali tanya.
"Heuuumph. Dia! tapi kalau ga mau jawab juga gak apa. Aku cabut dulu ya, takut mama nyari!"
"Diiieh..."
Lisa kembali sebal, lagi lagi sikap cuek Fawaz membuat Lisa semakin penasaran dan ingin sekali menaklukannya. Tapi begitu menoleh ke arah Reza yang di gadang dua security sambil berteriak. Ia jadi ingat tragedi Reza di hotel saat Lisa sedang acara gathering bersama rekan influencer.
“Aku telah dijebak,” sekali lagi Reza meyakinkan diri. Ia merengkuh erat tubuh Lisa, sehingga menimbulkan sesak. Tak ada yang dapat ia lakukan selain berusaha untuk meredakan emosi Lisa yang sukses melewati ambang batas.
Dara pembawa kabar tadi terus saja terisak tanpa henti. Ia juga sama terpukulnya dengan Lisa. Kedua wanita tersebut sama sama telah dibodohi, ditipu, dan diperdaya oleh Reza.
Perempuan mana yang sanggup menerima kenyataan bahwa calon suaminya telah menghamili gadis lain? itu adalah sepenggal kehidupan Lisa yang takut menikah.
Tak lama ponsel Lisa berdering, ia menatap nama yang memanggilnya.
To Be Continue!!