BAD WIFE

BAD WIFE
BERLAGA BAYI



Hanum masih menunggu di luar pintu rumah sakit, kala Rico masih dalam perban dan mendapat beberapa jahitan akibat luka cutter. Hanum merasa sedih, bodohnya Hanum yang menyembunyikan sesuatu, Rico jelas lebih paham akan dirinya.


'Rico, kamu adalah pria perfect bagiku. Apa aku pantas menjadi bagian keluarga Mark. Mengingat kasta mu lebih tinggi. Dari aku wanita yang sederhana dan sudah pernah menikah.' sorot mata Hanum, menatap jendela yang menuju pada tatapan Rico yang senyum padanya.


Tak lama Hanum menatap Fawaz yang sepertinya berjalan ke arahnya. Lalu dengan spontan Hanum membalikan badan sejajar pada tubuh Fawaz yang tepat berdiri padanya.


"Han, Are you alright? Aku dengar kamu dan Alfa berseteru lagi?"


"Aku baik baik saja Fawaz. Tetapi Rico terluka dan jahitan tangannya, semua karna aku."


"No! jangan lagi merasa bersalah. Aku dan Rico akan memastikan Alfa benar benar dihukum." jelas Fawaz.


Tak lama Rico yang telah selesai, ia cukup senyum dan menepuk bahu sepupunya itu. Fawaz pun menyapa dan meminta Rico untuk cepat sembuh.


"Ric, kamu harus istirahat. Luka sayatan itu harus kamu pulihkan. Jangan bekerja lebih berat, kecuali .." Fawaz terdiam, kala mata sebelah Rico seperti memberi kode.


"Seperti apa Fawaz?" spontan Hanum.


"Kamu membantunya bekerja! aku akan bicara pada mama nanti malam kamu tak perlu hadir. Alasan yang tepat adalah, kamu menemani Rico dan perlu membantunya rehat. Baiklah, aku harus pamit memeriksa pasien lain. Sampai bertemu lagi sahabat."


"Ya! tapi apa seperlu itu? Rico, kamu sudah dewasa apa perlu ditemani?" menoleh Hanum.


"Mungkin karena tanganku tak bisa basah, bagaimana jika aku butuh sesuatu dan bergerak. Maka luka jahitannya robek?"


'Begitu ya? merawat bayi besar itu sangat menjengkelkan, canggung rasanya.'


"Kenapa Diam?"


"Tidak apa, ayo kita pulang Ric!"


Tatapan Fawaz dari jauh, terlihat jelas kala masih melihat Hanum. Jelas itu membuat deheman Rico merasa janggal.


Hanum memegang tangan Rico dan kembali berjalan melangkah untuk pulang. Hanum memegang kunci mobil Rico, tapi Rico menghentikan langkahnya dan bicara pada Hanum saat mereka sampai lobby parkiran.


"Hanum, bagaimana hatimu saat ini dengan Fawaz?"


"A-aku? Hah! kenapa kamu bicara begitu, jelas aku menganggapnya seperti teman baikku saja."


"Benarkah? lalu bagaimana dengan Alfa. Maaf pertanyaanku membuatmu gugup. Han, aku hanya ingin kejujuran hatimu saat ini."


Hanum terdiam, ia tahu saat ini bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Rico. Meski dirinya menjadi Rico pun, pasti Hanum akan melakukan yang sama. Dengan erat Hanum memegang tangan Rico yang dililit perban dan meniupnya dengan perlahan.


"Ric, aku pernah kecewa kala aku berusaha mencintai Alfa karna takdirku. Aku berusaha mati matian ingin kembali pada impian masa kecil saat Alfa terus saja menyakiti batinku. Yaitu aku dan Fawaz bersama sama. Tapi setelah bertemu denganmu. Aku tau arti cinta sesungguhnya, aku tau arti ketulusan dan pengorbanan yang benar benar jelas mencintaiku. Tidak ada yang menggerakan hatiku dari sebelumnya, yang aku rasa hanya kagum dan aku takut kehilanganmu." jelas Hanum menatap Rico dengan dalam.


"Benarkah? aku merasa tersanjung. Bukankah kamu menyerah pada Fawaz karna Lisa?"


"Benar, itu salah satunya. Tapi perubahan aku dan Fawaz hanya benar saling melindungi. Kami pernah berdebat, dan jelas mengutarakan jika kami hanya kehilangan momen kebersamaan layaknya sahabat, tapi tidak cocok untuk jadi pasangan. Aku dan Fawaz tak pernah jatuh cinta, jadi belum bisa memahami arti sayangnya arti sahabat, dan cinta sebenarnya saja." jelas Hanum sedikit malu. Hanum menjelaskan dengan senyum, dan rona merah di pipinya.


"Aku belajar darimu. Puas?! Ayo kita pulang saat ini!" gerutu Hanum mencubit manja, pinggang Rico karena sebal.


Hal itu membuat, Rico tertawa. Sebenarnya ia suka jika Hanum sedang marah. Wajahnya semakin menggemaskan, karena itulah ia menyukai Hanum yang benar benar masih kikuk selain dari hatinya.


Rico menurut, benar benar wanita yang pernah ia cintai seperti mendiang Lea. Hanum tetaplah Hanum, mereka pernah mencintai sebelum bertemu. Mereka pernah menikah sebelum ditakdirkan dekat. Tapi kebersamaannya penuh dengan adrenalin sendiri bagi Rico. Jika mencintai pasangan, harus melewati bebatuan runcing, agar hidupnya tidak terlalu monoton.


'Aku beruntung mendapatkan hatimu Hanum. Semoga hatimu terus milikku, agar kita selalu bersama tanpa adanya perusak. Aku pastikan Alfa tidak akan menyakitimu lagi.' benak Rico yang masih menatap Hanum mengoceh, kala menyalakan mesin mobil.


KELUARGA MARK.


Sesampai di rumah, Hanum berhenti memarkir. Rico sudah melepas seatbelt. Tapi Hanum gugup dan menelan saliva ragu ingin turun.


"Kamu ga mau turun Sayang?"


"Ric, bagaimana kalau papamu, adikmu marah padaku. Karena kamu terluka semua gara gara aku. Mau pasang muka dimana wajahku ini?" rengek Hanum.


"Hahahaha. Kalau begitu lakukanlah kemampuan sebisamu, untuk merebut hati papaku dan adikku yang marah setelah melihat ini."


"Serius? tapi kita ga bawa apa apa loh. Aduh maaf ya! aku ga peka lagi lagi."


"Bertamu ke rumah camer, tidak harus dengan bebawaan atau bingkisan. Keluarga ini sudah cukup dengan bingkisan dari klien. Kamu lupa perusahaan Marco itu apa?"


Mendengar penjelasan Rico, ada benarnya. Mau diberi barang mewah juga mereka pasti bisa membelinya. Hanya saja Hanum tak cukup uang untuk membelinya. Perlu waktu berbulan bulan dari gajinya. Atau mungkin ia harus rela berpuasa dan minum promag untuk membeli barang branded.


"Kok masih diam?"


"Huuuuft! ok. Mari tuan Rico, saya antar anda sampai kedalam rumah. Saya pastikan saya akan merawat anda hari ini. Meski beberapa jam."


"Aauuuw, aduuh. Aduuh sakiit." teriak kecil Rico.


"Sakit lagi ya? kok bisa, kan aku ga pegang. Tangan kamu juga ga kebentur." panik Hanum.


"Kamu ga dengar dr Fawaz bilang. Aku perlu dirawat sampai sembuh. Maka dari itu kamu harus merawat aku nonstop. Kalau perlu 24 jam. Aku bisa kesakitan lebih parah nanti."


Glee Uuuuk! itu berarti Hanum harus menginap. Tidak, apa kata keluarga Rico. Sudah wanita pernah menikah, sudah dicap wanita tak setara dengan mereka. Lalu menginap, apa ga keterlaluan. Pasti mereka akan anggap aku cap buruk.


"Ga bisa! aku akan pulang, begini saja. Aku pulang setelah kamu tidur. Jangan buat aku sulit Rico. Kamu bukan bayi."


"Tapi aku bayi besarmu Hanum." senyum Rico menggoda, terlihat jelas semua giginya ia keluarkan demi memohon layaknya anak yang ingin dibelikan permen lolipop.


Hanum menghela nafas, setelah itu seseorang mengetuk kaca jendela mobil. Membuat Hanum menoleh dengan gugup.


~ Bersambung ~