BAD WIFE

BAD WIFE
RUMAH SAKIT



Lisa telah berada dalam mobil. Ia masih menunggu Sinta yang pergi menuju parkiran. Lisa termangu, ketika supir itu melajukan mobilnya.


"Tunggu Pak. Teman saya belum naik, dia masih di loby, mohon menunggu sebentar!"


"Maaf. Tapi perintah bos anda harus lebih dulu. Ini perintahnya."


Lisa terkejut, ia memegang ponselnya dan berkata dalam voice note. Hingga berkali kali ia mengirim. Tapi belum juga ada balasan, bahkan di baca pun belum.


"Sin. Kamu dimana, please jawab pesan aku. Kamu di mana?"


Lisa memegang gagang pintu mobil. Suasana dalam mobil membuatnya takut dengan orang yang tak asing. Sehingga supir pribadi itu melirik dalam spion dan membalas rasa khawatir Lisa, karena mobil itu pergi tanpa menunggu Sinta.


"Sudah sampai Nona!"


Lisa yang tadinya gugup, ia membuka hordeng kaca. Lalu menatap gedung yang tak asing. Gedung yang selalu ia hampiri.


"Oowh. Terimakasih, saya sudah boleh turun. Sampaikan pada bos anda. Meski saya tidak mengenalnya. Terimakasih atas bantuan nya!"


Lisa pun berlari menuju ruangan tujuh kosong tujuh. Di mana ia yang masih memakai piyama, ia tak membawa apapun untuk menjenguk ruangan sang mama. Hingga di mana mobil itu baru berjalan, ketika ia telah masuk kedalam rumah sakit.


"Aneh. Kenapa bantuan itu tepat, aku baru sampai. Dia baru pergi, sungguh aneh. Sinta kemana sih? kenapa dia belum balas juga." benak Lisa. Setelah pulang dari mall, Sinta ijin pergi, ia meminta Lisa lebih dulu masuk kedalam mobil, karena Lisa ingin menjenguk bu Riris.


TLIIING PESAN SUARA.


Lisa berfikir itu adalah balasan dari Sinta. Tapi itu adalah email dari perusahaan ia bekerja.


"Haaah. Apa, ini ga adil. Kenapa, a-aku di rumahkan sementara, proses cutiku kan masih satu bulan lagi?" gugup Lisa.


Lisa hampir menjatuhkan ponselnya, sungguh ia lemas dan duduk di kursi kamar pasien. Ia menatap bu Riris yang masih mengenakan infus di beberapa titik tubuhnya. Lalu menatap nakas meja, terdapat parcel buah.


Sepertinya banyak sekali buah, tapi kalau di lihat. Ada yang baru menjenguk, Lisa pun berlalu keluar menanyakan pada suster, apa ada seseorang yang menjenguknya sebelum ia tiba.


Beberapa menit, Lisa tiba dengan nafas yang terengah engah.


"Sus, apa ada yang menjenguk selain saya. Kamar tujuh kosong tujuh. Bu Riris?"


"Sebentar ya bu. Saya cek dulu."


Selama lima menit lebih, suster itu mengatakan. Jika seorang pria belum lama menjenguk dan dia bicara masih kerabat keluarga Felicia.


"Apa anaknya. Sus, dr Fawaz datang?'


"Sepertinya saya baru pertama kali melihatnya. Karena saya baru bertukar sift."


Mendengar penjelasan itu. Lisa berterimakasih lalu kembali ke ruangan kamar bu riris. Lisa pun menatap sebuah destop untuk mengecas. Lisa yakin, dia dan Fawaz tak pernah mempunyai model pengisi daya ponsel seperti itu.


Tak lama perutnya berbunyi, ia pun membelah parsel itu dan mencuci, memotong buah untuk pengganjal rasa laparnya. Jelas dari sore, ia belum sempat makan sesuatu karena ulah Nestia yang membuatnya kesal. Lisa membuka masker dan melahap potongan buah.


"Lisa. Lo udah sampe di rumah sakit, gue baru tau kalau kediaman lo sekarang ga aman. Banyak wartawan, juga rumah gue. Untuk saat ini rumah sakit adalah yang teraman. Lo jangan keluar dari sana. Pagi dan sore gue bakal anter beberapa pakaian ganti ya!"


Lisa yang memakan apel merah. Ia tersedak kala mendengar pesan suara Sinta. Ia memutar mata dan kesal, hingga rasa laparnya tertunda. Tubuhnya menjadi tak berdaya kala mengingat satu indonesia yang menjadi bahan perbincangan tentang dirinya.


'Nestia. Kamu selebgram terkenal, tapi piciknya kamu. Kembali naik dengan cara menindasku. Apa belum cukup untuk bermain denganku.' emosi Lisa, ketika melihat situs resmi.


Lisa pun duduk tertidur dan bercerita banyak dan mengelus lengan ibu mertua kedua sambil bercerita.


Hal yang Lisa lakukan setelah merawat bu Riris. Mengelap sekedar menghangatkan tubuh untuk menggantikan pakaian, dan ia kembali bercerita tentang dirinya pertama ia bertemu.


Bu, apa saat ini ibu mendengar. Ibu tau, jika Lisa saat ini sedang sulit mencari cara melawan madu mas Fawaz. Ibu tau, jika mas Fawaz tak pernah mencintai Lisa dengan tulus. Apa kurangnya Lisa, bu. Ya. Lisa sadar, Lisa tau diri siapa Lisa.


Tapi sayang. Mas Fawaz hanya menganggap Lisa sekedar teman di kala waktu ia menatap langit dan mengerjakan pekerjaanya. Begitu Lisa mendengar perkataan mas Fawaz, tidak suka jika kita menikah. Lisa sangat kecewa, tapi Lisa berusaha sabar dan menerima. Berharap Fawaz bisa membuka hati karena ia gila kerja. Seiringnya waktu, Lisa menyerah hingga akhirnya mas Fawaz mengejar Lisa dan meminta Lisa menjadi ratunya, dan menyadari ia sangat mencintai Lisa. Tapi kenapa mas Fawaz menodai pernikahan ini.


Lambat laun, Lisa mengerti. Mas Fawaz bukan gila kerja. Mas Fawaz mencintai seseorang, seseorang yang lebih sepadan untuknya. Lisa terlalu serakah bu, hingga kesulitan ini, Lisa bingung untuk mencari cara agar madu mas Fawaz tidak mengusik Lisa. Karena masalah ini, Lisa akan kesulitan bekerja, ada anak yang lisa kandung untuk menafkahinya seorang diri.


Apa Ibu disana menyetujui, jika Lisa benar benar berpisah, setelah Lisa melahirkan. Lisa mempertahankan, meski Lisa yakin sangat sulit dan bayang noda mas Fawaz akan terus menghantui.


"Lisa harap bu Riris memaafkan, ketidak berdayaan Lisa. Lisa minta maaf! jika nanti Lisa akan menjadi asing, ketika bu Riris siuman." gumamnya.


Lisa masih bercerita, hingga di mana ia tidur dengan posisi duduk, sambil menangis tak biasa. Ia melupakan gerakan jari yang bergerak tanpa ia sadar.


"Maafkan Mama nak. Semua salah kami yang memaksamu. Kamu terbaik dan sepadan, tidak ada yang lebih baik. Mama menginginkan kamu menjadi menantu mama, bertahanlah. Rebut hati Fawaz kembali nak!" deru batin mama Felicia, ketika ingin mengecek bu Riris. Sementara Lisa sedang tertidur pulas dikamar rumah sakit.


Akan tetapi, berbeda dengan pasien bu Riris dari alam bawah sadar, ia mulai bisa menggerakan jari, tapi matanya sulit untuk ia buka dan gerakan untuk menoleh.


Hanya sebuah pendengaran yang masih jelas ia tau. Sehingga ia mengeluarkan air mata dan kembali lemas. Kala suara Lisa dan suara Felicia sedang berkeluh kesah, mengalami konflik.


DI PAGI HARINYA.


Lisa terkejut akan aroma mie instan yang panas. Ia mengerjapkan matanya, lalu menoleh kesampingnya.


Terlihat suster sedang merawat bu Riris. Dan Sinta sahabatnya telah tersenyum duduk di sampingnya.


"Sin. Di sini, dari kapan. Kok gue .. ?"


"Ia gue pindahin lo ke sofa. Gue udah bawain makanan kecil, gue taro beberapa di kulkas Ya! bentar lagi mertua lo dateng, Rico sama Hanum bakal hubungi lo. Katanya mulai pagi ini, semua berita Nestia bakal berbalik. Kita pastiin aja ya, kalau semua sosmed berita nama kamu yang hancur, berbalik ke Nestia." jelasnya.


"Benarkah?"


"Betul, coba lo liat ponsel. Hanum juga berkali kali telepon, tapi lo pules banget. Jadi ga gue bangunin deh. Lo udah terlalu sulit tidurkan akhir akhir ini?"


Tbc.