BAD WIFE

BAD WIFE
MAMA PINGSAN



'Papa.. kenapa Lisa bisa ada disini?' deru Lisa yang menembus cahaya, berada di dimensi tidak nyata.


Taman bunga, sungai indah. Membuat hati Lisa nyaman dan tertawa. Ia seolah tidak memperdulikan lagi suara yang membuat Lisa mencari keberadaan untuk bertemu mama, Hanum dan orang yang ia cintai.


Sosok pria serak itu, tak lain adalah ayah Armand. Lisa seolah tak percaya kerinduannya pada sang papa akhirnya membawa kedamaian.


Armand menoleh dan tersenyum pada putrinya, ia senyum dan mengajak Lisa menunjukan tempat dimana sang papa damai dan telah menunggu lama untuk berkumpul. Lisa mendengarkan sang papa yang bicara dengan wajah berseri, ia terlihat tidak lah sedih dan kesepian. Lisa masih tak percaya akan hal yang ia lihat saat ini.


'Pah apa Lisa mimpi, Lisa seperti sedang berjalan dengan seorang pangeran. Wajah papa berseri dan awet muda. Seolah Lisa dan papa seumuran.'


'Lisa tak ada yang tua disini, hanya orang terpilih dan papa sudah menunggu kamu. Entah sampai kapan kita berada di tempat ini, tapi tempat ini adalah abadi dan teraman.' senyum Armand pada Lisa.


Lisa seolah sedang berjalan menelusuri sebuah tangga hologram yang bercahaya seperti awan putih, bunga indah dan harum serta air yang mengucur terlihat sangat berkilau bagai bulan dan bintang yang bercahaya di malam hari. Lisa tak bisa berkata kata dan rasa syukurnya, ia berkata pada Tuhan.


'Aku tidaklah menyakiti diriku sendiri, dan mencintai seseorang dengan berlebih. Dan aku aman dan tinggal berada disini. Tuhan, jangan copot kenikmatan keindahanku saat ini bersama sang papa.' senyum Lisa yang masih melirik sang papa yang berbicara panjang.


***


Rumah Sakit.


"Ini dokter pasti salah! Tidaaaak!! Lisa ku masih hidup!" teriak Fawaz bagai orang gila.


"Maafkan kami, kami sudah berusaha sebisa mungkin. Tekanan darah pasien sangat tidak stabil, ia juga kekurangan cairan dan sepertinya ibu Lisa kurang minum, sehingga saat kami cek, dan saat bu Lisa sudah dibawa kemari. Bu Lisa sangat tidak bisa tertolong, dan kami hanya bisa menyelamatkan bayinya saja." ucap dokter.


Tatapan Fawaz seolah kosong, ia berusaha menerobos sang dokter yang sedang berdiri. Lalu membangunkan Lisa yang di ranjang dengan banyak infus, kabel detak jantung terlihat telah dilakukan. Tapi Lisa tetap tak bisa kembali dan dinyatakan telah meninggal.


Tak lama saat dokter ingin kembali masuk, ia melihat seorang wanita yang berjalan ke arahnya. Juga dr Indah mengenal wanita paruh baya keturunan eropa, yakni dr Felicia dari rumah sakit berbeda.


"Dok, apa ini ruangan kakak saya Lisa. Bagaimana keadaannya saat ini?" tanya Hanum, yang masih memegang sang mama berjalan lesu.


Dokter melihat diujung satu pria, yakni Ray! yang bersamaan mereka diam dan menunggu pasien pria yang bernama Fawaz, saat ini berada di dalam.


"Dok, tolong jawab. Kakak saya didalam kan, gimana keadaannya. Jawab kami dokter!" ketus Hanum seolah ia juga merasakan kepanikan.


Rico dan tante Felicia seolah tau, dari raut wajah Ray yang terlihat mata memerah, juga menunduk, terlihat juga dr Indah menunduk dan berat untuk menyatakan jawaban dari Hanum.


"Maafkan kami, pasien kami harus operasi dan kami terpaksa menyelamatkan bayinya, selamat bayinya laki laki. Kini masih ditangani perawat di ruang inkubator. Masalahnya bayi pasien sangat rendah dan muda. Mohon doanya, agar bayinya tetap sehat dan stabil."


"Alhamdulillah, mah. Mama punya cucu laki laki dari kak Lisa." senyumnya, memeluk dan mama Rita senyum mengangguk.


"Lalu gimana dengan keadaan kak Lisa. Dokter?"


"Maafkan kami! kami turut berbela sungkawa. Pasien tidak bisa kami tolong. Maafkan kami!" berat dr Indah, ia sudah terbiasa dengan melihat kabar duka, yang tak sanggup ia juga ingin menjatuhkan air mata.


"Apaaaa... Lisaaaa..." teriak mama Rita dan jatuh pingsan.


"Mama.." teriak histeris Hanum, berusaha menahan sang mama. Ray juga ikut membantu Hanum membopong mama Rita yang pingsan. Rico berteriak pada suster lain untuk memeriksa mama mertuanya.


"Lisaa. Mama bersalah padamu, ibu mertua macam apa yang tidak tahu penderitaanmu sayang." lirih Felicia yang ikut lemas.


Hanum, Rico dan Ray membopong membawa mama Rita, keruangan lain untuk di cek. Sementara Felicia meminta izin masuk, untuk melihat menantunya terakhir kali.


"Fawaz." lirih Felicia, yang manatap putranya yang mengoyak tangan Lisa untuk bangun.


Arrrgggh!! Lisa, bangun sayang! mas sudah menceraikan Nestia. Dan mas sudah mencabut gugatan mas! mas bersalah padamu, mas harap kamu jangan salah paham. Lihat anak kita telah lahir, aku mohon Lisa! beri mas kesempatan!! teriak Fawaz, membuat Felicia menangis, dibalik punggung putranya.


"Fawaz sayang! Tenanglah. Lisa sudah tenang, jangan tahan Lisa nak!"


"Enggak mah. Fawaz bersalah, Fawaz juga bingung kenapa bisa menikahi wanita bernama Nestia. Fawaz juga bingung kenapa terjebak oleh beberapa siasat Nestia, mama bahkan tak percaya Fawaz kan? Fawaz benar benar bingung, Fawaz meminta bercerai, karena Fawaz jijik sudah melakukan hal lain dan menodai pernikahan Fawaz dengan Lisa. Tapi Fawaz sudah sadar, berulang memikirkan lagi jika Fawaz ingin berjuang mempertahankan. Tapi lihat mah! Lisa meninggalkan Fawaz. Huhuuhu, Ya Allah, ampuni aku sebagai pria yang dzholim pada istriku ini." isak tangis Fawaz makin mengucur deras.


Isak tangis Felicia juga, yang tak bisa berkata kata, hingga Fawaz menatap beberapa suster meminta mereka menunggu di luar. Karena pasien akan segera dibersihkan dan di mandikan.


"Suster, tolong cek lagi. Bilang pada dokter! istri saya masih hidup. Tolong saya! anda suster kan, berikan peralatan medis pada saya. Saya juga seorang dokter, mama saya juga seorang dokter! saya yakin semua ini kesalahan pastinya. Istri saya Lisa masih hidup."


"Mohon maaf pak! kami mohon maaf tidak bisa melakukan itu." balas suster.


Aaaaarggh!! Fawaz menerobos mengambil alat medis dan mengeceknya. Suster menahan, tapi dr Indah meminta suster untuk bisa memahaminya. Apalagi pasien yang bersuami dokter.


"Pak, anda mau apa pak? ingat ini melanggar hukum?"


"Aku tidak peduli. Saya akan cek lagi istri saya!" teriak Fawaz dengan menatap bagai tatapan singa yang lapar.


"Sus! biarkan saja!" ucap dr Indah.


"Tapii..." terdiam suster, hingga Felicia juga pasrah, dan berharap semua bisa menerima Lisa dengan tabah.


Beberapa puluh menit, sia sia Fawaz terhenti dan lemas. Kala benar benar istrinya benar benar tidak bernyawa. Air matanya seolah tidak mengering, matanya semakin sembab. Tidak percaya dengan hal yang terjadi pada Lisa pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Lisa sayang! mas menjauh denganmu karena ingin menata kesalahan mas, dan mas malu tak punya muka. Tapi kenapa kamu benar benar meninggalkan mas begini! maafkan mas Lisa! kembalilah Lisa. Dengarkan mas, putra kita telah lahir, dia membutuhkanmu. Mas juga butuh kamu Lisa!" bisik Fawaz pada telinga Lisa dan memeluk.


Tbc