
Hanum melihat jelas Rico datang dan tersenyum, tapi ia yakin bukan untuknya. Terlihat jelas jika Caty mendekat ke arahnya. Menyisakan luka, dan terlihat seseorang menarik tangan Hanum, saat menghindar.
Wuuush!
Hanum membalik badan bagai di terpa angin, hembusan nafas dan Hanum menoleh kala tubuhnya bersejajar dengan Rico. Rico menatap dalam manik manik wajah mata Hanum saat ini, jelas ia merasakan tatapan Hanum berbeda padanya.
"Hey! apa kamu mengantuk? jangan jauh jauh dariku!" bisiknya, menyentuh telinga Hanum.
"Rico, perhatikan dirimu. Ini kantormu, bagaimana bisa wibawamu seperti ini?" balas Hanum.
"Hello Ric?" suara seseorang.
Saat Caty menyapa. Hanum juga membalik badan, tapi eratan tangan Rico mengapit Hanum bagai kepiting. Caty senyum, ia melihat Rico yang sekarang sangat benar benar mencintai seorang wanita yang tepat.
"Bagaimana perjalananmu?" tanya Rico.
"Aku baik, tapi ada satu hal yang mau aku bicarakan, sebelum meeting nanti di paris."
"Baiklah. Silahkan ke ruanganku!"
Hanum menoleh arah lain, lagi lagi seseorang melihatnya akan aksi Rico yang sangat dekat saat ini. Hanum meminta Rico jaga wibawanya, tapi satu hal yang Rico balas adalah.
"Kenapa wajahmu masam, ga suka aku memperlihatkanmu pada orang orang?"
"Tanganmu sudah membaik, saat ini kamu temui klien pentingmu. Aku juga tau, kamu akan ke paris kan? masih banyak kerjaanku yang harus aku lakukan Ric."
"Apa kamu keberatan, jika saat ini kamu bekerja di dalam ruanganku?"
Hanum menarik nafas, andai saja Rico tidak terluka. Mungkin ia sudah menginjak kaki Rico saat ini. Jujur saja ia sangat terbakar karna Rico akan berada di ruangannya bersama Caty. Tapi Hanum merasa gengsi, ia masih bertahan senyum dan berlaga kuat.
"Ric, pergilah! aku janji akan menunggumu pulang."
"Tidak perlu! pergilah. Aku sepertinya sibuk hari ini. Selamat bekerja sayangku. Melihatmu hari ini sangat membuat hatiku senang."
Tidak lucu! desis Hanum, melepas tangannya yang masih saja dikecup Rico.
Rico tertawa kecil, berjalan melewati Hanum. Hanum mengepal tangan dan berwajah masam. Tega teganya Rico mengacuhkannya karena ada Caty. Hanum berlari pergi kembali ke gudang. Ia menyibukan diri dan berusaha tidak makan siang, guna mengalihkan pikirannya saat ini.
"Ga apa apa, aku kerja dulu ya."
Vita hanya tercengang, tidak biasanya Hanum berlaga seperti ini. Ia berusaha menahan rasa penasaran apa yang terjadi. Tapi tidak dengan Dewi yang sudah melihat Hanum dan Pak Rico beberapa kali sangat intim. Tapi karna Dewi bukan orang yang kepo, dan merasa berterimakasih. Maka Dewi masih merahasiakan apa yang ia lihat beberapa jam lalu.
"Vit, udah jangan ganggu Hanum! Dia lagi banyak pikiran kali. Moodnya lagi turun, jelaskan lo liat tadi kaya gimana." jelas Dewi pada Vita.
Hingga menjelang sore, Hanum kembali mengambil barangnya di dalam loker. Ia pergi dengan tatapan kosong, karena melihat mobil Rico benar benar tidak ada. Ruangannya juga sudah gelap, tanda sudah pulang. Baru kali ini Hanum merasakan kegundahan yang tidak bisa ia tebak. Belum lagi beberapa karyawan berbisik jika Pak Rico pergi dengan klien bernama Caty. Dan tak sedikit mereka bicara Rico dan Caty sangat serasi.
'Ingin rasanya aku cabik cabik mereka yang masih bergosip.' batin Hanum.
Apalagi yang Hanum pikirkan saat ini, soal tentang Adelia yang membuat otaknya melanglang. Jika hubungan Rico dan Caty yang sudah terjalin, benar akan terjalin kembali di paris. Tapi Hanum kesal ketika Rico tak memberitahunya, belum lagi wanita bernama Caty, mencari alasan untuk pergi ke paris.
"Caty memang cantik, tapi kenapa harus seperti ini sih. Apa karna semalam aku mempertahankan diriku, menolak Rico dan dia kembali mengejar Caty lagi?" gerutu Hanum.
Hanum melambai ke arah taksi, ia masuk dan berusaha pulang dalam beberapa puluh menit. Pikiran Hanum sangat sedih dan kecewa, maka dari itu ia berusaha melihat history Rico di ponselnya.
"Bandara, benar sekali. Rico menuju paris saat ini. Bandara Soeta menuju Bandara Charles de Gaulle, Perancis membutuhkan waktu penerbangan tercepat sekitar 21 jam dan transit dua kali. Kenapa kamu jahat Rico, kamu pergi tanpa ijin dariku." sesegukan Hanum memukul ponselnya, yang terlihat foto Rico.
Kecewa Hanum, ia tak sadar jika sudah sampai rumah. Dengan menyodorkan beberapa lembar uang biru, Hanum turun tak lupa berterimaksih.
Tapi tatapan Hanum terlihat jelas, kala dua mobil berada di depan rumahnya. Hanum menghapus air mata. Dan berusaha melangkah melewati gerbang rumahnya saat ini.
"Siapa itu, kok di rumah ramai sekali? Lisa juga ga ngabarin apa apa lagi kalau di rumah ada acara."
Hanum masuk melewati pintu belakang, kala melihat jelas dari jendela. Seorang pria dan keluarga yang sedang sumringah tawa bahagia.
Hingga Hanum segera masuk melewati celah pintu lain, yang menghubungkan kamarnya. Hanum merasa kesal saat ini pada Rico, tapi sampai di rumah ia malah melihat aksi pemandangan yang tak ingin ia merasakan cemburu.
"Lelah! sampai juga aku dikamar, sebaiknya aku berendam. Melupakan pikiran nama Rico yang masih saja melintas di otakku."
Hanum melepas seluruh pakaian, menyisakan satu helai penutup atas dan bawah saja. Kamar ia kunci, tapi ia melupakan setengah gorden dijendela kamarnya yang terlihat bayangan, dan tepantul dari arah mobil lain yang baru saja tiba.
~ **Bersambung** ~