
Sesampainya. Lisa menatap meja kursi cafe yang di pesan oleh Fawaz. Tak menunggu lama, ia memesan minuman untuk dirinya dan Sinta serta minuman kesukaan Fawaz.
Sementara Sinta yang masih berada di sebuah pusat perbelanjaan. Ia menatap seorang wanita tak asing melewatinya. Lalu meliriknya dengan sombong.
'Aduuuh cantik. Mirip artis tapi sombong deh.' bisiknya sambil melihat lihat koper dan fashion trendy.
Lisa menatap Fawaz yang telah berdiri di depannya. Lisa pun tersenyum tapi Fawaz tak membalasnya. Hal itu pun membuat Lisa sedikit menyempitkan senyuman.
Tanpa sadar Nestia, wanita simpanan Fawaz di balik kursi lain, dengan pakaian yang sulit di kenali duduk mendengarkan. Meminta seorang pelayan menempelkan sesuatu ke kursi Fawaz, agar ia bisa mendengar percakapan suaminya dengan istri benalunya itu.
"Mas. Kamu datang di waktu sibuk. Ak-aku minta maaf soal kemarin ya. Aku ga bermaksud meminta dan memaksa, aku memang ga tau diri. Aku benar benar ingin membuat kamu rileks dan aku pikir kamu penat akan beban pekerjaan. Jadi aku berinisiatif untuk .. "
"Sudahlah Lisa. Aku memintamu kesini bukan mendengarkan penjelasanmu yang tak berguna. Aku memintamu untuk ini!"
"Tidak berguna, mas kamu kenapa sering banget kasar sama aku, kata kata kamu ga seperti yang aku kenal." lirih Lisa, mengambil sehelai kertas.
Lisa terdiam. Menatap selembar kertas putih dalam balutan tulisan berwarna hijau.
"Heeuuumph.. apa ini Mas?"
"Bisa baca kan? Bukalah! cepat aku ga punya banyak waktu!" ketus Fawaz.
"Ya ampun mas, ini ga benar kan. Mas kamu talak aku, aku salah apa sama kamu. Kalau aku salah, aku minta maaf. Aku bakal perbaiki, lagian aku masih hamil. Kamu ga bisa seperti ini mas." teriak Lisa dengan wajah kepanikan, ia sesekali memegang perutnya terasa keram.
Lisa begitu tersentak ingin menumpahkan rasa sedihnya. Perkataan suaminya yang menyayat hatinya.
Begitu pun Fawaz yang sedang berdiri dan bertolak pinggang menatapnya dengan tajam.
Mas Fawaz. Apa ini benar? Kamu ga serius kan Mas. Mas aku minta maaf. Soal kemarin itu. Aku memang salah, tapi jika aku memilih dan menandatangani. Itu artinya, aku tidak lagi bisa bertemu kamu. Mama Felicia perlu tahu, dan ibu Riris sedang di rumah sakit juga.
"Lisa, ini hubungan kita. Mama ku, ibu asuhku. Atau sekalipun asistenku tidak perlu tahu. Aku datang kemari, jangan kamu persulit. Aku bosan, aku salah tidak bisa berkomitmen! jadi kita akhiri agar kamu bahagia."
"Mas Fawaz, pernikahan kita sudah dua tahun. Kita sedang menantikan anak kita, darah daging mas. Kenapa mas? mas, mata kamu ga benar, wajah kamu juga berbeda. Katakan kalau kamu ga cinta lagi sama aku! ini bukan kemauan kamu kan?"
"Mas .. Aku yakin kamu sedang bercanda kan?" sesak Lisa menatap Fawaz.
"Lalu ... Kamu pikir surat seperti ini, bisa untuk lelucon Haaah ... ?" mengambil surat dan melayangkan di wajah Lisa.
Astaga...!! tak lama Lisa mengucap lantunan asma Tuhan. Tidak biasanya sikap mas Fawaz kaku, dingin, beku dan kesal melihatnya bahkan kasar padanya.
'Ya rabb, apa yang terjadi dengan suamiku. Tunjukan jika pernikahan kami ini di ridhoimu. Kuatkan aku.' batin Lisa.
Lisa terdiam akan perlakuan Fawaz di depan umum. Berharap Sinta temannya saat ini, tak melihatnya.
Fawaz mendekat menatap Lisa. Lalu mencengkram tungku leher dengan keras. Hal itu membuat Lisa meringis kesakitan seperti orang yang menjabak rambut kepala.
"Aauuuuw ... Mas Sakit!" memegang tangan Fawaz. Satu lagi memegang perutnya menahan keram.
"Cepat tanda tangani. Letakan di nakas meja kerjaku nanti malam Lisa, ingat ketika ada aku jangan tampilkan wajah kamu!" melepas dan pergi.
Lisa duduk terdiam kaku. Ia menatap jelas wajah geram Fawaz yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Melipat kembali kertas dan ia masukan kedalam tas mininya. Lalu mengusap air mata dan segera bergegas mencari toilet.
'Nak, mama ga sedih. Jangan sakit dan berontak ya. Kita pasti kuat lewati badai ini sama sama!' Lisa mengelus perutnya.
"Aku kurang apa Mas. Jika aku perlu merubah dan kamu menyukaiku. Aku akan bertahan, kamu ga bisa meminta kita berpisah. Bahkan Mama Felicia pasti terpukul tidak tau, jika aku pergi. Ibu Riris siapa yang merawatnya. Aku benar benar sangat mencintaimu. Lalu anak ini, dia butuh kamu mas." lirihnya.
Perkataan Fawaz dan pertanyaan tak terduga muncul dalam benaknya. Lalu ia segera mengangkat telepon dari Sinta.
Ya, Ta. Aku .. segera kesana oke!! menutup ponsel dan berlalu meninggalkan toilet. Tanpa sadar Lisa yang terburu buru menabrak seseorang dan kembali berdiri.
"Kamu gak apa girls?" tanya seseorang.
"Ya. Tak apa, permisi saya duluan." balas Lisa.
Lisa menjatuhkan surat dari pengadilan. Hal itu membuat seseorang yang tak sengaja menemukan. Setelah menabrak Lisa tak sengaja, ia segera berlalu mengejar. Tapi nahas, kala itu kehilangan jejak. Ray, melihat wajah sembab Lisa, saat jatuh pun pandangan matanya tak beraturan tak melihat ke arahnya juga.
"Menjatuhkan ini, tanpa lihat siapa orang yang ditabrak." cercah pak Ray.
Wanita yang misteri, sangat acuh. Membuat aku ingin terus mendekat saja, kamu memang pantas aku perjuangkan Lisa. Akan aku tunjukan wajah suamimu sebenarnya.
"Gengees deh. Dari mana aja sih Lisa?" sebal Sinta bertanya.
"Sory .. sorry tadi gue antri di toilet."
"Ooowh .. tapi kenapa wajah kamu berbeda ya Lis?"
"Haaaah masa sih. Aku malah mengantuk tau Sin." alasan Lisa. Agar Sinta tak menanyakan lebih.
Lalu tanpa lama, Lisa menarik Sinta untuk mencari barang yang di perlukan. Agar Sinta tak banyak bertanya lagi tentang wajah atau apapun yang banyak di pertanyakan. Tapi hati Lisa sedih tak terkontrol saat ini, tak bisa ia sembunyikan lagi.
"Lis, pak Ray tuh. Di sini juga dia?"
Lisa yang tahu batas, ia memilih menghindar dan meminta Sinta tidak mendekat. Gimanapun masalahnya ia adalah istri orang, terlalu dekat dengan atasan. Membuat Fawaz salah paham terus menerus.
"Ta, apa gue risign aja ya. Apa mas Fawaz nalak gue karena pak Ray?" lirihnya seolah tanpa rem, dengan tatapan kosong.
"Apa, Lis. Gue ga salah denger kan? lo ngomong apa tadi."
Lisa menatap Sinta, bahunya seolah perlu sandaran. Sinta tak menolak, kala Lisa memeluknya dan menangis di bangku taman. Sehingga Sinta duduk dan mendengarkan curahan hati Lisa saat ini.
"Gue ga pernah rasain ada di posisi lo Lisa, tapi gue tau, rasanya dikhianati. Tapi lo yakin ga mau gue bantu? gue bantu apa yang terjadi sama suami lo ya. Jangan sedih lagi! kasian debaynya nanti." Sinta ikut menangis, menepuk bahu Lisa.
"Makasih ya Sin, jujur gue lemas dan ga tau mau apa lagi. Jujur gue bingung."
Ray, yang melihat Lisa terlihat sedih, membuat ia menghindar kala kode Sinta untuk menjauh, berusaha agar Ray menjaga batas pada sosok Lisa.
Tbc.
Mampir juga sambil menunggu ya! novel rekomendasi temen litersi Author.