BAD WIFE

BAD WIFE
RUMAH SAKIT



Hanum saat ini di temani bibi Dena dan Lion ke rumah sakit. Tempat tinggal mereka tak jauh dari rumah sakit al zeera. Sehingga bibi Dena juga sekaligus pulang, karena Rico akan datang menyusul.


"Syukurlah, semuanya baik. Kamu harus tetap paksa makan Han!"


"Iy bi, bahkan Hanum mau ke mama saja. Mau kasih tau kabar baik, nunggu Rico." senyumnya sambil mengelus perut yang rata.


Lion mendekat ke arah Hanum, memeluk dan menatap senyum padanya.


"Kenapa Lion sayang?"


"Boleh Lion panggil mama Hanum?" tanya bocah itu.


Kekurangan kasih sayang, membuat Hanum prihatin pada Lion. Hanum pun tersenyum dan meminta Lion untuk selalu berkunjung padanya serta main bersama.


"Tentu sayang, mama Hanum dengan senang hati." gemas Hanum, mencium kening Lion.


"Han, kamu ga apa duduk di sini. Bibi mau ada acara ke sekolahan Lion. Rico udah mau sampe belum?"


"Ga apa, Hanum juga masih antri obatnya. Rico pasti segera datang. Hey ganteng, semangat ya les nya. Jadi anak pinter dan kuat ok!"


Lion tertawa dan mengacungkan jempol, bibi Dena pun pamit hingga Hanum sendiri saat ini duduk menunggu.


Namun saat itu, ia menoleh pada wanita yang baru saja duduk dan Hanum saling menatap berusaha mengenali.


"Irene, kamu di rumah sakit ini juga?"


"Hah, Hanum. Akhirnya setelah lama aku benar benar ingin bertemu kamu!" memicing kode mata.


Hanum dan Irene saling bercerita, bertanya dan menatap sekeliling ketika Irene seperti ketakutan. "Kita pindah ya! aku tau tempat khusus. Supaya kamu aman cerita, Ren!"


POLY ANAK.


"Apa yang kamu lakukan Irene, kamu menyembunyikan apa?"


Streeeth! secarik kertas itu terjatuh. Hanum menatap bulat dan menyembunyikan air mata nya. Irene menatap dan melaju ke arah Hanum.


"Aku minta maaf sama kamu Hanum! aku banyak bersalah, kamu tau saat aku di tolong oleh pak Mark. Aku berniat merusak hubungan mu dengan pria sekarang! aku berusaha meminta Rico menolongku, dan aku ingin menyingkirkan kamu, aku ga suka kamu bahagia. Setelah Alfa campakin aku, bantu aku lepas dari Peter! aku sakit parah Hanum. Aku mohon!" isak tangis Irene, pecah tak terbendung.


"Itu udah berlalu, jangan di ungkit. Aku ga marah dan benci sama kamu Ren! aku akan bicara sama mas Rico. Bukti dan visum kirimkan saja ke alamat tempat tinggal mamaku, tulis nama sahabat. Supaya siapa pun ga curiga!"


"A-aku menunggumu Hanum, makasih atas luang waktumu. Aku mengirim surat sudah dari lama, tapi tak ada balasan. Syukurlah aku bertemu kamu, Tuhan menjawabnya!" jelas Irene.


"Pergilah sekarang Irene! agar Peter tidak curiga, terlalu lama nanti dia mencarimu!"


"Heuumph. Sekali lagi makasih."


Hanum sedikit memikirkan Irene, entah mengapa jiwanya kasihan pada Irene saat ini. Hanum berusaha akan membantunya, jika mas Rico tak mau menolongnya.


Rico yang telah jam makan siang, ia segera


menghubungi sang istri. Tapi ponsel Hanum diluar jangkauan. Entah apa yang terjadi, Rico memberi pesan pada supir, jika Hanum saat ini di jemput oleh supir pribadinya.


Hanum menyimpan rapat hasil pemeriksaan Irene dengan memotretnya. Ia menyimpan di file terkunci sehingga Rico tak akan tau jika memeriksanya. Hanum merasa tak percaya, jika Irene benar benar mengirim surat pertolongan, mengapa Rico tidak memberitahunya.


"Sebenarnya kenapa bisa serumit ini, aku percaya pada mas Rico. Tapi Irene bilang, dia meminta bantuan pada Rico dan surat ke alamatnya? tapi aku ga pernah lihat." gumam Hanum.


Bagaimana bisa Irene mempunyai sakit seperti itu?!


Namun saat Hanum ingin berjalan ke arah loby. Perlahan mata Hanum tak bisa melihat dengan jelas. Perlahan Hanum kehilangan keseimbangan.


Hanum berdiri dan mual ingin muntah itu kembali, rasa sakit di kepala serasa ingin pecah membuatnya tak bisa menahan. Rasa sakit yang tak tertahan, mata yang merah menahan sakit membuatnya menjambak rambut sendiri karena rasa sakit yang luar biasa.


"Mas, kamu sudah dimana? kepalaku sakit sekali." ingin jatuh.


Bruugh!! Hanum merosot kala di parkiran. Ponselnya juga jatuh ketika tangan Hanum lemas tak berdaya. "Kenapa seperti ini, kepalaku pusing sekali?"


Tiba saja seseorang datang, menatap Hanum yang melihat remang.


"Selamat datang Hanum, bagaimana jadi orang baik? baguslah! kamu sekarang ikut aku!" lirih seseorang.


Tbc.