BAD WIFE

BAD WIFE
OTW RUMAH BARU



Hanum yang membuka pintu, ia ikut di kenalkan pada istri Afandi. Lalu meminta Hanum untuk sabar dan semua kehidupan memang bagai roda berputar, tak bisa di tebak. Hingga saat itu juga Rico merangkul membawa Hanum mengantar tamu yang ingin pulang.


"Mbak Hanum, saya sudah suruh orang untuk menyewa mobil rental. Hanya setengah jam lebih kita sudah bisa antar mbak Hanum ke desa Arga. Semoga betah ya mbak, desa Arga sangat hijau. Pokoknya dingin sejuk." ungkap Bilah.


"Makasih mbak Bilah, saya merasa bersyukur deh. Karena di saat seperti ini, mas Rico masih di kelilingi orang baik. Di saat kita ada musibah, masih banyak orang berhati baik. Kami pasti ga akan lupa."


"Jangan sungkan mbak Hanum, kebaikan Rico dan keluarga itu jauh lebih dari ini. Ini hanya bantuan kecil kami, dan soal bengkel. Atau biaya supir. Rico, lo ga perlu mikirin ya! biar urusan gue itu!' ucap Afandi pada Rico.


"Thanks bro."


Sapaan hingga obrolan, Hanum dan Rico melihat jelas sahabat sejati. Kawan yang sibuk tapi sekalinya bertemu ia berusaha melindungi, dan memberi bantuan di saat dirinya sedang berkelit masalah meski saat ini berjauhan. Hingga mereka pamit, dan Hanum serta Rico melambai.


"Mas, Hanum udah kabarin Lisa. Kalau kita baik baik saja, saat ini mama kan ikut kak Lisa. Hanum kabarin ke mereka untuk tidak usah datang temui kita, Hanum takut perjalanan dan kalau mama tau, mama syok."


"Benar sayang, mama sebaiknya memang tinggal bersama Lisa. Ada tante Felicia, selaku dokter yang siaga. Lagi pula kegiatan Lisa lebih banyak di rumah kan. Mas yang minta maaf, karena ini kita harus mengirit."


"Mas, udah dong. Jangan merasa bersalah lagi!"


Saat ini Rico berkemas dari resort paraland. Tapi mereka berusaha makan bersama di rooftop pemandangan yang sangat asri. Tak lupa Hanum dan Rico mengabadikan segala hal untuk terakhir kalinya. Sebelum mereka berangkat ke desa Agra.


"Mas, mbak Bilah bilang. Satu jam lagi supir rental datang jemput kita. Baik banget sih mereka, kita ga bisa kasih apapun malah."


"Udahlah sayang, bantu doa ya. Supaya tuntutan yang dilayangkan Alfa itu kalah, doakan mas menang. Mas yakin seluruh pegawai akan syok, saat ini mereka bingung karena tiba tiba atasan dan pemilik berbeda. Belum lagi banyak yang di keluarkan."


"Ah! gimana Dewi dan Vita mas. Mereka punya adik istimewa, belum lagi orangtua lanjut. Kalau mereka di phk, gimana ..?"


"Hanum sayang. Tau ga kenapa mas makin sayang sama kamu?"


"Kenapa mas?"


"Kamu itu lebih mementingkan, dan memikirkan orang lain, di banding kamu sendiri. Bahkan dirimu saat ini masih sedikit trauma, kenapa kamu selalu mengasihani orang lain di saat kamu sendiri sulit?"


"Mas, aku hanya ga tega. Karena aku pernah temui Dewi dan Vita saat itu, kamu tau kan mas. Hidup ini harus saling peduli dan empati terhadap sesama."


"Good Wife, baiklah. Ayo habiskan makannya!"


Rico menyuapi Hanum, mereka saling bergantian saling suap. Burung berkicau, angin menerpa dan segalanya membuat mereka terlihat sangat bahagia. Ingat satu hal, mustahil tanpa uang setiap pasangan akan bahagia, tapi ada yang lebih berharga dari sebuah materi. Yakni kebahagiaan yang Hanum rasakan adalah bersama suaminya Rico. Bahkan di saat sulit, bantuan Tuhan akan selalu ada dalam jalan ketentuannya.


Ada sosok ayah yang Hanum rindukan, yang selalu membuat dirinya bagai ratu, yakni Rico yang ia lihat begitu mirip mendiang sang ayah. Sosok Rico yang melindungi dan pasang badan ketika dirinya terpuruk dan jatuh sejatuhnya.


Hanum yang masih melihat Rico bercerita panjang, ia menempelkan kedua tangannya di pipi sambil memandang wajah suaminya dengan senyuman. Dulu dia adalah seorang wanita gendut, saat dirinya merasa takut untuk menikah lagi, dan merasa hanya ingin sendiri. Sosok Rico lah yang membuat kepercayaan dirinya kembali naik, mood dan benar benar menemaninya olahraga, menjaga pola diet tanpa memaksanya harus kurus dan terlihat cantik.


Tapi aura kecantikan itu berasal dari hati, aura itu akan bersinar ketika pasangan mendukungnya dan menerima apa adanya, bahkan Hanum tak pernah stress dan merasa selalu bahagia, benar dia adalah pria yang baik dan melindunginya. Hingga ia memilih seorang istri, tak menyalahkannya karena masa lalunya. Bahkan seluruh harta saja ia lepaskan dan mengalah demi masa lalu Hanum yang berkelit dari Alfa Jhonson.


'Alfa, saat ini aku akan berjuang bersama Rico, suami perfect ku. Dan saat ini, aku tidak akan segan untuk mengampuni. Bahkan sekalipun kamu benar benar gila sekalipun. Aku pastikan kamu tetap berada di jurang penjara hingga berlumut, usia menjemput azal mu!' guman Hanum, dalam batinnya berderu.


"Sayang, kamu dengarkan yang mas katakan?"


"Ya, mas. Aku dengar, aku sangat bahagia, keadaan apapun aku selalu bersyukur dan tak ingin kamu jauh jauh dari aku! eh, mas itu kayaknya supir rental yang di kirim mbak Bilah deh."


Hal itu membuat Rico menoleh, dan ia tersenyum ketika satu mobil dari belakang ikut melambai dan berteriak.


"Ric, ayo berangkat! kami akan mengawal kalian dari belakang!" teriak Afandi.


Hanum dan Rico saling menatap, benar saja ada dua motor dan satu mobil polisi dibelakangnya ikut mengawal Rico sampai desa Arga.


"Mas, apa ga berlebihan. Sahabat kamu ikut mengawal dan membawa pasukan. Mas, kita balas apa. Bahkan di rumah baru nanti, kita ga punya apa apa."


"Sayang, udahlah. Kebaikanmu dan kebaikan seseorang akan dibalas tanpa di duga duga. Kita ikuti alurnya, oke!" kecup Rico pada kening Hanum.


Sehingga Hanum dan Rico turun ke bawah, lalu membawa beberapa koper, tak lupa supir membantu Hanum mengangkat koper miliknya dan di taruh di bagasi. Hingga Hanum lupa melirik seseorang berpakaian serba hitam yang seperti mengawasinya.


"Sayang kenapa ayo masuk?!"


"Mas, kenapa orang itu merhatiin kita ya?" lirih Hanum.


Hal itu membuat lirikan Afandi, pada rekan polisi dan beberapa intel untuk mengawasi. Agar Rico dan Hanum benar benar selamat sampai tujuan.


"Tetaplah tenang! bu Hanum, tenanglah. Itu hanya orang kami, yang sedang memancing antek antek Alfa. Di perbatasan kami sudah berhasil meringkusnya. Dan nanti kami akan meminta keterangan lebih detail, agar mereka mau buka mulut." jelas Afandi.


Lagi lagi Hanum dan Rico terharu, lalu Rico menepuk bahu Afandi dengan lembut.


"Thanks bro!"


Dan saat di perjalanan, mereka terhenti ketika satu truk menghadangnya. Sehingga beberapa mobil memenuhi dan membuat kemacetan.


Tbc.