
"Han, bisa ambilin kotak putih itu gak?" titah Alfa.
"Yang mana, yang ini kotak nasi."
"Bukan yang itu, yang satu lagi!"
"Yang ini p3k dan yang ini. Apa ini ya?"
Hanum kembali membuka plaster penutup kotak kecil, ia begitu terkejut ketika isinya adalah sutra dengan banyak varian. Segera Hanum menutup dan melempar ke tong sampah kecil dekat meja tv.
"Kok di lempar, ambilin obatnya Han, masa di buang sih?"
"Ada kecoanya? Lain kali ngomong yang jelas, terus jangan panggil nama singkat kaya tadi. Panggil Ha-num. Kalau perlu lengkap sangat ya! Hanum Saraswati." eja Hanum menatap wajah Alfa sambil memberikan kotak obat.
"Ya maaf Han. Namanya juga sakit perut, kalau lagi sehat juga udah pasti malas minta tolong sama cewek sadis kaya kamu. Cewek kaya Hantu pilihan mama aja belagu." lirih Alfa.
Hanum menoleh, ia lalu beranjak kekamarnya. Setelah semalam banyak meminta tolong, kali ini mulai lagi pria angkuh itu tidak tau terimakasih. Hanum mengatur nafas untuk tidak emosi, ia segera kedapur meminum jus pare andalannya, serta herbal dari klinik rekomendasi mbak Nazim. Meski panas sudah mendidih, kali ini Hanum merasa tenang ketika bel berbunyi.
TING NONG!
"Itu pasti mama Maria."
Benar saja setelah ia meraih pintu, mama mertuanya datang menjulurkan senyuman lebar dan kedua tangan dengan plastik besar.
"Hai sayang, anak perempuan mama. Kamu lama ya nunggu mama? Eh ya, gimana soal Alfa baik baik saja. Ga neko neko kan dia lagi sakit?"
Pertanyaan mama mertua saat ini, membuat Hanum semakin bingung. Segera Hanum mengambil alih untuk membicarakan hal lain. Ia menanyakan sang mama kenapa tidak diantar supir, juga membawa belanjaan seperti ingin prasmanan saja.
"Tenang saja, mama beli catering langganan ini. Mama tau kamu suka makan Rendang dan kepala ikan kakap kan? tapi untuk Alfa dia hanya boleh sup cream dan bubur ayam saja, atau nanti mama buat masakan lain deh."
Bisa begitu ya? Anak sendiri di lupain. Malah bawain makanan untuk menantu rasa anak kandung, perhatiian sekali.
Gleuuk! lagi lagi menggoda iman, Hanum segera senyum menerimanya. Soal makan atau tidak, ia sudah bulat untuk tidak tergoda. Tapi ia segera akan memberikan pada bi ijah pembantu harian yang tak jauh lokasinya bekerja di rumah Alfa saat ini. Meski begitu yang hanum pikirkan adalah dia telah mati matian menurunkan berat badan, sudah tak ingin di caci. Tetap saja ia masih sering tergoda sekedar ngeces, membayangkan makan makanan favoritenya itu.
'Kenapa kalian begitu jahat, apa mama dan mama mertuaku kompak ingin aku terlihat gendut. Meski aku menurunkannya demi sebuah kesehatan dan tidak lagi di caci.'
"Mah! aku pasti makan, tapi aku harus segera datang sebelum terlambat. Aku ada interview ulang dengan bosnya. Ka Lisa juga udah nungguin aku ga jauh dari kantor cafenya."
"Oh sayang! mama juga udah denger kok. Kamu yakin mau bekerja, tapi mama juga bisa apa. Ingat kalau hamil nanti, kamu resign ya!"
Gleuuk! lagi lagi Hanum skak mati. Mencoba menarik nafas, semoga harapan mama mertuanya itu tak pernah hadir. Jujur ia belum siap jika kelak ada Alfa junior yang sama sama super menyebalkan dan aah! tidak perlu dijelaskan Alfa seperti apa.
Hanum segera meraih tas hitamnya. Lalu membawa sebuah map biru berisi prosedur persyaratan yang kurang. Tak lupa mencium tangan mama mertua dan memeluknya. Lalu pamit dengan sopan, meski mata Hanum bergelora memutar ke wadah mangkuk makanan saji menggugah selera yang mama mertua bawa.
'No! cukup tergoda Hanum. Pikirkan cacian pria angkuh sok kaya dan sok paling tampan di dekatmu. Misi dan Visimu harus sejalan tak boleh berubah hanya karna rendang ataupun kepala kakap.' itu adalah jeritan Batin Hanum saat keluar dari rumah.
***
APA MAH?
Alfa yang telah istirahat sejak tiga jam lalu. Dan memakan sup ayam jahe buatan sang mama dan hampir terlelap. Membuat detik jam tenaganya kembali pulih. Ia mencari mata indah dimana wanita gempal yang terlihat ramping saat ini berada.
"Kamu cari apa sih, matamu itu gak bisa di kondisikan deh. Lirik bi ijah ya?"
"Ikh. Mama mana mungkin aku lirik mbok yang udah nenek nenek. Aku cari istriku lah mah,"
"Loh emang ga ijin, dia kan ke kantor telkom yang di bicarain Lisa. Emang kamu ga ada di group ya?"
"Al. Alfa, kamu kan belum pulih bener itu, jidat kamu belum lama bocor, yang bawah juga. Nanti kalau kebelet dijalan gimana?" teriak ibunda Alfa yang super gokil memanggil sambil mengupas buah jeruk dan melahapnya.
TUK! TUK.
"Permisi pak perkenalkan, nama saya Hanum Saraswati.."
Seorang manager baru saja tiba, Hanum begitu terkejut ketika melihat atasannya itu adalah orang yang tak asing yang ia harapkan dahulu.
"Hanum. Kamu alumni sarung biru di kota indah kan? Benar kamu ini, Hey! masih ingat aku gak?"
"Fa, Fawaz. Hah! kamu benar Fawaz sahabatku dulu?" berlinang haru saat ini Hanum.
Hanum tertawa dan berlinang air mata saat ini. Seolah gambaran hatinya kemarin rindu sahabatnya yang terbaik. Kini kembali di pertemukan tak terduga.
"Hey! udah jangan formal kaya gitu. Kita perlu pesan makan saat ini. Oke!"
Hanum pun mengangguk senyum, baginya bertemu sahabat lamanya itu sudah poin kerinduan semangatnya yang hilang kembali.
"Jadi kamu jadi direktur telkom?"
"Enggak! itu kakak aku lah, cuma dia lagi meeting dadakan. Aku kebetulan jadwal shift malam ini. Ga liat seragam aku apa Hanum?"
"Kamu dokter, Fawaz?"
"Ya! aah, sayang sekali ini udah jam hampir sore. Mau magrib aku harus berjaga. Kerjaan aku di rumah sakit Medical Al Zeera. Kamu harus datang ya Hanum!"
"Ya benar!" senyum Hanum mengaduk sedotan indah berwarna payung lolipop.
Sementara kepergiaan pamitnya Fawaz. Hanum masih berada di meja tamu ruang makan. Ia menghubungi asisten di rumah apakah keadaan baik baik saja. Hingga dimana Hanum yakin jika Alfa akan kembali menyerang mentalnya lagi.
"Jauh sekali sih ini perjalanan, Aaah! capek." kesal Alfa yang telah berjalan kembali pulang. Meski begitu ia kembali ke rumah dan bertanya pada sang mama.
Sementara ia melihat silau taksi datang dengan mengatur nafas berat. Menutup pandangan silaunya lampu, Alfa segera berdiri dengan aksi kaki yang menyeker.
"Makasih ya pak!" Hanum memberikan beberapa lembar uang, dan meminta supir mengambil kembaliannya saja.
"Kau baru pulang selarut ini, Hanum kamu tau jika keluar rumah kamu harus ijin padaku. Termasuk ijin bekerja saat ini?" cetus Alfa dengan bertolak pinggang.
"Mau aku bantu kompres? Aku ambil termometer ya. Kali aja amnesia kamu rasakan saat ini semakin parah."
'Dasar Gendut.'
Duar! sindiran Hanum membuat pintu terbuka dan tertahan oleh tangan Alfa. Dengan sigap Hanum meloncat mundur kala Alfa telah menghadangnya.
"Kamu tau aku siapa?"
Sorot mata tajam itu begitu menyala, hingga dimana pandangan mereka yang tegang dibuyarkan oleh orang tak di kenal.
"Permisi. Malam apa saya boleh masuk?"
To Be Continue!!
Nah kan, lagi tegang ada tamu malam malam. Siapa dia? Ada yang bisa nebak gak?! yuk jejaknya untuk Hanum.