BAD WIFE

BAD WIFE
JUJURLAH



"Hanum. Han, kamu kenapa di tengah jalan?"


Fawaz yang berencana pulang ke rumah, ia tak sengaja menatap Hanum di tengah jalan. Diam tak bergeming, hanya sebuah mata sendu penuh permintaaan tolong. Tapi tak dapat bicara.


"Hey! kamu gak apa apa? kamu kenapa di tengah jalan Hanum. Ayo ikut aku!"


Fawaz meminta Hanum masuk kedalam mobil, sementara Hanum tatapan masih kosong. Hingga dimana ia menangis begitu saja, tak pernah Fawaz lihat hanum seperti ini. Ini pertama kalinya Fawaz kehabisan akal, ia menghubungi seseorang lalu meminta satu kehancuran bagi Alfa saat ini.


"Ya! kirimkan semuanya, ok. Baiklah." Fawaz menutup panggilan. Hanum yang menoleh, saat Fawaz kembali menatapnya. Ia menyadarkan diri dan menunduk.


"Dia kan orangnya?" tanya Fawaz.


"Hanum, katakan sama aku. Apa Alfa menurunimu di tengah jalan saat pulang?"


Hanum mengangguk, sementara Fawaz berhenti di rest area pom bensin. Lalu Hanum mengambil tisue yang di sodorkan Fawaz.


"Apa aku wanita seburuk itu, aku tidak pantas jadi wanita atau istri dari keluarga Jhonson. Aku merasa gila, aku tidak yakin jika aku jatuh cinta padanya. Atau karna bayi ini Fawaz."


Penjelasan Hanum membuat hati Fawaz terpotek. Ia mencoba senyum dan kuat, lalu sedikit bergeming menguatkan Hanum.


"Aku mengerti. Tapi cobalah kamu tidak bersedih dan tertekan Hanum. Bayi itu perlu bahagia, jika kamu tidak bahagia dan tertekan. Maka janin itu juga sama."


"Apa dia akan hidup sepertiku?"


"Dengarlah! nasib itu bisa berubah, tapi takdir tidak bisa kamu hindari. Aku rasa aku antar kamu kerumahmu ya!"


Fawaz mengantar Hanum kerumah sang mama. Ia juga menghubungi Lisa, dengan begitu tidak ada lagi fitnah, jika Alfa mencari kesalahannya lagi. Semua karna ia kasihan pada Hanum.


Tin! Tin!


Beberapa puluh menit, tapi tak ada jawaban. Pagar rumah kosong, terlihat pos security tak ada yang berjaga. Hingga dimana Hanum menghubungi Lisa.


"Hallo, Ka Lisa lagi dimana. Aku di depan rumah."


"Eh, Hanum. Kenapa ga kabarin, kakak sedang acara sama temen. Mama di rumah eyang. Security lagi pulang kampung. Kunci kaka bawa, maaf ya. Kakak ga bisa pulang, di bali ini dek."


Mendengar hal itu, Hanum mengiyakan. Lalu menutup ponselnya dan berkata pada Fawaz. Sehingga ia memilih menginap di hotel.


"Jadi ga ada dirumah, kalau gitu berikan nomor Lisa kakakmu!"


Fawaz menghubungi Lisa, karna ia sudah tau bagaimana hubungan adiknya dengan suaminya itu. Sehingga Fawaz meminta ijin pada Lisa, jika keadaan Hanum sedang tidak baik. Ia akan membawanya ke rumah keduanya selain apartemen yang terhubung dengan cafe.


"Kita mau kemana?"


"Kerumahku! tenang saja, ada mamaku dirumah. Beberapa hari ini mamaku mengunjungiku, hanya beberapa hari. Dengan begitu tidak akan ada fitnah." jelas Fawaz.


"Baiklah, aku lagi lagi berhutang budi sama kamu Faw."


***


Berbeda hal dengan Alfa.


"Darling! sudah berapa hari kamu tidak mengunjungiku. Kenapa kita bertemu di hotel?"


"Masalahku semakin rumit, mama anfal lagi. Jadi aku harus mengurus banyak hal."


"Hamil, ide bagus. Kelak mamaku siuman, aku akan berkata padanya. Aku menceraikan Hanum dan menikahimu. Aku bahagia bersamamu Irene."


Hal itu membuat Irene tertawa puas, setidaknya kemenangan untuk menjadi nyonya Alfa akan terwujud. Meski ia masih belum tau, bagaimana rasa tak enak di perutnya itu. Karna ia yakin setelah searching itu adalah tanda awal kehamilan bagi ibu muda sepertinya.


Alfa pun menekan power ponsel lantas buru buru menyingkirkan lilin di atas lantai. Ini pasti ide Irene. Dia memesan kamar luas dengan taburan bunga membentuk love di atas ranjang. Bathtub pun berukuran besar dan dikhususkan agar dipakai berdua.


Sayangnya, semua fasilitas romantis ini hanya akan berakhir cepat. Irene tak ingin membuang waktu, ia segera melepas kemeja Alfa dan begumul manja.


Setelah menyingkirkan lilin ke sisi yang lebih aman, Irene menepuk nepuk ranjang. Sehingga kelopak mawar beterbangan ke bawah ranjang.


Irene melihat Alfa membaringkan tubuh atletisnya di samping kanan. Padahal kanan adalah posisi favorit Irene. Namun, dia menahan diri agar tidak protes sebab kalau Alfa sudah tidur adalah berkah, bagi Irene untuk bermanja kerinduan.


Setidaknya mulut pedasnya tidak akan menyakitinya lagi, ketika ia menagih janji untuk minta dinikahi.


Beberapa saat kemudian, Irene bergabung. Dia mengambil guling dan dengan hati hati menaruhnya di antara dirinya dan Alfa.


Sudah tidurkah Alfa? Punggungnya yang kecoklatan dan terlihat liat macam pemandangan yang membuat Irene betah menatapnya. Lelaki itu tidur tanpa selimut. Haruskah Irene menawarkan selimut?


Lagipula mereka sudah sama sama dewasa. Dibanding memikirkan hal buruk, lebih baik mereka berkompromi tidur satu ranjang serta satu selimut tanpa saling bersinggungan, bukan?


Hanya melamun tidak jelas, Irene memutuskan membiarkan Alfa kedinginan. Kalau lelaki itu kedinginan tidak mungkin buka baju, bukan? Dia pasti akan kembali merengkuh tubuh indahnya ini. Sombong Irene karna dirinya lebih cantik dan jauh dari wanita gendut bernama Hanum.


Irene pun merebahkan dirinya dan memunggungi Alfa. Dia mengambil posisi paling jauh dan benar benar akan terjatuh jika berguling sedikit saja.


Memejamkan mata, Irene berharap pernikahan indah nan mewah nanti, membawa pengaruh baik kepada dirinya dan Alfa. Apapun keputusan finalnya berakhir bagaimana, Irene sudah sangat yakin akan menjadi nyonya Alfa. Lalu bisa membalas pada wanita yang pernah tidur dengan Alfa suaminya, termasuk dendam pada Hanum.


Baru beberapa saat rasanya Irene terlelap saat kecupan mesra beruntun dia dapatkan di tengkuknya, Alfa kembali bermanja bersama Irene.


***


KE ESOKAN HARINYA.


Hanum yang mencium aroma susu, ia kembali membersihkan diri. Lalu membuka tirai jendela. Menatap jam masih pukul tujuh pagi, tapi perutnya sudah tak tahan dan lapar. Entah karna semalam ia belum makan sesuatu, atau karna dirinya yang kini telah berbadan dua.


Hanum tepat berada di kamar pertama, ia membuka pintu sudah disuguhkan dengan aroma roti panggang. Terlihat wanita paruh baya dengan rambut kekuningan, terlihat wanita itu tersenyum menyambutnya.


"Sudah bangun? bagaimana cukup istirahatnya sayang?"


"Pagi tante, saya Hanum. Saya .."


"Tante udah tau banyak soal kamu, dan soal masalahmu. Tante no coment, sekarang kamu duduk. Lalu sarapan dan minum susunya. Setelah itu minum vitamin. Makan buah, nanti sedikit lagi jeda, baru makan ya! tante masih belum selesai masak makanan berat." jelasnya.


"Tante. Mama dari Fawaz kan?"


"Heuumph! kenalkan namanya Felicia. Bebas mau panggil tante Feli atau mama Feli Sekaligus dokter kandungan!" senyum.


"Maksud tante, tunggu. Kartu nama ini?"


"Owh! itu memang tante sayang. Tapi karna saat ini buat klinik sendiri. Tante mau lihat Fawaz tumbuh rencananya. Sekalian mau banget Fawaz cepat nikah. Kamu sahabatnya kan, kasih tau tante ya! Dia suka sama siapa?"


Mendengar hal itu, Hanum tersenyum getir. Perlakuan mama Fawaz sangat baik. Tapi bagaimana jika Fawaz bicara tentang dirinya dan Fawaz yang ingin serius berkomitmen. Apa tante Felicia akan setuju?


To Be Continue!!