BAD WIFE

BAD WIFE
TIDAK MARAH



"Mas, tapi aku ga merasa kenal." jelas Hanum.


"Anda siapa? sebaiknya kita mengobrol di cafe depan. Anda pergi lebih dulu, saya dan ini istri saya akan membayar dulu!" jelas Rico dengan gentle, merangkul bahu Hanum.


"I-Is-Istri. Ba-baiklah. Saya akan tunggu di depan." ujar Emil.


Emil yang tiba saja patah semangat, ia pikir pria di samping Hanum adalah kakaknya. Sudah lama mengejar, akhirnya harus patah semangat kala mendengar pernyataan. Tidak sampai disitu, Emil berharap Hanum bisa mengingatnya dan berharap memberi penjelasan.


"Sudah semua, sayang kita bawa barang ini ke mobil. Setelah itu kamu bantu mas untuk memencet alarm mobilnya!"


"Iy mas."


Hanum yang telah membeli beberapa barang di baby shop. Rico menggapai beberapa barang belanjaan mainan dan kebutuhan anak anak balitanya, dibantu karyawan baby shop sampai ke dalam loby parkiran. Sehingga saat itu Rico segera menemui pria yang membuatnya kesal dan marahnya mereda ketika ia tak ingin menunjukan kemarahan berlebih pada istrinya, sampai benar benar Rico tahu.


Desir itu semakin mengguguhku. Mata kehijauan itu entah bagaimana juga ikut membuatku pelik, kebingungan di saat yang sama. Hingga pada akhirnya kami saling membuang muka, sama sama menatap ke depan. Aku dengan hati remuk, dan Hanum dengan sesuatu yang seperti dia sembunyikan menatap Rico di balik sorot dinginnya, kala mereka sudah berada di meja yang sama dengan Emil.


"Silahkan di minum!" ucap Hanum membuka pembicaraan.


"Langsung saja, ini foto sejak smp dan sma. Kamu Hanum Saraswati kan? sekolah alumni kosgoro 31 bandung."


Hanum terdiam, ia mengamati sebuah foto dan menatap kembali dengan helaan nafas, lalu menoleh ke wajah Rico.


"Iy benar, tapi kenapa saya lupa dengan siapa tadi nama kamu? dan saya rasa kamu salah orang. Yang kamu maksud bukan Hanum aku."


"Kok bisa? apa caramu seperti ini pergi dariku Hanum. Kamu pergi tanpa pamit loh saat itu."


Beberapa puluh menit Rico membiarkan Hanum berbicara dengan pria di depannya. Dengan seutai ponsel, Rico meminta Erwin mencari data ponsel pria di depannya saat ini.


Rico meminta data seorang pria bernama Emil yang mangaku ngaku mantan terindah Hanum!!


Dengan sedikit alot, Hanum akhirnya ingat siapa pria di depannya ini.


"Baiklah, aku mengerti saat ini. Jadi begini, aku baru ingat. Waktu itu aku dan kakakku bertukar nama, dan kamu pasti salah sangka. Saat itu aku dan kakakku memang sangat mirip! perhatikan tanda lahir dan tahii lalat di pipiku dengan orang yang kamu tuju!" ujar Hanum.


Emil dengan perlahan kembali ingat, jika wanita di depannya bukan Hanum yang ia cari. Tahii lalat bukanlah diatas bibir, sementara Hanum yang ia cari lebih putih, rambut pirang dan sedikit lebih cerah alias putih dan ramping. Bukan berisi seperti yang saat ini ia temui.


"Jadi endingnya..?"


"Ya, kamu salah paham. Aku ingat, kamu kelas delapan kan. Saat itu aku dan kakakku kak Lisa bertukar nama, saat ia berkenalan denganmu. Tapi sayang kakakku sudah tiada, dan jika kamu mau tahu lebih lanjut. Kamu bisa hubungi kartu nama yang aku berikan, nanti aku beri tahu makam kak Lisa."


"Ah! Jadi benar aku salah sangka. Oh tidak." lemas Emil.


"Kalau begitu kami pamit ya! bayi bayiku dirumah sudah rewel, masih banyak kerjaan yang harus saya lanjutkan dengan suami saya. Dan saya harap jaga sikap anda ya pak Emil. Semoga anda mendapatkan jodoh yang lebih baik! maaf kesalahan kakak saya Lisa yang sering buat ulah." ucap Hanum.


Rico memegang tangan Hanum, mengecup dan manisnya senyum menatap istrinya. Begitupun Hanum sangat beruntung mempunyai suami seperti Rico yang tenang, dan juga sangat dewasa membuatnya menjadi wanita paling bahagia dan paling beruntung.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


"Siap bu bos." Rico senyum sambil menyetir.


Mobil kemudian berhenti di seberang sekolah dasar. Berbondong anak-anak berseragam merah-putih keluar dari gerbang. Mungkin, karena sepertinya sekolah itu adalah sekolah elite, tak terlihat pedagang memenuhi area depan gedung dengan gerobak mereka hingga tak membuat sempit jalan umum.


“Apa kamu melihatnya?” tanya Rico, membuat Hanum menoleh.


“Apa?”


“My boy.” Rico memosisikan duduknya. Menatap lurus ke jendela di sampingku sembari tampak mencari cari objek yang ramai di depan gerbang.


“Dia paling mencolok. Juga Leo.”


“Leo?”


Setahuku, Leo itu cupu, culun, identik dengan kutu buku. Tak di sangka ia disekolahkan oleh Rico sudah tumbuh besar dan sangat tampan. Ia sosok anak yang kurang beruntung, dilahirkan dengan kedua orangtua yang mementingkan diri sendiri dan kini Rico mengangkatnya seperti anak, membuang Adelia yang notabane adiknya saat ini.


"Mas, akan menyayangi Leo seperti anak sendiri, dia jadi anak terbesar kita sayang. Mas harap kamu juga bisa menerimanya."


"Mas, Leo keponakan mas yang cerdik. Ia tumbuh dengan cepat di usianya, dan Leon sangat beruntung punya mas. Hanum tidaklah memandang bagaimana ibu kandung Leo yang entah dimana. Yang jelas Hanum sudah memaafkan Adelia. Dan Hanum tidak menyangkutpautkan antara Leo dan Adelia ibu kandungnya. Sejatinya mas memberikan kasih sayang yang tulus, Leiondra yang akan sering di sapa Leo bagi kita, pasti akan menjaga nama mas kelak." jelas Hanum.


“Rekan bisnis mas, bilang kalau anakku adalah hadiah paling baik karena kepribadiannya yang cukup berbeda dengan anak tujuh tahun lainnya. Mereka tidak tau, karena perbedaannya itu, kami jadi susah akrab. Terlebih Leo sudah besar mas angkat." jelas Rico yang menyekolahkan Leo di sekolah elite, menjelaskan pada Hanum saat ini.


Sekilas, kulihat Leo tersenyum tipis sebelum aku mengalihkan wajahku ke samping, begitu tangan kanannya menjulur menunjuk ke arah gerbang.


“Ah. Di sana,” ucap Leo menunjuk Hanum.


“Yang berdiri sendirian. Rambut lurus diikat satu. Pakai kacamata bingkai merah.” Leo menarik tangannya kembali.


“Ketemu?”


Hanum menyambut Leo, ia keluar dan merentangkan tangan untuk menyambut Leo, Rico menggeleng kepala karena pening dan berharap Hanum bisa menerima Leo anak dari adik angkatnya itu dengan tulus.


Apa pun itu, sepertinya itu bukan hal yang penting. Betapa banyak orang orang menemukan seseorang yang mirip dengan mereka, padahal tak ada hubungan gen yang mengikat mereka. Jadi, lupakan saja tentang kemiripan. Toh juga, kami hanya mirip di wajah saja. Lihatlah mata kehijauan dan rambut cokelatnya. Itu benar benar turunan tuan Mark. Rico dan Leo bagai sosok ayah dan anak, tidak seperti paman dan keponakan pada umumnya.


"Mama tante, Papa uncle! sudah datang. Jemput Leo?" senyum Leo.


"Ya, kita pulang. Kamu ingin tinggal dan lihat adik adik kamu kan?" ucap Rico. Dan Leo mengangguk, ia melipat tas. Lalu mengikuti arah tangan mama Hanum yang menuntunnya.


"Jangan lagi sebut tante dan uncle. Ucap singkay saja ya Leo! Mama, Papa. Kamu jadi kakak dari Ghina, Ghani dan Azri. Oke." gemas Hanum.


"Ok momy. Eh Mama." tawa Leo menggoda.


TBC.