BAD WIFE

BAD WIFE
DESA AGRA



"Sayang, kenapa mas lihat kamu berdiri di sana?"


"Mas, aku tadi. Ini loh mas, sandal jepit aku putus. Maaf aku terlambat bawa rantangnya."


"Tidak apa sayang, asalkan jangan cinta kita putus seperti sandal ini."


Jiaahhaha!!


"Biar mas tak pakai alas, kamu pakai sandal mas."


"Mas malu ih, gombal terus. Eh, tapi mas pake apa? Jangan deh, aku pulang dulu ganti sandal."


"Sayang, suamimu akan selalu melindungi dan mengalah. Mana mas tega lihat kamu ga pakai sandal, sedangkan mas sempurna pakai. Biar mas pakai sandal sebelah atau nyeker sekalipun, tak apa mas mengalah. Jangan capek, kasian baby nya ikutan capek."


"Maas," tersipu malu.


Hanum merasa tersenyum, lalu lupa menatap beberapa warga yang berbisik dirinya adalah pasangan manis. Tak segan mereka menyapa dan mendekat.


"Bu Hanum, seneng deh. Pak suami perhatian bener."


"Ah, ini bu. Kebetulan mas Rico..?" terhenti ketika Rico memotongnya.


"Memang serharusnya begitu kan bu ibu. Masa suami tega lihat istrinya ga pakai sandal. Apalagi sebelah begitu."


"Lah, kalau suami kita orang mah. Huuuuuhuu." bersorak.


"Kenapa, sama kan bu?"


"Alah bu Hanum asal tau aja nih ya, sepuluh tahun udah nikah kaya gini ibu tampilannya. Nih ya kalau bawa nasi lauk di rantang aja makan sendirian. Kagak inget yang masaknya, apalagi bini udah bawain." cibir bu Ropiah.


"Betul itu, tapi wajar sih masih suasana pengantin. Jadi masih seger seger asem mengkudu." celetug bu Romlah pada bu Ropiah.


Eheeuk! Hanum menutup wajahnya sedikit batuk, kala ibu ibu desa rumpi dan ghibah. Namun Rico melirik seolah gatal dan berbisik pada Hanum.


"Insyallah mas, dan kita akan manis sampai tua nanti." bisik Rico.


"Duh, bu ibu. Kalian semua mendingan pergi ke para suami kalian itu di tegal, udah kepanasan! bukan kasih minum, kering tuh kerongkongan suami bu ibu. Malah ghibah sama bu Hanum dan pak Rico."


"Duh pak Desa, sirik aja. Namanya juga kenalan sekaligus ajakin rumpi. Kapan lagi coba, deket ama orang kota. Mari bu Hanum, saya dan semuanya duluan ya. Maklum pak Desa lemes sirik bae gitu." ujar bu Romlah.


"Ya bu, sama sama." balas Hanum.


Sehingga Hanum dan Rico sedikit salting. Dan pak Abdul memanggil Rico untuk mengikutinya. Hanum ikut mengekor dari samping menatap punggung suaminya.


Mereka berjalan menuju arah perkebunan. Rico diberikan pemikiran bagaimana seluruh petani bisa bertahan hidup. Dari mulai menanam biji benih, serta merta panen dan kemungkinan gagal panen.


"Ini udah panen di giling kemana pak?" tanya Rico.


"Memang upahnya kalau boleh tau berapa ya pak Abdul. Maaf kalau sedikit sesnitif?" tanya Rico.


"Biasanya hanya di hargai. Empat puluh dua ribu pak Rico. Tapi kalau jagung sekitar tiga puluh delapan ribu." jelas pak Abdul.


"Apa cukup mereka mendapat upahnya pak?" tanya Rico terheran.


"Ya, kalau disini sudah jelas desa. Untuk sehari hari saja mah. Ya dicukupi cukupi saja toh."


Hanum melirik ke arah satu keluarga, lalu terlihat lima anak kecil yang seperti anak tangga. Mereka ikut ramai ramai mengitari kedua orangtuanya yang sedang bekerja. Tak terkecuali dua anak yang sudah besar membantu sang bapak membajak sawah.


"Mas, dengan upah seperti ini. Mereka satu keluarga di sana masih bisa tersenyum. Nikmat mana lagi yang harus kita dustakan, masih banyak yang lebih sulit dari kita."


"Ya sayang, kamu benar." Rico menguatkan eratan tangan Hanum.


Pak Abdul mengajak Rico dan Hanum berkeliling. Dari warung, pos, puskesmas terdekat. Jarak rumah Hanum masih di kelilingi beberapa rumah warga. Hanya saja bagian Hanum ke tengah dan sedikit jarak lumayan tidak berdempetan. Lalu ketika lelah, Hanum dan Rico sampai juga ia di rumahnya.


"Akhirnya mas, satu hari di rumah baru. Semoga berkah, semoga nanti malam syukuran halal bihalal juga lancar ya mas."


"Betul sayang, semoga kita tinggal saat ini tetap damai. Mas ga akan tinggalin kamu sendirian. Janji mas, akan selalu jagain kamu."


Mendengar kekaguman Rico, Hanum mengambil pakaian mas Rico dan menggantungnya. Ia sedikit bingung akan gantungan pakaian dimana nanti saat menjemur. Terlihat juga satu genteng bolong, dan itu akan membuat Hanum kebingungan ketika hujan turun.


"Mas barang barang bayi, apa enggak kebanyakan ini mas?"


"Mas sengaja ga bawa semua sayang. Hanya seperlunya saja. Tapi mas yakin, kita bisa menatanya dan merapihkan atap yang bocor. Kita panggil tukang aja ya."


"Mas, tapi uang itu tinggal satu satunya. Kalau mas bayar, terus hari hari berikutnya gimana. Mas tau kan, seluruh atm masih di blokir. Hanum benar benar tidak sempat menarik yang cash. Bahkan rekening kita dibekukan."


"Jangan khawatir sayang! mas akan meminta pak Abdul rekomendasiin mas jadi buruh tani. Asalkan kita bisa menyambung hidup dulu."


"Mas, tapi itu pekerjaan kasar. Mas yakin, Hanum malah khawatir loh."


"Sayang mas khawatir kamu tinggalin mas, kalau soal kerja kasar atau kantoran. Semua sama aja, kan dapat upah. Mas tetap bisa menafkahi kamu. Dan terus bersama sama."


Hanum terharu, ia memeluk Rico sambil berkata dengan lantang.


"Mas, dimanapun Hanum akan terus ikut mas. Apapun itu, terimakasih sudah menjadi pria bijak untuk keluarga kita, kelak anak anak kita pasti bangga punya seorang ayah seperti mas."


"Anak anak juga akan bangga, punya mama seperti kamu sayang." kecup manis Rico.


Dan mata mereka tertuju pada suatu pintu, yang membuat mereka tertegun.


Took! Took.