BAD WIFE

BAD WIFE
PETAKA TERUNGKAP



Fawaz!


Hanum segera menatap jam, ia akhirnya mendapat pesan dari Lisa. Jika saat ini Fawaz sedang dinas Malam di medis al zeera. Ia segera berganti pakaian, dan berniat memberi alasan di acara itu. Hanya karna kesalahpahaman. Hanum tidak ingin masa persahabatannya kandas begitu saja tidak baik. Terlebih soal perasaan yang terbalas, tapi Hanum ragu karna semakin rumit.


Ceglek!


"Alfa, untuk apa kamu kesini?"


"Menjemputmulah! tidur dikamarku!"


"Itu untuk pasangan normal Alfa. Dan kita bukan seperti itu, aku akan pergi jadi singkirkan tubuhmu!" saat itu bahu Alfa di depan pintu. Alfa tak memberi akses Hanum keluar dari rumahnya.


"Silahkan!" lalu senyum mempersilahkan.


Tanpa basa basi Hanum, melewati Alfa dan turun ke anak tangga! Namun ia sedikit aneh, ketika Alfa tak menahannya. Hingga ia mengendap ngendap berhasil keluar. Tentu saja tidak mudah, pintu utama yang lebar menjulang terkunci. 'Aaaach..! ga biasanya dikunci?'


Sementara Alfa tersenyum melambai dari anak tangga. Ia tau, jika Hanum tidak akan bisa keluar tanpa akses sidik jarinya. Belum lagi gerbang ia harus melompat tinggi dengan banyak runcing tajam diatasnya. Sehingga Alfa pergi ke kamarnya dengan terbahak bahak menertawai Hanum istri minusnya.


Hanum kembali mencari pintu keluar, hingga ia nekat menelusuri pintu samping dekat kamar mertua yang sangat besar. Hanum mengendap ngendap berjalan dengan gelapnya lampu. Tiba saja ia tersentag ketika seorang wanita paruh baya sedang berdiri memegang gelas, dan meletakkannya dekat vas bunga.


"Hanum, kamu mau kemana?" tanya Maria.


"Mama mertua, kok belum tidur. Sendirian, kalau mau ambil minum, telepon. Bisa Hanum bantu kan?"


"Tidak usah, Papa mertuamu juga sudah sangat lelah. Mama hanya ingin berjalan saja. Kamu mau kemana sayang?"


"A-aku. Hanum harus pergi sebentar. Hanum sedang janjian dengan teman dokter. Mau meminta berkas mama Rita soal asma kemarin yang kambuh. Hanya sebentar, tapi Alfa ga ijinin." menunduk Hanum.


Tanpa pikir panjang, mama mertua memberikan kode akses. Ia langsung menitipkan kartu biru dengan sidiknya yang tertempel. Hanum merasa tersipu, beterimakasih karna mama mertuanya tidak menanyakan hal lain lagi. Tidak seperti biasa seolah kebanyakan mertua mengintrogasi menantunya.


"Pergilah! cepat kembali Hanum sayang!" tanpa banyak pikiran, Hanum mengambil kartu akses mama mertuanya dan segera pergi. Dalam pikiran Hanum kenapa mertuanya sebaik itu dan mudah percaya pada ucapannya, yang membuat Hanum merasa bersalah.


Sejujurnya Hanum ingin menangis, dia merasa tidak istimewa dan tidak cantik. Semua orang menatapnya penuh. Padahal dulu kala .., ia berpikir punya pacar saja terlalu muluk.


Memangnya lelaki mana yang mau menerima perempuan gemoy sepertinya! ia mengira setiap pria akan menyukai kakaknya Lisa. Ditambah followersnya sangat mengidamkan bentuk fisiknya, tak sedikit juga membandingkan dirinya dengan Lisa.


Namun, lihatlah. Saat ini Hanum sebagai pengantin dengan mempelai pria adalah Alfa Jhonson, si putra tunggal pengusaha ternama.


Jika saat dulu akad Hanum hanya diam tak berekspresi, sekarang tatkala kesedihan di alami. Hanum menangis keras mengingat sang Papa. Ia ingin menghancurkan janji sang Papa untuk bertahan pada pernikahannya. Hanum mengerti yang terbaik untuk kedua putrinya. Tapi bertahan dengan pria macam Alfa itu menyakitkan secara batin. Belum lagi Lisa mendukungnya saat ini, bicara pada Mama itu tidak mungkin karna asmanya yang sering kambuh. Hanum sudah kehilangan sang papa, jadi hanya diam memendam adalah yang terbaik.


BERBEDA HAL.


KRING! SAMBUNGAN TELEPON RUMAH.


"Tuan Alfa. Nyonya Maria drop lagi, sekarang harus gimana?" kata pelayan memberitahu Alfa.


"Sial," maki Alfa, ia bergegas keluar dari kamar. Ia menyusuri kamar sang Mama, dan benar saja. Papa Jhoni sedang membopongnya.


"Alfa! ayo Siapkan mobil. Kita kerumah sakit!" Alfa pun mengangguk.


Alfa yang sedari tadi, melihat papanya memeluk khawatir, juga sampai menoleh tidak menyangka perempuan yang sedari tadi diam saja kini menangis keras.


"Sayang, makasih udah terima aku apa adanya," lirih Maria terisak-isak.


"Apa yang kamu pikirkan, tidak biasanya kamu drop. Tadi pagi kamu baik baik saja."


"Mamah bisa menyadarinya waktu pertama kali melihatnya, dan kita mengetahuinya sejak kecil. Tapi mama rasa Hanum terpaksa karna kita sebagai orangtua. Huhuu." isak Maria.


"Apa." terkejut Jhoni, lalu tajam memicingkan mata pada putranya Alfa.


Jhoni Jhonson menangis lagi. Ia tidak sanggup jika penyakit istrinya kembali kambuh, lagi lagi putranya membuat masalah. Maria tidak bisa sedikit mempunyai beban pikiran, hingga syarafnya masuk kedalam penyakit jantungnya kambuh. Mungkin karna syok dan merasa bersalah, sehingga sesak dan sakit mulai beradu antara hati, otak dan gagal jantungnya mendadak lemah.


Jhoni merangkum rahang Maria dan mengusap air di pelupuk matanya yang dibingkai indah dengan make up, dan balutan kimono tidur.


"Jangan nangis lagi, nanti make up-nya luntur," kata Jhoni menakut nakuti Maria istrinya.


Sementara Alfa masih mengendarai mobil membawa sang mama kerumah sakit terdekat. Ia masih panik, sambil melihat romantisnya kedua orangtuanya saat ini.


Maria terkekeh karena dia tahu ucapan itu omong kosong. Make up-nya tidak akan luntur. Kalaupun luntur, ada MUA yang akan menanganinya, ketika ia pergi selamanya nanti.


"Kamu akan baik baik saja! Kita akan hidup lebih lama lagi dengan tangisan anak kecil. Cucu kita akan meramaikannya Maria!" lirih Jhoni.


"Benarkah! katakan pada Alfa kita, dia akan membahagiakannya!"


"Tentu sayang." ucap Jhoni, yang masih menatap istrinya menahan kesakitan.


Hal itu membuat Alfa terdiam, hubungan dengan Hanum saja sangat rumit. Bagaimana bisa ia mengikuti janji kedua orangtuanya. Terlebih mamanya, ia harus bagaimana saat ini.


***


Hanum kini sampai di medical tempat Fawaz. Ia cukup terkejut ketika bertanya pada suster. Apakah dokter Fawaz ahli bedah dan jantung sedang bertugas. Jawabannya adalah ya! saat ini Fawaz sedang menangani operasi pada pasein vvip hingga esok. Karna kondisinya tidak stabil.


"Begitukah? baiklah. Saya akan menunggunya saja." terdiam Hanum merasa kecewa tak bisa menemui Fawaz.


Ternyata ini alasannya. Begitu pribadi dan menyentuh, kegiataannya sebagai dokter yang mendahului kesehatan banyak orang, dibanding dirinya sendiri. Hanum masih melihat ini sudah pukul dua pagi dini hari. Ia menunggu di ruang tunggu.


Bibirnya yang dipoles lipstik nude, begitu saja berucap lirih. "Wajahku tidak boleh terlihat pucat, sembab karna habis menangis."


Hanum sengaja ingin mengunjungi Fawaz, karna tak ingin ia marah. Memang betul ia ingin berakhir dengan Alfa. Tapi acara Gathering dance ketika menatap irene. Perkataan dan bibirnya benar benar lumrah begitu saja terlintas. Seolah ia sedang bertarung mempertahankan cinta dengan sikapnya.


Tak lama Hanum menoleh, ketika Alfa dan papa mertuanya hadir. Hal itu membuat Hanum mundur lima langkah, ia mencoba menghampiri Jhoni Jhonson.


"Papa Jhoni. Kenapa dengan mama..?" menutup mulut, bulir air mata tak tertahan kala mama mertuanya masuk ruang Ugd.


To Be Continue!!


Sambil nunggu kelanjutan Hanum! Yuks mampir litersi temen Author.


JUDULNYA : PURA PURA MISKIN


KARYA : Momoy Dandelion