
Selesai meeting, Hanum dan Rico mengantar kedua bayinya pulang ke rumah. Ia bermaksud ingin menemui Fawaz, dari kabar tante Felicia ia pergi ke danau. Saat itu juga Rico meminta Erwin handle segala urusan market Marco.
"Mbak titip anak anak ya! juga mama Rita. Saya dan bapak akan pulang terlambat. Jangan terima tamu, jika kami belum datang!"
"Baik bu." ucap pengasuh, di kawal beberapa bodyguard, pada Hanum.
Hanum dan Rico segera berpegangan tangan, kala di dalam mobil. Mereka juga tak lupa mengecup pipi kedua bayinya. Sehingga mereka melanjutkan perjalanan lagi.
"Mas, apa benar kabar dari tante Felicia?"
"Belum tahu sayang, mungkin Fawaz depresi. Tante Felicia berada di swedia karena Fawaz buat story. Dan kebetulan tante Felicia meresponnya." jelas Rico yang mepet dekat dengan Hanum.
Jujur saja Rico tak nyaman, apalagi mengurus hal tak indah dimatanya. Hanya saja Fawaz masih satu keluarga, dan ada hubungannya dengan kerabat dekat sang istri. Mau tidak mau Rico menahan gejolak mualnya kala di perjalanan.
"Mas mual lagi ya,"
"Hah, hanya sedikit. Ada kamu mas pasti akan baik baik saja." ucap Rico senyum, ia membuka permen hangat lemon.
***
****Di danau****.
Sementara Fawaz terdiam berteriak. Ia membuka demi lembaran buku Lisa. Lisa menulis semua isi kepahitannya, semua yang ia lalui hampir tanpa sosoknya yang mendukung. Perlahan demi perlahan tiap bait Fawaz baca dan resapi dalam penyesalan.
"Aaaaaggggghk! betapa bodohnya aku Lisa. Ingin sekali aku menyusulmu. Andai terlelap di danau ini. Meski buaya ada, aku bersiap turun demi bertemu dan memohon padamu."
Di dalam isi buku catatan itu adalah :
Lisa ingat perkataan dokter Hera. Dari dokter Frans yang merekomendasikannya, saat ia berada di rumah sakit ternama.
Saat dua kali ia pendarahaan, janin itu begitu kuat dan tetaplah ingin hidup. Yang ada dalam pikiran Lisa saat itu bimbang. Meski batinnya tak ingin ia hamil, mengingat nama Fawas, mengingatkannya untuk kembali bertahan bahwa ia tidak perlu putus asa kala di saat hamil sikap Fawaz berubah padanya.
Lisa jelas menahan air mata yang tumpah. Kala dokter Hera meminta ia kuret, karena terdapat kelainan dan jika menginginkan. Pihak rumah sakit meminta Lisa segera mengambil keputusan.
Lisa tetaplah Lisa, dia tidak ingin karena kelak bayi itu cacat dia harus membunuhnya. Lalu penjelasan dokter akan mengecam khawatir dirinya ketika melahirkan, sudah pasti Lisa berharap untuk tetap mempertahankan. Lisa menerima jika harus kandungannya cacat kelak lahir, ia berusaha berbagai cara pengobatan rutin dan meminun herbal dari ramuan china diam diam, tanpa siapapun tahu.
"Maaf dok. Apa ada cara lain, agar saya bisa mempertahankannya?" pinta Lisa.
Ketulusan Lisa, tak banyak dari pasien yang jika mengetahui. Kandungannya bermasalah dan membahayakan, yang ingin berusaha mempertahankan. Hingga di mana, Lisa meminta untuk merahasiakannya pada mas Fawaz. Terlebih kebenaran anak ini, ia yakin jika lahir anaknya akan sama dan normal seperti pada umumnya.
Hingga saat itu di rumah, Lisa tetap bungkam.
"Sayang, katakanlah. Ada apa kenapa kamu diam?" tanya Fawaz saat itu.
"Mas. Maaf, tadinya aku ingin membuat kejutan padamu. Tapi sudah di ketahui lebih dulu." senyum Lisa pecah, tak dapat menyembunyikannya lagi.
Dengan senang hati, Fawaz berteriak bahagia. Ia menggendong dan memutar tubuh Lisa bagai anak bayi yang baru bisa berjalan. Hingga di mana Lisa nampak lupa akan kesedihan dan stres karena beban yang tak sedikit selalu datang menerpa.
"Mas. Ada mama, turunkan aku mas!" pinta Lisa.
"Biar saja. Mas sangat bahagia sebelum kamu memberikan surprise. Mas akan meminta mama, melakukan sesuatu."
Faaz pun masih dalam mode memeluk Lisa. Ia meminta pengawal untuk memberikan uang satu lembar dollar yang jika di rupiahkan bernominal jutaan yang lumayan. Hingga di mana, pengawal menurutinya dan pamit. Hal itu membuat mama mertua Lisa bahagia, kala mengetahui Lisa hamil.
"Erik." teriak fawaz bergema.
"Ya bos. Apa ada lagi yang harus saya lakukan?"
"Ya. Besok meeting tiadakan, tunda dan beri santunan pada seluruh karyawan. Beri mereka free bebas, dan acara makan bersama. Kau atur, aku tidak akan ke kantor. Tolong wakilkan!"
"Mas, itu berlebihan." tatap Lisa. Andai saja mas Fawaz tahu, kandunganku sedikit terganggu tapi aku berjuang untuknya baik baik saja.
"Mas ingin bersama kamu sayang, kita akan datang seseorang yang memenuhi warna hidup kita. Mas ga mau, kamu capek. Biarkan Erik melakukan tugas di kantor." balas Fawaz.
"Mas tapi kamu seorang dokter, bagaimana bisa mengajukan cuti?"
"Memang dokter ga boleh melakukan cuti, menemani istrinya yang hamil hari ini?" senyum Fawaz, dianggukan Lisa.
Erik terdiam, hanya menelan saliva. Ia tak bisa membayangkan, jika raut wajah sang bos jika bersama sang istri terlihat ceria dan bahagia.
"Kau lihat apa Erik?" tanya Fawaz dengan tatapan pisau.
"Akh. Ya bos, saya permisi. Permisi juga nyonya Lisa!" menunduk dan pamit.
Erik keluar dari pintu sang bos, ia hanya bisa menggeleng kepala. Karena begitu bingung akan pasangan yang sangat romantis. Terkadang penuh konflik dan banyak ujian.
"Inilah mengapa, saya tidak berniat jatuh cinta dan berkomitmen mempunyai pasangan." lirih Erik masih mode berjalan menuju mobil yang terparkir di lantai bawah.
Sementara tante Felicia mendekat dan menanyakan pada pengantin yang akan merayakan pesta pernikahan kedua tahun bulan depan. Fawaz dan Lisa menjelaskan jika mereka bahagia, dan yang dinantikan telah akan hadir.
BERBEDA HAL DI GEDUNG BERBEDA LANTAI. RAIN, BERADA DI COFFE SHOP KANTOR.
Rain menatap kesal, kala di pagi ini. Ia mendapat kabar jika Lisa sedang mengadakan acara syukuran. Syukuran karena ia sedang berbahagia, tak sedikit para karyawan temannya, terkejut dan ingin tau siapa suami dari Lisa. Rain tak terima dirinya diputuskan begitu saja saat diparis, bahkan ia sempat bertemu jodohnya yang kini telah bahagia.
'Lisa aku tak suka jika kamu begini, dulu aku bersalah selingkuh karena kamu tak mau aku ajak happy. Tapi aku ingin kamu lagi Lisa.' lirih Rain, dengan pikiran menggila.
Rain hanya menatap duduk sambil mendengarkan para ocehan karyawan ketika ia ingin pergi.
"Lo tau gak, big bos lantai tujuh belas. Syukuran cyin, di kantor dapat banyak makan enak sama bonus gajian bulanan. Belum lagi dapat paperbag kecil isinya tuh manis banget, parfum mahal sama satu dollar yang kalau di rupiahin jutaan. Aaakh so sweet banget ya kan?"
"Heuumph. Aku jadi gemes nih pengen tau, siapa sih istri bos Fawaz selain dokter, pengusaha itu. Pasti beruntung banget ya jadi istrinya." balas beberapa wanita sedang berghibah ria dan penasaran. Membuat tatapan Rain mendelik.
Rain pun kembali membenarkan jasnya, lalu berjalan melewati setiap berita tentang saingannya. Belum lagi ia amat kesal, karena gagal menggulingkan perusahaan cafe shop. Apalagi acara syukuran mewah itu adalah suami Lisa.
'Kau bisa bersenang senang. Meski aku tak pernah menyentuh Lisa. Tapi aku akan membuat hubungan kalian hancur. Lisa, kamu ga pantas bahagia. Karena aku dendam dan ingin kamu juga merasakan kecewa saat kamu memutuskan aku sepihak.' lirih Rain.
Sementara Fawaz terdiam membeku, tulisan itu membuat Fawaz semakin lemas. Kala Lisa menyembunyikan kesulitannya dan menulis semua lengkap di buku harian yang ia temui dikamar.
Arrrrgh!! teriak Fawaz, " Suami macam apa aku ini ya Tuhan?" histeris Fawaz.
Tbc.