BAD WIFE

BAD WIFE
FAWAZ TERTAMPAR



Plaak!!


"Berita apa ini Fawaz? mama tidak pernah mau seorang anak laki laki menyakiti hati wanita. Berasal darimana kamu lahir? ingat kamu sesukses ini untuk dijaga. Kamu udah hancurin reputasi keluarga."


"Mah, Fawaz ga ngerti. Dan Fawaz ga tau, kenapa Fawaz bisa nikahi wanita bernama Nestia. Bukankah itu sudah jelas, ini bukan kesalahan Fawaz?"


"Nestia siapa Fawaz? istri kamu itu Lisa. Kamu lupa siapa Lisa?"


"Arrrgh! cukup mah, Fawaz tau jika saat ini salah sudah nyakitin Lisa. Tapi Fawaz sendiri juga bingung dengan apa yang terjadi."


"Sudah sampai mana hubungan kamu dengan Nestia itu? ingat wanita itu hanya bisa injak di depan gerbang. Bawa jauh jauh wanita itu, menantu mama hanya Lisa. Pergi, dan mama akan cabut segala milik yang kamu punya. Dan mungkin gelar dokter kamu akan dicopot, berita sudah menyebar bukan?" kecewa mama Felicia.


"Nyonya, den! ini minumnya." ucap bi Inah.


"Makasih bi, lalu Lisa kemana ya bi? kenapa dia ga ada dirumah. Aku kesini mau temui dia, dan kasih kejelasan."


"Non, Lisa. Non.. sedang."


"Untuk jelasin apa Fawaz. Bilang kalau semua ini kamu ga ngerti bisa nikahi Nestia. Hanya wanita bodoh yang percaya, ingat beruntung Lisa masih membungkam mulutnya. Menutupi aib kamu di depan publik lewat jejaring sosialnya. Kamu buang wanita briliant, dan pungut sampah? mama kecewa sama kamu Fawaz. Papamu tidak pernah berkhianat, siapa yang kamu ikuti." sesak Felicia.


Bi inah menenangkan, meminta nyonya besarnya itu minum dengan tenang. Hal itu membuat Fawaz yang mencari keseluruh ruangan tak mendapati Lisa.


"Lisa.. Lisa keluar kamu Lisa." teriak Fawaz.


"Maaf Den, non Lisa masih bekerja. Siang malam, dari pagi ia sibuk cari uang hanya untuk mengumpulkan biaya persalinan. Itu yang bi Inah tau. Maaf, kalau bi Inah ikut campur!"


"Apa, Fawaz akan cari Lisa. Fawaz akan buktikan kalau anak mama tidak bersalah, Lisa pasti percaya sama Fawaz. Mama tolong maafin Fawaz."


"Andai Lisa maafin, apa dia tidak jijik dengan kamu? Pikir Fawaz kamu seorang dokter! Gimana bisa kamu hancurkan hati dan derajat istri kamu dengan keadaan dia butuh kamu, Rico yang dapat seorang janda, ia bisa menjadikan Hanum ratu. Jika kamu lakukan ini jadi dengan Hanum, maka nasib perempuan itu akan sama menangis saat dkhianati. Mama ga yakin Lisa mau kembali sama kamu setelah ini."


Fawaz ikut sakit, ia mereject panggilan kala asisten susternya menghubungi..Lalu ia pamit dan pergi mencari Lisa.


***


"Bagaimana, apa ini sudah cukup, Lisa?"


"lumayan. Duduklah sarapan, setelah ini kita harus ke suatu tempat!"


Lisa menuruti, meski dalam hatinya bergumam. Bagaimana tidak, pria di depannya tak sedikit pun memuji. Hingga di mana Lisa sadar perjanjian dan barter bertukar bantuan adalah masalah yang kini harus ia hadapi. Terlebih hanya dirinya yang tau dan bersifat rahasia.


Lisa menyepakati permintaan pak Ray. Ia akan menemui seseorang yang berharga untuknya. Meski ia sadar, dengan bantuan memulihkan nama dirinya dari tuduhan Nestia saat ini, sangat penting untuk masa depannya.


Tapi dengan begitu Ray berjanji tidak keberatan, permintaan Lisa untuk tetap jaga jarak.


Hingga di mana Lisa duduk, ia cukup lelah akan banyaknya masalah yang beruntun silih berganti. Ia mengambil nasi secukupnya dan menatap pria yang harusnya selalu di kantor.


Kini ia akan selalu bertemu dan akan sering menatapnya sampai batas waktu. Lisa melirik seisi ruangan tertutup hanya dengan tirai sedikit terbuka, ia mengatakan jika dirinya kini bagai wanita simpanan.


"Ada apa. Kenapa dengan matamu Lisa?" tatap Ray. Masih menyantap iga bakar dengan tangan.


"Haaah. Saya .. Ha-nya, euuuumh. Begini apa tidak terlihat baik. Dihadapan saya karyawan anda, anda makan dengan tangan?" alibi Lisa.


"Apaa .. tapi, bukankah aku masih di ijinkan bekerja?"


"Lihat situasi. Banyak hal kelak yang kau urus. Kelak aku akan memberikanmu surat perjanjian dengan cepat. Bukankah kamu sudah tanda tangani cuti melahirkan sampai batas waktu semaumu. Siapa yang menyetujui, jika bukan aku itu atasanmu."


"Eeheeum." Lisa menahan tawa.


Lisa hanya terdiam, lalu menyendok sayur dan menyuapnya dengan pelan serta gugup.


"Ray, sebatas profesional. Kenapa aneh ya bekerja sama denganmu, jika di kantor di depan banyak karyawan lain. Terlihat aneh saat bicara baku sekali." gumamnya.


"Lalu mau panggil nama, elo dan gue. Bukankah itu mirip selingkuhan? karena bersifat lebih akrab."


"Ah benar. Setelah iklan berkahir, aku pastikan tidak akan bekerja dibawah mu Ray."


"Dasar wanita." cibir Ray, kembali makan dengan lahap.


Beberapa jam kemudian, Ray telah selesai makan. Ia mengelap tangan dengan kilat, lalu berdiri dan melempar sapu tangan makan itu kesembarang. Hal itu membuat Lisa terkejut, pasalnya lap itu masuk kedalam mangkuk sup yang ia makan.


Deru nafas Lisa. Ia menyingkirkannya karena tau diri. Ia tau di mana ia berada, dan meletakkan posisi lap itu ke tempatnya.


"Ray, kamu menyebalkan. Aku belum habis ini sup."


"Setelah makan. Bersiaplah, kita akan pergi!" titah Ray dan berlalu pergi, tanpa menoleh ke arah Lisa yang mengeluarkan tanduk.


"Astaga. Aku bisa gila sikap Ray jadi partner kerja dan bos. Selalu seperti ini, sangat tidak baik." gumam Lisa kesal.


Lisa menatap panggilan dari ponselnya. Lalu ia meminta Sinta menjemput, menemaninya yang sedang project iklan. Hal itu Lisa inginkan agar tidak ada kesalahpahaman tentang dirinya dengan pria lain.


Lisa pun mulai menata setelah mencuci piring dan gelas ke tempatnya. Tanpa sadar Ray dari ruangan lain menatap Lisa dengan senyuman.


"Wanita itu, mengapa aku jadi terbiasa menginginkan dia dekat. Mengapa Papa memintaku mencari wanita seperti dia. Tidak ada dalam kamusku. Mana bisa aku menikahi seorang wanita bekas pria lain, terlebih Fawaz musuh ku saat ini. Dia keluarga dari orang yang berkhianat yang harus aku hancurkan." lirih Ray.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


Lisa mendapat pesan dari Sinta. Ia pun mengabarkan jika ia telah menemukan solusi, dan akan datang ke rumah di saat waktu yang tepat, tak bisa menemaninya saat ini.


Hingga beberapa pekan ia tak bisa mengunjungi saat ini. Hal itu karena Ray memintanya untuk tidak keluar setelah wawancara pembersihan namanya. Sinta juga bilang jika ia sedang mencari bukti lain yang di suruh Ray. Karena Nestia sedang live mencari pembelaan jika Lisa yang pamor tidaklah baik seperti penggemar kira.


Lisa memutar arah, ia mengambil tas setelah Ray sudah membuka pintu mobil.


"Kenapa diam? mau pulang sendiri, atau aku antar sampai depan gerbang. Aku sedang berbaik hati pada ibu hamil sepertimu Lisa."


"Baiklah, tidak ada jalan lain. Semoga kedepannya kita tidak kerjasama lagi Ray."


"Tidak masalah, aku bisa cari wanita lain lebih baik dan langsing. Hanya saja iklan ini aku tarik kamu, karena tidak ada pilihan dan dadakan. Tidak ada waktu untuk menyeleksi." jelas Ray, membuat hati Lisa panas.


"Aku hamil, masih terlihat langsing. Stop body shaming Ray." gerutu Lisa, ia masuk ke dalam mobil.


Tbc.