BAD WIFE

BAD WIFE
RICO TERKEJUT



Rico membuka pintu, tapi tak ada siapapun di sana. Sehingga kali ini Hanum tersenyum, menatap suaminya dan bicara.


"Mas, kita kedatangan tamu."


"Hah, benarkah? siapa." terhenti Rico, kala bibi Dena dan Lion datang.


"Lion, kamu kemari. Bibi bagaimana perjalanannya, bisa sampai kemari?"


"Boleh bibi masuk?"


"Tentu saja, ayo masuk bi!"


Rico dan Hanum segera membawa bibi Dena ke ruang tamu. Kali ini, bibi Dena prihatin karena ia datang jauh jauh, hanya untuk memastikan jika Rico benar benar hidup dengan layak.


"Kalian benar tinggal di tempat seperti ini? apa yang bibi harus bicarakan sama paman Mark."


"Bi, jangan bilang ke papa. Katakan kondisi yang baik baik saja. Papa membutuhkan pengobatan, yang banyak. Tinggal di bali, rumah sederhana tapi tidak seperti Rico saat ini. Rico bersyukur, karena papa tidak ikut merasakan kesulitan saat ini. Rico mohon!"


"Tapi Rico, gimana kalau .."


"Semua akan baik baik saja, dan market Marco pasti akan kembali ke tangan Rico. Jika itu memang masih rejeki keluarga Mark." jelasnya. Sehingga bibi Dena menyumpatkan kesedihan dan menuruti permintaan Rico.


Sementara Hanum di dapur, ia kaget dengan kehadiran Adelia di halaman belakang rumahnya, saat dia sedang berbincang bersama Lion. Sosok Adelia benar benar seperti siluman yang muncul tanpa diduga sama sekali.


Hanum mengaduk teh, ia melihat ke arah kedua pemuda yang kini saling berhadapan secara bergantian pada Adelia. Dia bisa melihat ada sinar tidak suka yang keluar dari dua pasang mata tersebut. Hanum semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Di minum bi! dan mas, aku ke warung sebentar ya. Mas jagain Lion aja, deket kok warungnya."


"Baiklah, hati hati sayang!"


Hanum segera menyusul Adelia yang sudah terlebih dahulu keluar dari pagar menuju ke mobil jemputan mereka. Hanum melihat wanita itu setengah berlari saat dia ingin mengejar Adelia.


“Apa maksud kamu, kenapa ada di desa ini?” tanya Hanum pada Adelia.


Adelia terhenti, kala tangan Hanum sudah mencegahnya. Sehingga ia mau tak mau menjawab.


"Bukan urusan kak Hanum. Aku punya kaki dan seluruh anggota badan yang sempurna untuk melangkah." ketusnya.


“Alasan? Apa aku harus bilang sama mas Rico, dan bawa kamu ke rumah sekarang?” jawab Hanum dengan nada meninggi.


"Silahkan, tapi di dalam ada anak aku kan. Jika mereka lihat kita bersiteru, apa yang akan mereka pikirkan. Mbak Hanum ga punya bukti kan, kalau misal aku ngeles lagi berkunjung ke rumah nenek bibi Dena. Gimana, mau apa mbak Hanum?" gelak tawa.


“Hanum, wanita sebaik dirimu, untuk apa kemari? Jangan ganggu dia! Jangan jadikan aku berlaku kasar dan membuat wanita itu menjadi wanita malam!"


"Al-alfa. Kamu sampai disini juga, kamu berada di desa ini?" terkejut Hanum.


"Ya, seperti yang kamu lihat Hanum." senyum Alfa.


Ucapan Alfa membuat Adelia tersinggung. Matanya menatap tajam pada Alfa yang ada di depannya. Pemuda itu kini mulai tersulut emosinya.


Adelia mencondongkan badannya ke depan sampai wajahnya ada di sebelah telinga Alfa. Dia ingin mengatakan sesuatu yang penting untuk Alfa dengar.


"Kau tidak tau arti terimakasih Alfa."


“Kenapa, apa pun alasanku deketin dia, itu bukan urusanmu. Dari dulu dia milikku dan ga akan pernah jadi milik orang lain ! Jadi sebaiknya kamu ga usah ikut campur urusan ini,” bisik Alfa pelan di telinga Adelia.


Hanum menggeleng dan membalikan tubuhnya, ia berusaha cepat kembali sampai rumah.


"Hanum, kami sudah menikah. Dan kami tinggal di belakang rumahmu, tiga rumah warga. Ada rumah bergarasi oren. Itu adalah rumah kami, dan kamu harus ingat Hanum. Tawaranku, jika kamu butuh sesuatu..., temui aku!" teriak Alfa.


"Tidak sudi."


Tetapi Hanum terus pulang dan bertemu suaminya Rico. Ingin ia katakan semuanya apa saja, sehingga apa yang ia lihat mas Rico kembali mencari solusi.


"Dasar gila, kemanapun kami tinggal. Mereka terus saja membuat seseorang kehilangan akal, apa mau mereka, apa ingin melihat kami menderita." gumam Hanum.


Sampai di rumah, Hanum menuju dapur. Tapi kala itu Rico menghampiri Hanum ke kamar, mengatakan apa yang terjadi padanya. Hanum menceritakan semuanya sehingga Rico gemas ingin meninju Alfa.


"Apa, kamu ga salah lihat kan sayang?"


"Mas, aku benar benar nyata. Bukan mimpi."


“Baguslah. Mas tinggal laporkan juga semua tentang dia. Lalu apa hubungan Adelia dan Alfa saat ini? Apa mereka memiliki hubungan khusus?”


“Mereka sudah menikah mas.”


Lontaran Hanum membuat Rico terdiam pucat pasi. Tak lama Lion menarik baju Rico dan bicara.


"Uncle, Lion lapar. Lion ingin makan ayam goreng." ucap bocah itu, membuat mata Rico dan Hanum kebingungan.


Tbc.