
"Aku akan memastikan tidak akan terjadi, aku berusaha mengarungi rumah tangga denganmu. Karena aku telah memilihmu, untuk aku bahagiakan. Mas tak memungkiri, klien nakal yang menggunakan sekretarisnya banyak menggoda mas dengan baju yang sangat feminim. Maka itulah mas ahlikan kepada Erwin."
"Apa, jadi rumor itu benar?"
"Sayang, benar atau tidak. Tergantung prianya! jadi aku pastikan kemana pun kamu jangan lelah untuk temani aku. Meski kamu sedang hamil nantinya, aku berusaha menjaga diri."
Hanum mengrenyitkan kemungkinan, dari raut wajahnya ia menyesal. Mendengar kejujuran suami memang menyakitkan, dan membuatnya kepikiran.
"Ga usah parno, jangan bicara hal buruk terus! kita ke dalam ya! di luar dingin. Aku ga mau kamu sakit Hanum sayang." manja Rico mengecup pucuk rambut Hanum.
Hanum berjalan bagai anak bayi yang baru bisa berjalan, hal itu karena mereka memakai satu sandal, sementara kakinya berada di atas kaki Rico dengan kompak mereka berjalan seperti lomba sandal bakiak.
"Haha, mas lucu banget sih. Aku jadi takut jatuh."
"Heuumphh! baguslah, kamu jadi senyum. Mas seneng lihat wajah kamu yang tertawa dan senyum seperti ini. Kamu tau, saat suami pulang bekerja dan selalu bersama dengan istrinya adalah. Melihat wajah istrinya selalu senyum dan bahagia. Itu adalah hal tersendiri, kepuasan sendiri bagi sang suami."
Penjelasan Rico membuat Hanum mengerti, ia lupa. Jika Rico pernah menikah, maka dari itu hal terbaiknya. Ia berusaha tenang dan akan selalu menjaga wajah, senyuman dan sikap bentuk akhlak mulia sebagai istri.
"Aku mengerti mas sayang."
Mereka jatuh bersamaan, kala sofa adalah tempat mereka kembali memadu kasih. Menonton tv dengan saling memeluk miring ke arah kanan. Sudah tidak bisa di pungkiri tangan dan bibir Rico akan bermain dalam wahana asmara.
Sore Harinya.
Hanum dan Lisa saling berbalas pesan, Lisa mengatakan pada Hanum siapa pasien anak ratu dari inggris. Lisa menanyakan, apakah Hanum pernah mengenalnya. Hal itu juga membuat Hanum bangun, lalu menyandarkan punggungnya ke arah dipan kasur, kala berada di kamar.
"Ada apa sayang?" tanya Rico ikut terbangun, dan menarik lingkar pinggang Hanum yang imut dan berisi.
"Kak Lisa kirim pesan, aku balas dulu ya?"
"Heuumph! iya, balas aja. Mas ga apa kok. Asalkan mas tetap dekat kamu terus." mencium punggung Hanum. Entah mengapa Rico sangat candu dengan Aroma Hanum.
Hanum sebenarnya risih, tapi bagaimana pun ia tak bisa menolak. Hanya bisa bersabar ketika suaminya masih dalam cuti, dan bekerja dari rumah.
\*\*\*
Lisa di lantai lain.
Suamiku memang sangat menyayangiku. Lisa kembali meracau, karena ia masih curiga pada pasien yang ia tanyakan pada Hanum.
Bodohnya lagi, si Hanum belum juga membalas pertanyaannya. Sehingga Lisa sangat kesal dan benar benar merubah mood nya hari ini.
"Yank, ambilkan handuk ya!"
"Ya cinta, aku akan ambilkan." senyum Lisa pada Fawaz.
Hari ini, aku memakai pakaian yang sangat sensual, dan menunggu suamiku pulang. Setelah pulang rapat, Lisa merasa curiga dan ingin bicara langsung pada Fawaz.
Begitu Fawaz sampai di rumah, dia langsung pergi ke kamar mandi. Ketika aku memungut bekas pakaian kerjanya, aku melihat ada bekas lipstik di kerah kemeja itu. Sehingga Lisa menunggu suaminya di depan pintu.
Aku terkejut. Lipstik ini bukan milikku, aku tidak pernah menggunakan lipstik berwarna ini. Lisa membedakan harum dan warnanya, ia cocokan dengan miliknya.
Ketika suamiku keluar dari kamar mandi, dia melihat kemejanya ada di tanganku. Raut wajahnya berubah, namun tetap tersenyum dan memelukku.
"Ada apa, sayang?" tanya Fawaz.
"Bekas lipstik siapa ini?" cetus Lisa.
"Ayank, please! pertama pesan pasien ratu inggris. Terus noda ini, apa rapat ini. Dia datang?"
"Siapa yang datang sih?"
"Ya pasien itu lah, kamu jangan bohongin aku ya. Kita berlibur bukan untuk berdebat seperti ini kan?" celoteh Lisa.
"Maaf sayang, aku lagi capek, aku nggak sadar hari ini kamu cantik banget. Percaya deh, sama aku! apa mau aku kenalin kamu sama dia ke inggris?"
"Jangan mengubah topik pembicaraan, aku masih bisa membedakan mana bekas lipstik, mana noda saus! dan benarkan, dia ada di paris?" isak Lisa.
"Kenapa kamu nggak percaya sih? Jadi kamu pikir aku benar benar selingkuh?!" Suara Fawaz tiba tiba meninggi lembut.
Ini adalah pertama kalinya Fawaz marah padaku selama kami menikah. Air mataku mengalir, aku menangis dalam batin, "Maafkan aku... maafkan aku sudah mencurigaimu. Tapi aku hanya takut, pasien kamu benar benar cantik dan berkelas. Lalu rapat saja sampai datang pasiennya dengan asisten yang sangat feminim." gemas Lisa meremas rok bajunya.
"Kamu tahu kan aku sangat mencintaimu," Fawaz mencium bibirku dan mulai membuka kancing pakaianku.
Dia terlihat sangat bergairah kala Lisa marah, namun aku merasa dirinya berbeda, meski begitu Lisa masih saja cemburu karena Fawaz dan wanita di sekitarnya.
Aku tak tahu mengapa aku merasakan ini.
Aku masih memikirkan bekas lipstik itu, membuatku tidak dapat ikut.
Bahkan aku pura pura aku sudah mencapai dalam permainannya, karena otakku masih saja mengingat Fawaz dengan pasien vvip. Lucunya, dia tidak menyadari kepura puraan ini. Benar benar suami kulkas.
Ke esokan harinya, Fawaz memasakkan sup ikan untukku sebelum dia berangkat ke rumah sakit. Dia tidak pernah memasak untukku selama ini.
Kejanggalan ini membuatku semakin yakin bahwa dia menyembunyikan sesuatu di belakangku.
Begitu aku mencium aroma sup ikan ini, aku mual. Aku langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan hampir semua makanan yang ada di dalam perutku. Aku baru sadar, aku terlambat haid selama dua minggu.
Apakah aku..?
"Ah! gara gara pasien vvip. Otakku benar benar membuat pikiran aneh sama suami sendiri." gumam Lisa marah, ia menatap cermin.
Lisa segera meraih ponselnya, ia menghubungi Hanum beberapa kali. Tapi benar saja, masih belum di angkat. Sehingga ia mengirim pesan pada Hanum. Jika ia minta ketemuan di saat suaminya sibuk menjalankan aktifitas mencari nafkah.
"Han, kok ga jawab kakak tanya? kamu sibuk apa sih, balas dong!" gerutu Lisa.
"Han, tiga jam lagi kakak ke tempat kamu! kakak mau bicara penting!" ketus Lisa, lalu ia membuang ponselnya ke arah sofa.
Tak lama, Fawaz datang. Lisa juga senyum menuju meja makan. Sambil membawakan kemeja dinas rumah sakit dan tasnya.
"Yank, makan dulu yuk!" teriak manja Fawaz dengan wajah bahagia.
"Iya cinta, segera."
Lisa menampaki senyum, meski dalam hatinya ia sangat bergerutu dan kumat kamit. Sehingga Lisa berusaha memikirkan hal baik saat sampai di meja makan.
"Wah kamu buat banyak sekali?"
"Spesial buat kamu Yank!" senyum Fawaz.
Tak lama, terlihat suara bel. Membuat tatapan Fawaz dan Lisa menatap arah pintu.
Tbc.