
Hanum terpaksa menyetujui berkas yang dilayangkan pengacara, tuntutan Alfa soal rumah dan aset milik keluarga Jhonson harus di kembalikan. Tinggal kenangan, Hanum berusaha pergi dari kehidupan ibu kota yang benar saja harus ia singkirkan dan menjauh mungkin dari keluarga Jhonson.
"Bagaimana bisa, rumah ini milik papaku dari kerja kerasnya selama dua puluh tahun, lalu bukankah usaha pangan dan kain sudah diambil oleh Jhoni?" tanya Hanum pada Herman pengacara Alfa.
"Begini bu Hanum. Jika bu Hanum menggugat, maka itu adalah syarat untuk tuan Alfa menyetujui perceraian ini. Lagi pula keluarga Armand sudah hidup makmur dengan bantuan keluarga Jhonson. Surat ini sudah tertulis saat perjodohan. Bagaimana, mau di lanjut atau di tunda?"
Hanum kembali meremas kedua tangannya. hal yang tidak bisa ia bayangkan adalah mengatakan bagaimana pada mama. Hanum takut sang mama syok atau anfal, karna asma nya kambuh, belum lagi tekanan yang mama derita tak bisa mendapat tekanan dan beban memikirkan suatu hal buruk.
"Kenapa harus dengan denda juga?"
"Ya! satu setengah miliar, bisa di cicil dalam tempo enam bulan!"
Hanum benar benar emosi, ia menoleh ke arah samping ketika Alfa dan Irene seperti bahagia. Benar benar keluarga penipu melebihi lintah darat. Tanpa basa basi, ia menandatanganinya dan bersedia apapun itu asal ia cepat bercerai dengan Alfa.
Sontag hal itu membuat tatapan Alfa sedikit bingung, ia pikir Hanum akan ragu dan memohon padanya. Tapi melihat Hanum dengan sekeras itu berpisah darinya, ia segera pergi lebih dulu meninggalkan Hanum.
Jelas Hanum saat ini pergi, ketika mediasi selesai dalam waktu sedikit lama. Meski mediasi umumnya dua kali pertemuan, tapi pertemuan berikutnya Hanum atau pun Alfa tidak wajib menghadiri, ia cukup menyerahkan semuanya pada pengacara Alfa.
Proses mediasi dan perceraian itu bisa memakan waktu empat puluh hari bahkan lebih, tapi kekuatan kekuasaan terlebih isi layangan keluarga Jhonson benar memberatkan dan membuat Hanum cukup lelah lahir dan bathin.
"Gila, dasar keluarga lintah darat. Aku berdoa agar kalian tidak tenang seumur hidup. Semoga aku bertemu kalian dengan keadaan diriku yang bisa menghancurkan kalian semua!" isak tangis Hanum di dalam taksi.
Dalam Pasal 6 ayat (1) disebutkan bahwa, para pihak wajib menghadiri secara langsung pertemuan Mediasi dengan atau tanpa didampingi oleh kuasa hukum. Isi gugatan yang Hanum layangkan, benar benar membuat Hanum bingung ketika pengacara Alfa membuat ia syok dan pulang ke rumah setelah selesai.
Belum lagi besok Lisa dan sang mama pasti akan terkejut ketika ia membawa berkas yang mungkin setelah ini hidupnya akan sulit, terlebih menyeret sang mama dan Lisa.
Kediaman Hanum.
"Han, kamu udah pulang?"
"Mah. Hanum baru saja selesai dari pengadilan."
"Apa. Han, kenapa kamu ga bilang kakak. Ka Lisa free loh, kan bisa kakak temani?"
"Sebenarnya ada yang Hanum ingin beri tau, tapi ..?"
Tiba saja ketukan suara pintu, seperti tamu yang datang. Hanum bergetar dan gugup, apakah Jhoni atau orang Alfa langsung menyita rumah sebelum ia memberitau.
"Biar Hanum saja yang buka kak!"
"Ok! baiklah." Lisa terkejut sambil menuangkan teh hijau untuk sang mama.
"Selamat sore, apa ada Lisa?"
"Ada, sebentar ya!"
Kak Lisaaaaa!! berteriak Hanum, reflek karna matanya masih takut orang dari Alfa tiba tiba datang. Sebenarnya tak pernah Hanum berteriak dan gelagat aneh. Hal itu juga di sadari Lisa yang keluar dan menatap adiknya dengan wajah aneh. Berteriak tapi matanya kemana mana.
"Bukan apa apa kak."
"Lisa, itu adik kamu ya?"
"Iy, dia adikku. Namanya Hanum." ajak Lisa pada Mirna untuk masuk.
“Sepertinya kita pernah bertemu,” Mirna kembali bersuara, membuat Hanum menjadi yakin kalau gadis itu adalah orang yang pernah dijumpainya. Namun entah kapan dan di mana.
“Aku juga merasa begitu,”
“Eum. Biar kuingat dulu,” Hanum menopang dagu dengan sebelah tangan. Ingatannya yang kuat membuat ia mudah memproduksi kembali peristiwa peristiwa di masa lalu.
“Aku Mirna. Nama kamu siapa tadi?” Mirna berlesung pipi itu mengulurkan tangan yang kemudian disambut Hanum.
"Hanum."
“Kau itu lulusan anak fakultas pendidikan ya?” Mirna kembali berseru. Gadis tersebut sangat lah ramah. Baru saja mereka mengenal tapi sudah bisa menciptakan suasana hangat.
“Iya. Kau juga?”
“Tidak. Aku anak ekonomi,”
Tak lama Lisa kembali menarik Mirna dan Hanum untuk masuk, tapi Hanum tidak. Karna ia harus mengatakan semuanya pada Lisa sebelum orang dari Alfa tiba datang. Namun benar benar tidak tepat, tamu tak di undang seolah mengulur waktunya yang mungkin hampir habis. Maka dari itu ia mendapat pesan dari tante Felicia secepat kilat dibanding Fawaz.
Seusai pertemuannya dengan Mirna teman kakaknya, Hanum memutuskan untuk menghubungi Fawaz. Ia pasti masih dinas di rumah sakit kalau sore begini. Hanum berencana menyambangi hatinya lagi. Ia rasa penghuni pria dermawan itu akan membantunya, mencarikan tempat tinggal sementara untuk sang mama dan Lisa dengan cara liburan dadakan, atas permintaan dr Felicia.
Meski bagi Hanum adalah tidak tau malu, tapi satu dua pulau sekaligus menyelam sambil minum air. Bukan saja kediaman sang kakak dan sang mama yang tak akan terkejut ketika rumahnya di robohkan oleh keluarga Jhonson. Tapi mempererat Lisa dan Fawaz kelak.
"Han, kamu mau pergi lagi?" tanya Mama.
"Mah, tetaplah di rumah. Rumah eyang juga lagi ga sehatkan karna renov, aku punya ide. Bagaimana setelah aku kembali, mama sudah berkemas dengan Lisa, aku ada surprise. Lagi pula kunjungan kita saat ini berlibur merayakan aku bebas dari Alfa. Tempatnya tak jauh dari kediaman eyang bagaimana?"
Gelagat aneh pada putri bungsunya itu, membuat Rita malas berfikir dan mengiyakan saja. Lalu ia masuk ke dalam rumah, menceritakan pada Lisa. Tentu saja Lisa senang karna tempat itu tak jauh dari villa kediaman Fawaz.
"Benarkah? meski kesan aneh. Tapi ide Hanum bagus sih mah, kediaman eyang lebih sejuk dari pada di sini polusi terlalu pekat. Lisa akan bekemas sebentar lagi."
"Baiklah. Mama hubungi seseorang dulu ya, jeng Felicia kok hubungi mama ya. Ada apa ya?"
Sementara Hanum senyum, ia membalikan badan ketika suasana di dalam sudah cukup baik. Tidak sia sia selama ia di taksi sudah meminta permintaan pada ibunda Fawaz. Kala ia mencecar pertanyaan apakah benar ia ada hubungan dengan putranya lebih dari sahabat, hal itu Hanum sadari kala intonasi dr Felicia sangat marah dan tidak suka.
Hanum kini dalam perjalanan, ia berusaha tegar dengan semuanya. Kenangan dengan Fawaz harus ia akhiri. Saat ini ia akan bertemu dengan dr Felicia, karna Fawaz sulit di hubungi. Hingga di mana Alfa mengirimkan sebuah pesan yang membuat hatinya kembali meremas tak percaya.
"Picik sekali kamu Alfa. Ingat aku akan membuat hidup kalian berkali kali lipat meminta maaf. Aku pastikan akan merebut apa yang kalian rebut yang seharusnya itu milik papa."
To Be Continue!!