
Masih dalam ingatan flasback, sebelum Alfa di bawa ke rumah sakit. Di tangani keruang IGD. Terlihat semua berkumpul, tapi Hanum hanya ingat prilaku Alfa yang semena mena padanya. Dendam sakit hati, membuat bibir Hanum bergetar tak bisa berterus terang. Masih ingat sikap Alfa padanya saat di perahu sebelum terjadi suara menakutkan.
Sampai di sebuah bangunan besar di kota paris. Hanum tak pernah jauh di ajak berkeliling, bahkan kemarin saja ia hanya membeli makanan dan pakaian baru di beda lantai hotel.
Hingga dimana, mereka turun. Sementara Alfa meninggalkan Hanum dan Irene untuk menunggu. Benar saja Alfa sedang mengambil uang tunai karna beberapa toko hanya menerima uang cash.
"Kamu sudah berapa lama bersama Alfa?"
"Dua tahun, kenapa. Kamu iri ya?" senyum Irene sombong.
"Bukan begitu, aku tau kamu kekasihnya. Apa kamu tidak ingin di halalkan, bagaimana jika kamu hamil. Kenapa tidak menikah saja?"
"Haahaaa. Dasar bodoh! bukan parasnya aja yang jelek, gendut saja yang sepet di lihat. Akalmu juga minus ya, Hey! aku yakin Alfa akan berjuang untuk hubungan kami. Karna paman Jhoni tak suka aku menjadi selebriti movie."
"Lalu kamu tidak tau, soal Alfa di luar sana dengan wanita lain melakukan hal yang sama sepertimu?" jelas Hanum menatap Irene.
"Really! No, itu tidak mungkin. Karna Alfa pria setia, kemarin dia membelikan aku gaun pengantin indah. Mana mungkin .."?
Saat Hanum menjelaskan, tiba saja Alfa datang dengan raut wajah curiga. Irene yang panas, ia berubah acuh dan berbicara pada Alfa dengan ketus.
"Darling! aku harus pergi. Sutradara memintaku kembali."
"Aku antar ya!"
"No, aku naik itu saja! Merlin sedang istirahat, kami akan ke lokasi syuting bersama. Pergilah!aku ingin sendiri." mengusir Alfa.
Alfa yang curiga, ia menatap tajam pada Hanum. Masih mode mengejar Irene. Namun lepas kesal, ia akhirnya kembali ke hotel bersama Hanum. Terlebih beberapa saat kedua orangtua mereka menghubunginya, mau tidak mau Alfa harus membawa Hanum ke kamarnya lagi. Dengan perasaan gundah, ia merenung dan mengecam Hanum apa yang terjadi saat ia meninggalkan.
"Kau bicara apa tadi dengan Irene?"
"Aku. Ti- tidak ada. Aah! mama Maria dan paman Jhoni menghubungiku. Apa yang harus aku lakukan?"
Alfa meraihnya, mau tidak mau ia memasang wajah palsu seolah bahagia dan baik pada Hanum. Selama beberapa puluh menit.
"Alfa, kau sedang apa di sana?"
Hanum sudah merubah posisinya menjadi duduk dengan kedua tangannya memegangi selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
"Menunggumu bangun! Satu jam lagi kita akan mendarat. Dan rencanaku, kalau tiga puluh menit lagi kau belum bangun, aku akan membawamu dan menceburkanmu ke dalam bathtub!"
Glek
Kata kata yang membuat Hanum menelan salivanya dan meringis menatap Alfa. Bukan seperti itu sapaan yang sebenarnya disukai Hanum dan bukan pandangan mata yang menatapnya begitu yang ingin dilihat oleh Hanum.
Kepergiaan Irene, dan bersamaan orangtuanya meminta Hanum dan Alfa ke perahu layar di kota paris. Sehingga Hanum berdebar, tapi ia tau pikiran Alfa pada wanita seksi bernama Irene.
Saat ini, Hanum mencoba mengganti pakaian. Sehingga ia menatap sekeliling tak pede. Ia melihat beberapa wanita berpakaian minim, tidak dengan dirinya.
"Pakaianku! dimana ini, tas ku kenapa berubah isinya." sesaat tertidur di perahu pribadi milik Jhonson.
"Hmmm!" Alfa mengangguk masih dengan posisinya duduk bersandar, dengan kedua tangannya dilipat seperti biasa, bersedekap dan dia bertopang kaki.
"Kenapa kau lakukan itu Alfa? Apa yang kau inginkan?"
"Karena kau meggangguku! Sudah gitu kau juga tidak mau menurut apa yang aku katakan!"
"Eh, apa lagi, apa aku salah lagi padamu?"
"Kau mendengkur kencang sekali! Kau mengganggu tidurku yang membuatku bangun dan melihatmu menggunakan pakaian yang aku larang! Kenapa Kau mengganti pakaianmu? Tidakkah kau ingat kalau aku bilang aku tidak suka melihat orang tidur dengan celana jeans?"
Lengkap sudah Alfa menjabarkan alasannya mengomel pada Hanum.
"Aku sudah katakan kau tidur pulas sekali! Mana tega aku melakukan itu?" Alfa memijat keningnya sekarang sebelum dia kembali menatap Hanum. Kata kata Alfa tadi sedikit banyak menghanyutkan hati Hanum, tapi ia menoleh keseberang perahu lain. Dan terlihat seorang pelayan wanita.
'Tidak! pasti playing fictim. Dia tidak mungkin melepas celana jeansku dan kaosku. Pasti mbak tadi di suap. Mana mungkin pria seperti Alfa menyukai wanita sepertiku, sudah mencaci mau bersusah untuk membantuku berubah pakaian mini.' itu adalah batin Hanum saat ini.
Saat ini Hanum kembali mencari tasnya, mencari kaos dan celana jeansnya. Hingga dimana ia terkejut akan sikap Alfa membuatnya jengkel.
"Memotongnya dengan gunting! Memangnya kau pikir mudah gitu melepaskannya satu persatu saat kau sedang tidur?" lirih Alfa.
"Kau tega sekali, Alfa! Apa yang kau lakukan dengan bajuku? Aku tidak punya baju lain lagi."
Wajah Hanum pun memelas dan matanya sudah hampir berlinang air mata melihat pakaiannya yang sudah dicabik cabik dengan gunting oleh Alfa.
"Itu hukumanmu!"Alfa diam sejenak dan menatap Hanum serius.
"Sekali melanggar perintahku maka selalu ada hukuman untukmu, Hanum! Kemarin aku sudah mencontohkan padamu kau melanggar dengan pergi makan padahal aku sudah melarang dan sekarang kau masih belum jelas juga kau tidur dengan pakaian yang tidak aku suka! Dan kau juga bicara aneh soal sesuatu yang kau lihat pada kekasihku Irene."
"Apa maksudmu Alfa? soal Irene aku minta maaf, aku pikir dia tau soal kau sering bergulat dengan wanita lain. Aku janji tidak akan mengadu apa yang aku lihat. Tolong jangan robek pakaianku seperti itu!"
"Sekarang, aku akan tinggalkan kamu. Tanpa uang sepeserpun. Kau pergi saja dengan tanktop dan celana bahan ketat ke sebuah toko. Kau cari baju lagi, melihat tampilan dan tubuhmu. Aku yakin tidak akan ada yang mau melayanimu!"
"Alfa! tega sekali kau, akhiri saja semuanya. Kita kembali pulang. Dan bercerai, kenapa kau hukum aku seperti ini sih." tangis Hanum melemas duduk. Menutupi dadanya dengan sebuah taplak meja berenda kotak kotak pink putih.
"Jangan memelas. Aku tidak suka, kau harus menerima hukumanku!"
"Aku bilang aku tidak punya pakaian lagi!" Hanum masih mengomel
"Aku lihat di lemari masih ada satu! Kau mau menipuku?" teriak Alfa.
"Ya Tuhan, Alfa! Kau ingin aku menggunakan pakaian seperti itu? Aku tidak mau!" Hanum sudah merengek lagi.
"Kalau begitu kau turun tanpa menggunakan pakaian juga tidak apa apa. Agar kau tau dan sadar tubuhmu itu seperti apa. Apa kau pantas menjadi istri Alfa Jhonson?"
Hanum melemas, masih menangis. Hingga dimana ia mengambil ponsel yang di sodorkan Alfa.
"Kau hubungi Irene, bicara padanya. Jika apa yang kau ucap saat itu omong kosong!"
Tega sekali kau! gerutu Hanum.
Hingga beberapa jam kemudian. Irene datang bersama dua wanita movie yang pernah Hanum lihat di layar tv dan bioskop. Lalu Alfa mengecupnya, meminta maaf. Sementara Hanum masih diam menatap Irene yang mengambil segelas air berwarna merah. Lalu mengguyur ke pucuk kepala Hanum hingga membasahi kening dan pipinya.
BYUUUR! tambah kecap asin dan minyak pada dua wanita. Turut mengguyur ke rambut hanum.
"Anggap saja ini Shampo. Hahahaa." dua wanita teman Irene.
"Rasakan, kau tutup mulut dan wajahmu setelah ini. Apa pantas bicara begitu tentang Alfa Jhonson." ketus Irene membuat tamparan pada Hanum. Seolah ramai orang melihat aksi itu dari perahu lain, bagai tontonan hebat.
Hanum hanya diam, ia tak berkutik. Melihat Alfa saja ia sudah tak sanggup di belakang wanita seksi. Alfa hanya tertawa menyaksikan Hanum yang di perlakukan semena mena oleh tiga wanita seksi.
'Jahat sekali kamu Alfa. Jika ini ka Lisa, apa kau akan lakukan juga seperti ini?' batin Hanum menyeka air mata, juga mengusap rambut penuh minyak dan kecap.
Hingga perdebatan itu, membuat Hanum menyeka air mata. Setelah berdiri, barulah ia melihat dimana Alfa sudah terkapar dengan bersamaan suara peluru yang amat jelas.
***
"Mama tenang ya! kita pasti tau dan motif apa pelaku melakukan demikian. Hanum tidak tau pasti, kami sedang berlibur seperti pengantin umumnya." jelas Hanum.
Ia berbohong pada ibu mertuanya. Menyembunyikan rasa sakit dan sedih serta amarah dendam yang hampir menyatu.
To Be Continue!!