BAD WIFE

BAD WIFE
PERTEMUAN DENDAM



"Iy benar. Hanum kamu benar akan menggantikan kakakmu Lisa?" tanya Mama. Saat Hanum menatap pesan.


"Dik! kakak khawatir, apa kaka gak usah melibatkan kamu aja ya? biar kakak bicara dengan pria itu. Jika aku sudah punya kekasih, aku selebgram. Jadi sangat sulit untuk mengaturku kelak telah menikah. Tak ada yang berubah, Hah! apa lagi dalam aturan keluarga paman Jhoni."


"Kak!" serentak Hanum dan Mama.


"Lisa, apa yang kau pikirkan. Jika seperti itu, itu akan merusak persahabatan Ayah dan Jhoni."


"Trus, aku kan hanya tak ingin menyulitkan Hanum, Pah."


"Kakak sebaiknya kembali untuk sementara! Pah, Hanum mohon ijinkan aku untuk menyelamatkan ka Lisa. Jika paman Jhoni tau kedua putri ayah ada disini, pasti mereka akan tetap memilih ka Lisa. Hanum mohon, pesankan tiket sekarang juga untuk ka Lisa!"


Mendengar hal itu, Lisa terperanjat. Perkataan Hanum memang ada benarnya. Jujur saja pamor seleb'nya saat ini sedang naik daun. Jika ia harus menikah, dengan orang yang tak ia kenal dan suka. Bukan lebih menghambat kariernya lagi.


Mama Rita mendekat, ia juga setuju akan perkataan Hanum. Lagi pula, demi janji suaminya pada Jhoni. Jujur saja, Jhoni juga sahabat dari Rita. Hingga dimana Armand setuju pada ide anaknya.


Sementara Lisa, ia menarik tangan Hanum. Dengan tubuh gempalnya, Lisa sedikit kesal karna jalan Hanum sangat lambat. Setelah mereka berbicara dari rak kamar yang terpampang sabun. Lisa mencium aroma wangi Rose kesukaannya. Lalu mendekat dan mengendus ke arah Hanum.


"Heeehee. Kakak, maaf! Aku ga sengaja, pakai Aroma yang botol merah itu! maafin aku ya!" ungkap Hanum menunduk.


"Astaga, kalau bukan kali ini lo nyelamatin gue Gendut! Gue bisa kesal jambak rambut aneh lo! Untung aja lo adek gue. Lain kali jangan lagi,!"


"Ya! maaf kak Lisa. Lagian semua juga dari endorse kan?"


"Ccch!! bukan itu dari dady sugar gue!"


Mendegar hal itu Hanum terbelalak, lalu ia sedikit menekan kata 'Apa ' karna terkejut akan perkataan Lisa.


"Diem! bukan maksud gue, bos gue lah! awas lo kalau bilang Mama. Lagian, lo yakin mau gantiin gue. Kalau nantinya anak songong paman Jhoni nerima, terus bikin lo jadi pembantunya gimana?"


"Emang kaka udah pernah ketemu?"


"Belum sih, cuma sekilas aja di hape papa pas lagi video call. Itupun gajelas, lagian udah belasan tahun juga. Jadi mana mungkin kak Lisa ingat." jelasnya.


"Hanum! ayo bersiap, kita akan segera pertemuan malam ini. Dan kamu Lisa, papa sudah kirim tiket pesawat untuk kamu berangkat sekarang juga!"


"Cepat sekali." batin Hanum.


"Baru datang udah di usir." ungkap Lisa.


"Ayo nak! tidak ada waktu. Lagi pula ini kemauan kalian bukan. Jadi keputusannya kelak, kalian harus terima." ungkap sang Mama.


Sementara Lisa telah berangkat lebih dulu, ia telah pamit pada kedua orangtuanya, juga Hanum. Ia juga mencibir pada adiknya, semoga impian ia tidak di tolak berhasil, hal itu sudah terbayang pikiran aneh Lisa untuk adiknya.


Hanum kini memilih dress untuk acara pertemuan bersama Mama dan Papa. Meski begitu, ia cukup bingung untuk memilih warna baju. Sehingga Hanum menjatuhkan pilihannya pada baju berwarna Hitam, agar ia segera merapihkan dandanan nya dengan sebuah parfum saja.


Namun Hanum tak bersolek alias dandan, ia berharap dengan keadaan seperti gendut dan jelek saat ini. Keluarga paman Jhomi menolak terlebih anak semata wayangnya yang di bicarakan papa, akan merasa jijik dan pergi dari acara pertemuan itu.


"Hanum, kamu yakin tidak memoles dengan bedak. Lipstik nak?"


"Haah! iya mah, Hanum yakin. Dengan tampilan seperti ini. Mereka akan melihat, jika Hanum apa adanya tampilan seperti ini. Bukankah jika Hanum mempercantik, maka pria itu akan syok ketika melihat Hanum tak berhias. Bahkan jerawat dan tompel ini .. ?"


"Baiklah jika itu keputusanmu, ayo kita sudah hampir terlambat!"


Lisa dalam perjalanan, awalnya ia meragu. Ia tidak tega dengan Hanum. Meski adiknya itu sedikit berbeda darinya, tapi ketika ia berkorban karna ulahnya. Itu sangat membuat hatinya tak karuan, rasa bersalah. Namun karna tekad Hanum, ia akhirnya mau tidak mau kembali ke paris. Sehingga ia juga cukup senang, kala umurnya yang kini sudah dua puluh enam tahun. Ia tidak terburu buru untuk segera menikah, pikiran Lisa adalag karier dan populer akan fisiknya yang lebih jauh dari Hanum.


Dalam perjalanan, Armand sangat yakin jika putrinya itu akan di tolak oleh putra Jhoni. Sehingga Rita juga yakin, jika putri gemoynya itu tidak akan menikah muda. Belum lagi, fisik Hanum dan Lisa memang sangat jauh berbeda, jika Lisa dengan body bak model dan rambut lurus yang setengah pinggang. Juga bibir tipis merah jambu, bulu mata yang lentik sangat indah dan menjadi incaran kaum pria.


Sementara Hanum, ia yang sulit menurunkan berat badan, dengan bobot 89 kg. Serta banyak tanda tompel diwajah belum lagi jerawat kecilnya, rambut setengah bahu sudah pasti akan sulit bagi kaum pria menerimanya.


"Hanum, kita sudah sampai apa kau siap?" tanya Papa.


"Heuum. Ya pah, Hanum siap."


Sesaat Hanum menyusuri ruangan yang di persilahkan Art untuk menyambutnya masuk. Hanum terperanjat kaget, ia sangat terkejut kala melihat seorang pria yang tak asing dan tak ingin ia lihat.


"Tidak! dia pasti hanya mirip," batin Hanum, menyembunyikan wajahnya.


Benar saja, pria itu adalah pria yang melakukan sesuatu. Saat Hanum membersihkan kamar 501. Hal tak terduga, yang ia takutkan kembali terjadi. Hanum berusaha cuek tak terjadi apapun, tapi jelas saja Pria itu mendekatinya dan menarik tangannya.


"Kau! apa kau wanita yang di jodohkan oleh papaku?"


"Aku! entahlah. Tapi sepertinya begitu, apa yang aku lakukan. Jika itu terjadi, menolak. Aku akan menolaknya." jelas Hanum menunduk.


"Bodoh! biarkan berjalan dengan lancar. Kita buat perjanjian saling menguntungkan. Saat ini hanya itu yang aku bisik padamu. Ingat itu!" kecam Alfa menatap Hanum.


Sementara Hanum yang takut, ia segera mengepal tangannya. Ia tak boleh terus menerus di ancam oleh pria yang menyebalkan. Hingga kini Hanum mencoba untuk melawan, menarik Alfa dari belakang, tapi seseorang datang membuat Hanum mengalihkan tangannya pada sebuah pot hias.


"Hey! kalian disini, sudah saling kenal?" ucap seseorang yang membuat pandangan Alfa dan Hanum saling menoleh.


To Be Continue!!