
"Maafkan kami, kami tim medis meminta maaf. Pasein tidak dapat tertolong!"
"Tidak mungkin, itu pasti salah dan ga benarkan dok?" mata mengembang.
Hanum memundurkan langkahnya, ia menoleh pada Lisa dan mama yang menutup mulut dan memerah. Memejamkan mata seolah sesak kabar duka. Belum sempat Hanum bercerita banyak, belum sempat Hanum menunaikan janji berlibur bersama. Belum sempat Hanum membahagiakan menjadi anak yang dibanggakan. Lulus sekolah, bekerja hanya satu bulan dan menikah. Waktu Hanum sangat terbatas dan menyesal di kemudian hari ketika sang papa dinyatakan tiada.
"Enggak! dokter coba cek sekali lagi. Saya mohon dokter bantu selamatkan papa saya!"
Hanum mengguncang guncang lengan sang dokter. Kali ini Fawaz profesional, sehingga ia menahan air mata dan dengan permintaan maaf ia membuka penutup masker medisnya.
"Hanum. Saya sebagai dokter maupun sahabat baik. Saya minta maaf tidak bisa menyelamatkan papamu. Juga belum sempat di tindak operasi karna kondisinya tinggi tak stabil. Saya turut berduka cita Hanum."
Hanum menoleh, dengan senyuman ia meminta masuk. Lisa dan mama juga ikut masuk kedalam Intensive Care Unit. Kamar khusus pengawasan ketat karna kondisi pasien yang tidak stabil maupun kritis.
"Pah! kamu tidak benar benar meninggalkan mama kan? kita sudah janji untuk pergi umroh. Kenapa kamu tinggalkan kita?" isak Rita.
Isak tangis juga terlihat pada Lisa dan Hanum yang seolah mengering. Lisa juga sudah tiga hari tidak online semenjak sang ayah kritis berada di rumah sakit. Tapi air mata Lisa kembali bercucuran, ia gagal menjadi seorang anak yang berbakti. Waktunya selalu ia habiskan di luar rumah bersama teman Influencer, karna itulah ia menjadi selebgram terkenal dengan followers tertinggi. Tidak sedikit Lisa menyesal di hari akhir sang papa yang mengajaknya makan bersama dan jalan berdua Lisa tolak dan memilih makan dirumah dengan pesan secara online.
"Pah! andai waktu bisa Lisa putar. Lisa pasti tidak akan menolaknya. Kita pasti punya moment kebersamaan di hari terakhir. Maafin Lisa pah. Huuuhuu! papa kenapa pergi secepat ini." tangis Lisa.
"Andai mama tidak pergi arisan, tidak meninggalkan papa. Kita pasti punya momen hari itu." kembali Rita sebagai istri menyesal.
Sementara Hanum terdiam, ia mempunyai momen yang paling indah. Kedekatan dirinya dengan sang papa tidak terhitung. Hanya setelah menikah dengan Alfa ia berencana umroh bersama keluarga tertunda. Menyesalnya Hanum tak ada waktu panjang bersama sang papa.
"Papa! kamu adalah sosok pria yang aku banggakan. Pantas pencipta mengambilmu dari kami. Semua ini agar kami bebenah diri untuk lebih baik kan?" Hanum menangis sesenggukan.
Alfa yang menghubungi kedua orangtuanya. Ia segera menemani Hanum dan keluarga Hanum didalam ruangan. Ada sedikit sesak dan tak bisa ia percaya. Ia bukanlah pria yang mencintai Hanum, hanya saja saat ini empati Hanum sedang berduka. Ia cansel segala rencana pertemuan dengan Irene ke swedia melalui Elmo asistennya.
'Perasaanku kenapa sakit melihat Hanum, tidak aku begini bukan karena perhatian dan mencintai istri gendutku itu. Meski ia sudah langsing, tetap saja bobotnya akan besar lagi. Dan aku benci dengan tubuh gendut.'
Namun batin Alfa kembali memberontak, tak ada yang tau kedepannya seperti apa. Yang jelas perjanjian dirinya dengan Hanum masih bisa diselesaikan sampai waktu dan keadaan tiba.
"Mama, dia didalam. Sepertinya akan di kebumikan segera dan disiapkan untuk mandi oleh perawat."
"Ya tuhan! semoga mereka dilindungi dan dihiburkan oleh cahaya agar hidupnya tidak berlarut sedih."
"Ya. Semoga mah! kehilangan orang tercinta akan menyakitkan bagi siapapun." gumam Alfa.
"Dari itu, kamu hibur Hanum dan jaga dia ya! selama masa berduka. Bahagiakan hati istrimu nak! mama mohon!" senyum Maria pada putranya.
Alfa hanya terdiam tak menjawab sepatah katapun, permintaan sang mama. Disusul oleh Jhoni sang papa, melewati keberadaan Alfa yang berdiri diam. Ia sudah tau, apa yang ada dalam otak sang papa dengan hati kemauan nya. Hanya saja Alfa tak bisa menolak permintaan sang mama saat ini.
Darling kamu dimana? aku sudah sampai bandara! kita jadi berliburkan? pesan Irene.
Irene, aku sudah mengirim pesan dan memberikan uang saku untuk shoping! berliburlah! keluargaku sedang berduka. Maafkan aku honey!! Alfa membalas pesan irene.
***
"Sayang! kamu harus sabar ya!" pinta Maria.
"Benar Hanum, papa mertuamu bisa jadi sandaran. Jika kau sedih, datanglah pada kami!" tambah Jhoni.
Hanum masih menangis, isaknya pecah semakin tak tertahan. Menghapus air mata di pipi, tetap saja membuat dirinya hancur berkeping di tinggalkan papa tercinta.
Bagi Hanum seorang Ayah tidak pernah membuat anak perempuannya menangis, apalagi membentak hal kecil apapun. Itu adalah momen kesedihan Hanum di tinggalkan papanya saat ini.
"Om, terimakasih. Tante setelah pemakaman nanti. Hanum ingin bicara, semoga kalian bisa mengerti keputusan Hanum." lirihnya, membuat sorot mata Alfa terperanjat dari sisi pintu dan mendekat ke arah Hanum.
To Be Continue!!