BAD WIFE

BAD WIFE
KRITIS HANUM



Rico berada dalam ruang Ugd! dia merutug kesalahannya, karena tidak bisa menjaga Hanum. Musibah yang membuat Hanum celaka, seolah menjadi kesedihan mendalam bagi pria seperti Rico.


"Sayang! bangun, cepat kembalilah. Mas tidak ingin kamu pergi seperti ini! mas ingin kamu baik baik saja. Jika boleh ditukar, mas yang ada di ruang operasi bedah saat ini." ujar Rico, membuat Daren terdiam.


Rico tak perduli dengan masa lalu Daren dan Lisa, apalagi bersangkutan dengan Fawaz. Yang ia pikirkan saat ini adalah Hanum, keselamatan Hanum.


"Maaf datang tidak tepat! aku niat bertemu baik baik, menyelamatkan dari kesalahpahaman ini. Tapi aku tidak menyangka dia mengintai istrimu!" ujar lagi Daren.


Daren merasa bersalah, kala istri Rico menjadi sasaran. "Aku minta maaf! tapi orang saya sedang mencari siapa pelakunya." ujar Daren, ia menepuk bahu Rico.


"Stop bicara, kau pergilah dari sini!" teriak Rico.


Tak lama mama Rita datang, menenangkan Rico. Lalu meminta pria di sebelahnya yang cukup asing bagi sang mama. Mama Rita kembali mencium obat asma, ia berusaha menunggu Hanum setelah berita dari Erwin dan dua kepolisiaan. Ia tahu, kesuksesan menantunya dan pertikaian cinta membuat anak dan menantunya diambang kehancuran yang terus berdatangan.


"Rico, ke musholla sekarang! mama tunggu disini, doakan agar Hanum bisa melewatinya! kesedihan boleh saja, tapi kamu harus tetap meminta padanya!" lirih mama Rita, mata sembab Rico membuat ia mengangguk.


"Rico tinggal sebentar ya mah."


"Iya, nak."


Daren menyalami tangan ibu lanjut usia itu, setelah Rico tak terlihat. Mama Rita menanyakan siapa dan ada keperluan apa berada di lantai yang sama, di depan ruangan ugd.


"Kamu siapa?"


"Saya Daren bu! maaf, jika tidak sopan. Apa saya bisa bertanya dimana Lisa. Saya yakin, tahu siapa pelaku yang menembak Hanum."


"Maksud kamu apa? ibu tidak paham."


Daren senyum, menitipkan sebuah foto dan menceritakan beberapa tahun silam, ia bertemu Lisa dan terjadi sesuatu. Daren hanya ingin mengetahui bayi Lisa, yang bernama Azri. Namun penyusup membuat masalah seperti ini.


Tak lama, orang Daren datang! jika pelaku sudah diketahui saat ini.


"Pak, dia pelakunya."


Daren membuka amplop, dan menatap syok tidak menyangka isi foto di dalamnya.


"Bisa ibu liat?" tanya mama Rita.


"Ah, tidak mungkin dia suami anakku saat itu, ayah asli Azri. Daren kau jangan membuat fitnah. Lisa ku tidak mungkin punya hubungan jauh denganmu! dia anakku yang baik, dan pelaku penembakan Hanum, pasti bukan dia. Ini tidak mungkin... ooh." mama Rita pingsan, melemas.


Suster!! teriak Daren menolong ibu Rita.


***


SATU TAHUN KEMUDIAN


Manik matanya berlari keluar jendela, menatap pada jalanan yang tampak sedikit lenggang.


Kaca minibus sedikit terbuka, membuat rambut Hanum yang tergerai indah bergerak tertiup angin, Rico membawanya keluar untuk mencari udara dalam kursi roda.


Sayangnya, angin itu sama sekali tak menyejukan hati Rico yang memanas, setelah detail siapa pelaku penembakan.


'Aku tak menyangka, mengapa Tuhan harus mempertemukan kita lagi, Fawaz. Jujur aku tidak siap menerima setiap tatapan kebencian yang kamu lemparkan. Fawaz yang dulu ku kenal begitu lembut, sekarang sudah berubah. Meski aku senang melihat dia kembali sehat, sudah bisa berjalan lagi. Tapi hatiku perih. Hatiku perih saat harus mendapat kebencian dari lelaki yang masih sangat mencintai istriku.' batin Rico, mendorong kursi roda Hanum, ia pulang ke rumah bebas dari perawatan rumah sakit.


Kalau boleh jujur, Hanum sangat merindukan suaminya. Selama ini lelaki itu sering mampir dalam mimpinya, terlebih di saat kritis bayangan mas Rico terus memanggilnya hingga ia siuman.


Ketika membuka mata, dengan Rico, ingin sekali rasanya ia memeluk suaminya dengan erat. Tetapi kemudian Hanum sadar. Jika suaminya yang sekarang sudah tak mampu lagi ia jangkau, karena luka tembakan membuat sebagian tubuhnya sakit dan kaku.


***


Di Kamar Bayi.


Malam hari, Hanum menyanyikan sebuah lagu untuk mengantar Azri agar tertidur.


Jemarinya mengusap lembut rambut hitam legam anaknya itu. Hingga kedua kelopak mata Azri yang bulat, kini telah terpejam dengan rapat.


Hanum menghentikan nyanyiannya. Sekarang ia memandangi wajah polos Azri dengan senyum miris.


"Azri.. Maafkan Bunda, sayang. Seharusnya di usia kamu saat ini, kamu mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua. Tapi Bunda, tidak bisa memberikan itu. Maafkan Bunda, ya Nak" ucap Hanum lirih.


Jemarinya masih setia mengusap pelan rambut Azri dalam tidur.


"Andai kamu tahu, sayang. Kamu sangat mirip sekali dengan Papa kandung kamu. Bahkan, nyaris sebagian besar wajah kamu lebih mirip dengan dia."


Hanum melengkungkan sebaris senyum tipis saat menatap wajah Azri yang memang lebih dominan dengan Daren, pria yang ditemui beberapa saat.


Lebih lagi, kebiasaan bocah itu juga sama dengan lelaki itu. Mereka sama-sama tidak bisa makan makanan laut. Sebab keduanya memiliki alergi yang serupa.


"Selama ini kamu hanya tahu Ayah Fawaz. Kamu tidak pernah tahu jika ayah kamu yang sebenarnya adalah orang lain. Dan tadi siang, Bunda bertemu lagi dengan dia, Azri. Kami bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Dia masih sangat tampan. Persis seperti kamu." lirih Hanum menahan pedih di hatinya, karena ia tak sangka kak Lisa mempunyai hubungan dengan pria bernama Daren.


Terlebih selama pernikahan Fawaz yang manis, ia masih tetap mencintai Hanum sedalam itu. Bahkan menyakiti saat itu ia selingkuh benar adanya guna guna, dan perasaannya pada Lisa memang hambar. Hanum menangis sejadi jadinya, kenapa begitu sakit ketika Rico tahu jika Fawaz pelaku penembakan. Terlebih Lisa menyembunyikan yang sebenarnya selama ini.


"Sayang, kamu belum tidur? ingat pemulihan, sebentar lagi kamu pasti sembuh! mas akan terus mendampingimu."


"Mas, maafin Hanum! jika sebagai istri, selama itu Hanum tidak bisa menunaikan kewajiban sebagai istri. Hanum tahu, mas sangat sulit dalam mengurus segalanya. Mas menikah lagi saja, Hanum pasti akan terus cacat dan menyusahkan mas."


"Hey! sayang, apapun itu. Mas tidak peduli, mas mencintai kamu dan anak anak sudah cukup! yang mas urus adalah Fawaz. Kenapa dia tega, dia sahabat kamu dulu, dia saudara mas. Mas tidak sangka yang menusuk dan menghancurkan segalanya adalah Fawaz. Mas kira semua ini perbuatan Alfa. Tapi Fawaz, mas berencana memberikan Azri pada ayah biologisnya."


"Mas.. tapi."


"Hanum, mas akan bawa kamu ke singapore. Pengobatanmu lebih penting, setelah sembuh kita bisa jenguk Azri. Ingat, anak anak kita Ghina dan Ghani."


"Mas tapi dimana makam bayi kita Ghariel."


"Sayang, kita harus ikhlas. Penembakan saat itu menembus janin, dokter tidak bisa menyelamatkan bayi kita. Kita harus sabar sayang! mas akan terus bersama kamu, perjuangan mas menunggumu siuman, sampai seperti ini mas tunggu! jangan patahkan hati mas, jangan patahkan semangat mas, hanya karena kamu tidak mau berjuang sembuh, kamu pasti bisa kembali jalan sayang! maka dari itu, jangan bicara untuk mas, mencari wanita lain, sebagai ibu sambung anak anak!" sengguk Rico menangis.


"Mas, maaf!"


"Hey, jangan nangis! mas yang harusnya minta maaf, mas terlambat melindungimu sayang!" balas Rico dengan kesedihan mendalam.


Hanum menangis di kursi roda, sementara Rico mengelus peluk kecup Hanum, ia hanya mencintai istrinya saja. Tidak perduli cobaan, ujian yang datang.


"Tetaplah semangat, berjuang dengan mas sayang! kita pasti bisa melewati ini semua. Mas tidak akan melewatkan pelaku dengan damai."


Tbc.