BAD WIFE

BAD WIFE
BERDAMAI



Setelah dari market Marco. Hanum yang datang sore hari, bermaksud menjemput Rico, ia segera meraih tangan suaminya untuk segera ke rutan. Tak sedikit karyawan yang melihat kemesraan pasangan bosnya itu.


"Hebat ya, Hanum jadi istri bos. Udah ga capek lagi kaya kita." lirih Vita.


"Udah kerja lagi yuk! ga boleh iri sama dapur orang." cetus Dewi menyadarkan.


Rico segera membawa Hanum ke rutan, untuk menjemput Adelia. Persyaratan tuntutan telah siap untuk di cabut, Hanum tidak marah. Terlebih kemarin sore papa mertuanya menemuinya ke kamar, saat Lion tertidur. Mark meminta Adelia tetap tinggal di rumah ini, dengan syarat berubah sikapnya menjadi lembut dan baik.


Selama ini Mark tak pernah mengajarkan kesombongan, kebenciaan dan sikap iri. Itu adalah hal terbesar yang menjadi rasa bersalahnya. Rico pun mencium tangan sang papa, agar ia cukup untuk istirahat dan tidak memikirkan hal lain.


\*\*\*


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


"Hay, adelia. Aku datang menepati janji." lirih Hanum.


"Kamu, benar datang? untuk apa, bahkan aku menyakitimu." wajah cemas.


“Cepat sembuh Adelia, aku memafkanmu. Berbuat baiklah, kita bisa damai dan kompak. Tidak ada gunanya kita bermusuhan. Keluarga Marco tidak pernah pilih kasih bukan?"


"Benar, Hanum kamu seolah jadi pahlawan. Aku menyukai ka Rico, meski pupus. Erwin baru saja tadi tiba melamarku."


"Apa tanggapanmu, kamu terima?"


"Lebih baik, daripada aku diam di rutan ini." cetus Adelia masih saja sikap angkuh.


"Baguslah, ingat Lion dan pernikahan akan segera dilaksanakan!” lanjut Rico dengan mudahnya. Ia benar benar puas. Rencana yang sudah ia susun di otaknya benar benar berjalan mulus.


"Kalian ga ngerti jika ada di posisi aku. Huhuu." isak tangis Adelia.


“Kamu jangan nangis lagi, semua baik baik saja, kamu akan sembuh!” ucap Rico mengusap pipi Adelia. Secepat itu dia bisa berakting di hadapan Hanum istrinya.


Adelia menatap Hanum, ia menghela napas mendengar ucapan Rico tersebut.


“Makasih sudah menyelamatkanku,” ucap Adelia, menyambung akting Rico yang begitu kurang sopan pada Hanum.


"Mas, kita ke ruang polis dulu. Pak polisi pasti sudah menunggu kita." ucap Hanum.


Rico tersenyum dengan senyum yang terlihat begitu tulus, lalu ia mengangguk. Adelia memperhatikan gerik Hanum, jika wanita itu benar benar baik dan tulus. Adelia menggigit jarinya berusaha memikirkan apakah ia meminta maaf atau tetap pada pendiriannya saja.


"Adelia, aku tinggal sebentar. Ingat Lion menunggumu, dan butuh kasih sayangmu. Tidak ada gunanya bukan kamu marah terus padaku. Aku bahkan tidak mengerti kenapa kamu merasa tersaingi denganku." jelas Hanum.


“Makasih sekali lagi,” ucap Adelia.


Rico mengangguk. Hanum menatap Adelia, lalu ia menatap Rico. Teringat akan adik laki laki itu yang dilaporkan oleh anaknya. Di satu sisi ia juga ingin pelaku yang menabrak ayahnya dulu mendapat hukuman yang setimpal, namun di sisi lain ia juga merasa silau pada Rico yang sudah menyelamatkan hidupnya.


Hingga Rico dan Hanum ikut mengurus berkas yang di perlukan. Setelah selesai, Hanum bicara pada Adelia. Jika ia akan membantu merawat Lion, sampai psikis Adelia yang terganggu membaik.


"Aku tidak sakit mental, aku hanya rindu kasih sayang. Kakak Rico kenapa pilih Hanum, bukan aku dan tetap bersamaku?" lirih Adelia lalu ia sedikit tertawa, bagai pasien sakit jiwa.


Rico dan Hanum saling menggenggam, benar saja cinta berlebih membuat hatinya kotor dan akal sehat dan mentalnya terganggu.


Rico dengan sikap tenangnya, memberikan respon bingung pada Hanum. “Maksud kamu apa sayang? kamu benar akan merawat Lion?"


"Benar mas, bolehkan?"


“Mas, aku tidak mengerti apa maksud mas. Aku di sini hanya menolong Adelia, dia perlu bantuan kita mas. Kita rangkul dia, musuh itu hanya awalan saja. Aku akan membuat musuh menjadi teman terbaik, karena dia hanya iri pada kehidupan seseorang, tanpa tahu yang sebenarnya." jelas Hanum.


"Benar, makasih ya. Mas bangga sama kamu Hanum." kecup Rico mendarat di pipi Hanum


“Aku tahu keluarga ini sedang tidak baik baik saja, tapi aku berharap kita bisa merubahnya mas. Marco sudah berjalan puluhan tahun, ada banyak pegawai yang bergantung padamu mas. Setiap usaha yang maju, pasti akan dicari celah kesalahan agar tumbang. Aku akan berada di sisimu mas!"


"Terimakasih sayang. Aku bangga memiliki istri sepertimu." balas Rico.


Hanum dan Rico segera mengurus apa saja, ia benar benar meminta polisi membebaskan Adelia, dengan jaminan dan mencabut laporan karena naluri.


Adelia menatap Hanum tajam. Entah bagaimana, sedikit pun ia tidak percaya dengan ucapan bijak yang disampaikan Hanum.


“Kalau begitu aku pamit dulu, Adelia. Kamu cepat sembuh ya! kita akan bertemu di rumah.” ucap Hanum, menampilkan senyum malaikatnya.


Adelia hanya terdiam. Apa yang dilihat matanya seperti tidak bisa dipercayai oleh firasatnya. Ia merasa Hanum tetaplah musuhnya, keberadaannya mengancam posisinya di keluarga Mark. Tak lama Erwin datang dan mendekat ke arah Adelia, kali ini ia menggantikan sisanya setelah Rico akan pulang.


"Erwin, sisanya kau yang urus. Aku dan Hanum pulung dulu."


"Baiklah, terimakasih." balas Erwin yang menatap Rico dan Hanum telah menjauh.


“Nggak nyangka kalau dia memang sebaik apa yang diberitakan, berbeda jauh dari kenyataan yang kamu bilang Adelia,” ucap Erwin yang merasa bangga melihat kebaikan Hanum.


Adelia terdiam. Ia tidak suka Erwin memuji wanita lain, yang auranya itu tidak baik di matanya.


Erwin kembali menatap Adelia. “Apa yang terjadi, wajahmu seperti tidak suka?” tanyanya lembut.


Adelia menghela napas. “Aku cuma kecapean, cepat ingin sampai rumah,” jawabnya dengan intonasi buruk.


DI SWALAYAN.


Hanum dan Rico mampir ke swalayan marco di sekitarnya. Ia memilih bahan sayuran dan daging segar, terlihat apik dan bersih. Rico yang mendampingi Hanum. Beberapa manager yang melihat segera menunduk, membuat Hanum terdiam lalu menatap Rico.


"Mas, mereka tau kamu bosnya?"


"Benar, visi dan misi terpampang jelas fotoku. Jadi mau tidak mau mas terkenal bukan?" tawa Rico.


"Ga lucu mas, harusnya sih tidak perlu ketauan. Lebih bagus kaya di siaran tv. Prank prank gitu, kan asik jadi hiburan."


"Kamu nih, ga boleh kerjain orang. Ini dunia bisnis, bukan dunia hiburan sayang." gemas Rico mencubit hidung istrinya.


Hanum menoleh ke sebuah cake, ia ingin sekali red velvet. Tapi saat ia menunjuk, cake itu sudah diambil oleh orang lain. Saat pelayan mengambilnya dan membungkusnya.


"Mbak, masih ada yang kaya gitu gak, cake nya saya mau satu ya?"


"Maaf mbak sudah habis."


Wajah Hanum lemas, sedih dan terlihat bad mood. Rico menghampiri dan Hanum menjelaskan. Hingga Rico berjalan ke arah etalase cake, lalu bicara pada seseorang.


"Dimana manager kalian?" sentag Rico membuat seluruh pelayan terdiam.


Tbc.