
Fawaz membuka kaca jendela mobil, setelah itu ia segera melipat uang receh untuk memarkir. Hanum sedikit menolak jika ia tidak langsung pulang kerumah.
"Faw, kita seharusnya ga kesini, kita pulang balik arah. Atau aku naik taksi aja pulang."
"Han, sebentar aja. Aku mau tunjukin sesuatu di cafe itu. Aku pernah menitipkan sesuatu, karna itu aku minta waktumu sebentar!"
Hanum tak bisa menolak, tidak pantas jika dirinya baru berduka tapi sudah mampir ke cafe seolah tak ada raut kebahagiaan. Fawaz mengerti suasana hati Hanum. Hingga ia berakhir menggengam tangan Hanum, tapi Hanum lepas.
"Biar kamu tunggu disini! aku hanya ambil sebentar aja." senyum Fawaz dan Hanum mengangguk.
'Sebenarnya apa sih yang Fawaz mau ambil. Kenapa bikin aku penasaran. Tapi kenapa juga aku harus banyak memikirkan Alfa, enggak aku ga boleh jatuh cinta. Dan ini pasti bukan cinta hanya kasian apa yang sebenarnya terjadi sama Alfa.' batin Hanum melemah.
Hanum sendiri sedikit frustasi, tak lama Fawaz telah kembali dan masuk memakai seat belt. Ia senyum dan membawakan coffe serta roti sandwich untuk Hanum. Lalu memberikan satu surat terpampang rapih dan sedikit kusam.
"Cafe ini milik aku, aku menitipkan ini ketika aku pergi. Tapi sayangnya kata orangku kamu ga kembali datang sejak saat aku pergi. Simpanlah! mungkin aku sedikit lancang, tapi itu adalah sebuah harapan kecilku sama kamu Han." meletakan sesuatu di tangan Hanum.
"Surat, kamu buat surat saat itu. Aah! andai saja, sejak saat itu aku memang jarang keluar rumah karna kamu cuma teman aku satu satunya Faw." jelasnya.
Fawaz mengangguk, pantas saja ia tak mendapat respon dan hilang kontak. Rupanya Hanum pindah dan tak pernah ke cafe milik keluarganya lagi.
Hanum melahap sandwich, seharian ia lupa untuk makan. Kini ia juga lega, karna Fawaz lupa pertanyaan hubungannya dengan Alfa. Hingga setelah saling bercerita, Hanum sampai dikediaman sang mama.
"Aku pulang dulu, sampai ketemu nanti malam Fawaz. Pintu rumahku terbuka, mungkin akan lebih baik jika acara tahlilan nanti malam kamu datang." senyum Hanum.
"Ya! aku pasti akan datang, semoga kamu dan keluarga tabah ya! aku mau kamu tersenyum Hanum. Kesedihan akan membuat kamu tidak bersemangat, dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan untukmu. Salam sama mama kamu ya!"
"Ya! pasti, makasih Faw."
Hanum menyapa dengan ramah, terlihat tak ada Lisa dan sang mama. Meski begitu suasana sudah terlihat hampir beres.
"Menurutmu, aku kesini sudah hampir tiga jam. Aku menyiapkan semua untuk nanti malam. Undangan dari Rt akan ramai kan? Lisa sedang membeli suatu berkat, mamamu tidur masih bersedih."
"Ya mamaku pasti bersedih Alfa! hentikan suara besarmu itu. Aku tidak mau perdebatan kita terdengar. Kamu tau kan, bagaimana mamaku saat ini. Makasih untuk semuanya kamu telah membantu. Aku lelah!"
"Hanum, kau ingin mengakhiri semuanya. Kau yakin akan menghancurkan seorang mama dengan terus terangmu?" Alfa menarik lengan Hanum. Hanum merasakan getaran itu, tapi ia juga bingung untuk memutuskan langkah selanjutnya.
"Alfa! aku capek. Nanti kita bicarakan lagi, aku mohon kamu untuk diam!"
Saat itulah Hanum langsung menelan salivanya. Pria yang ada di sampingnya yang menjadi suaminya adalah seorang pembunuh? Apakah papanya tahu tentang hal ini? Tapi sepertinya papanya tidak tahu. Kalau papanya tahu, pasti dia tidak akan menjodohkan Hanum dengan pria itu bukan? Tapi apakah Alfa serius atau sedang bercanda sih? Apakah yang dia katakan ini benar atau hanya sedang mengerjai saja? atau Hanum yang salah dengar. Andai Hanum masih sempat berterus terang pada sang papa dan tak bingung untuk wasiat janji.
Hanum bertanya pada dirinya sendiri. Tapi tentu saja Hanum tidak bisa mendapatkan jawaban apapun. Dia tidak bicara dengan Alfa bagaimana dia bisa mendapatkan jawabannya. Apalagi nanti malam acara tahlilan, ia juga begitu takut untuk berterus terang. Hanum merileks diri untuk segera mandi.
"Hanum, ucapkan satu kata agar aku tenang!" lirih Alfa dengan mata lemah.
Hanum menoleh, pria ini benar benar membuat otaknya gila. Terkadang luluh kelembutan hatinya harus berlawanan. Tapi ia juga tidak mau terus menerus Alfa memperlakukannya seenaknya.
"Kau ingin bertanya apa lagi Alfa?"
Hanum melihat wajah Alfa yang terus menatapnya dengan setengah terbuka, mulutnya tentu saja pria itu mengerti kesibukan di dalam otak Hanum saat ini. Namun saat Hanum ingin melepas eratan tangan Alfa dengan kencang. Seseorang membuka pintu dan membuat Hanum tertegun ragu.
"Kalian kenapa?" lirihnya.
To Be Continue!!
Tunggu Next bab lanjutan ya ! Happy Reading All.