BAD WIFE

BAD WIFE
AMNESIA



"Kenapa denganmu. Hey Darling, aku Irene." bisik ke telinga Alfa.


"Pergilah mbak! tidak pantas jika anda di sini, lihat saja ada banyak keluarga dua belah pihak. Jangan terlalu mencolok." tegas Hanum.


Ia bukan cemburu, Ya! benar. Hanum pasti bukan cemburu saat ini. Melainkan sedang menjaga lontaran kedua orangtuanya dan kedua mertuanya. Tidak ada dikamus Hanum untuk jatuh cinta pada pria seperti Alfa. Meski dirinya kini sudah kehilangan bobot tiga puluh kilo. Dan itu membuat dirinya tampil percaya diri, meski masih membutuhkan olahraga rutin.


'Astaga Hanum! aku tidaklah mati matian untuk menurunkan berat bada demi Alfa. Tapi demi orang yang telah mencaciku!' batin Hanum.


"Really! kamu tidak ingat aku. Darling aku Irene." bisik kembali pada telinga Alfa, di depan wajah Hanum yang membuat Hanum jijik membuang wajah ke samping.


Tanpa sadar kedua orangtuanya datang menghampiri.


"Hai sayang! Hanum, kenalkan dong. Kedatangan tamu kok diem aja?"


"Mama. Ini, hanya rekan bisnis Alfa. Ya kan,?"


"Kenalkan saya mama Rita. Tapi kok sepertinya mama pernah liat deh. Ga asing loh, kamu itu facenya.. ?" sedikit mengingat.


Sementara Irene tersenyum, di balik Alfa yang tidak mengenal Irene saat ini. Ia akan terus mendekati dan masuk kedalam keluarga Alfa.


"Irene Monica." lirih papa mertua Hanum, yakni Jhoni Jhonson ikut menghampiri dengan istrinya.


"Dia seleb movie. Kau ingat tidak adegan dan film yang di perankan wanita ini. Bagus sangat cukup bagus?" puji Jhoni Jhonson. Membuat Hanum menoleh dan merasa panas.


Sementara Irene tau, jika Jhoni Jhonson tak menyukainya. Pujiannya itu selalu merendahkan, terlihat dari senyuman kepalsuan jijik padanya. Bahkan terlibat dalam beberapa klien ambasador dari Requitmen keartisan yang di selenggarakan keluarga Jhonson. Membuat jejaknya bagai empedu yang tak bisa masuk ke dalam kehidupan nyata Alfa Jhonson.


"Terimakasih Om pujiannya." senyum Irene menunduk.


"Owalah! pantes aja ga asing gitu loh," senyum mama Rita dan tersenyum pada Armand suaminya.


Sementara Hanum menggeleng kepala ketika melihat kedua orangtuanya senyum memuji. Tidak tau saja artis movie ini sangat membuat setengah hatinya mati tak beroperasi. Tampilan dilayar memukau, tapi aslinya sangat muak kepura puraan. Bisa bisanya wanita tidak menjaga kehormatan dan martabatnya demi popularitas.


"Baiklah. Tante dan Om, saya segera pamit. Karna ada jadwal syuting, saya hanya ingin memberikan ini pada Alfa." senyum Irene mengembang dan menata poninya yang di selipkan ke telinga kanan yang terlihat di jepit.


Hanum hanya memanyunkan bibirnya, memutar bola mata hingga ia melupakan gagang kursi roda yang ia tahan. Hingga dimana Hanum masih melihat Irene pergi dengan mobil mewah putih, terlihat seorang pria berjas hitam membantunya masuk kedalam mobil.


Cih! Terlalu berlebihan, apa setiap wanita terkenal seperti itu. Dia ratu movie, apakah sampai segitunya?


"Kau iri Hanum?" bisik Lisa, ia sudah tau wajah adiknya terlihat cemburu.


"A-aku. Hoh, tidaklah. Untuk apa juga, aku cemburu. Siapa dia?" Hanum menyibak tangan yang sudah jelas Lisa tau apa yang ada di otak adiknya.


Lisa sendiri datang, demi sebuah konten dan perkebunan teh yang membuat lokasi pas untuk ia posting di jejaring sosmednya. Sementara kedua mertuanya ikut saling menebar ke bagai arah, melihat lihat dan berpencar.


EHM!! deheuman seseorang, membuat Lisa menoleh saat menaikan Holder Hp, lalu ia lupa ada seorang pria dalam perban masih menatap sinis pada Hanum yang melebarkan kedua tangannya, dan memberi punggung. Seolah ia sedang marah karna di lupakan.


"Hanum! kakak pergi syuting dulu ya?!penggemar udah nyantol nih."


"Heum, iya kak."


"Hanum .."


"Apa lagi sih kak?" menoleh Hanum, lalu senyum meringis ketika melihat Alfa menatap tajam. Sementara Lisa telah melambai tangan dan berlalu menyusul para tetua.


"Aach itu! kau ini kecelakaan dan tidak, masih saja sama ketus. Apa kau akan kecelakaan lagi, tidak bisakah memaafkan?" lirih Hanum sambil mendorong kursi roda.


"Tidak bisakah kau meminta maaf, aku perlu perawatan loh?" mendongak Alfa pada tatapan Hanum.


Ya! jelaslah perawatan untuk otaknya agar tidak amnesia. Setelah banyak yang ia lakukan padanya, seolah ia lupa jika aku wanita gendut, jelek yang ia bully terus menerus dan bahkan ia sempat bicara lebih baik kehilangan warisan jika menikahinya. Dasar pria angkuh! kesal Hanum masih kesal karna statusnya masih menjadi istri Alfa.


***


Hari ini Alfa sudah banyak begerak, ia bisa berdiri dan perban luka juga sudah di ganti oleh Hanum. Hanum tak melupakan meminum botol hijau yang membuat hidung Alfa menutup saat Hanum meminumnya.


"Itu apa?"


"Ini, jus pare."


"Gak pait?"


"Udah biasa sebelum kau tertembak hampir mati?"


"Ckk!Sejak kapan kamu perawatan diri. Untuk aku ya?"


Hanum menelan saliva, ia kembali Treadmill di tempat. Mengacuh pertanyaan Alfa yang dari tadi masih saja mengoceh. Jujur saja Hanum masih yakin, jika sosok pria baik kali ini sedang amnesia. Sudah pasti ia akan mengelabui dan memintanya tutup mulut.


"Tubuhmu sudah cukup bagus, berkurang banyak saat aku koma?"


Hanum masih berlari dengan kecepatan normal, mengelap handuk kecil yang terasa keringat jatuh bercucuran dengan mengatur nafas. Menatap Alfa masih bersandar dengan secangkir teh menatapnya. Hingga Hanum mengakhiri olahraganya pagi ini, dan kini ia duduk membuka sepatunya.


"Alfa, kau tidak ada pembahasan lain selain body shaming ya? Tempo lalu kau bilang aku gendut, sekarang tidak kah kau tutup saja mulutmu!" cetus Hanum.


"Kenapa, kau merasa menang untuk mendapatkanku. Kau tertarik untuk bermain denganku setelah cukup seimbang bertarung dengan Irene?" senyum Alfa.


Hanum menggelengkan kepalanya, entah siasat apalagi rencana Alfa saat ini. Yang jelas, ia sudah berjaga jaga agar dirinya tak lengah. Kemarin saat Irene menghampiri dia bilang tidak kenal. Saat ini lihat saja, tidak untuk saat ini aku mengalah darimu Alfa Jhonson!


Alfa yang masih penasaran ia mengikuti Hanum, hingga dimana Hanum menuangkan segelas sirup. Alfa raih dan merebutnya untuk minum. Sehingga membuat tatapan penuh Hanum bercampur kesal pada Alfa.


"Kenapa, kau tidak ikhlas. Lagi pula kau bisa tuangkan lagi sirup untukmu Hanum?"


"Yes! silahkan kau minum sampai puas!" cetus Hanum menggeletakan gelas ramping dari sebelah yang baru ia ambil. Masih menatap senyuman miring saat Alfa menghabiskan minuman berwarna jingga itu.


Byuuuuh!! kau buat apa ini, kau campurkan apa minuman ini Hanum. Ceceran kembali pada mulut Alfa seolah tersedak sakit di tenggorokan, membuat mata Hanum sedikit melebar dengan senyuman.


"Aku campurkan serbuk mulas dan susu basi. Hahaa silahkan bermanja ria Alfa Jhonson! itu adalah hukuman kau selalu merebut dan mengecoh milik oranglain."


Alfa tentu saja ingin mengeluarkan minuman tadi, tapi terus terang ia masih tak bisa karna semuanya telah tertelan. Benar saja reaksinya benar benar cepat membuat Alfa ingin mencari kamar kecil.


"Rasakan kau Alfa! aku sudah tau apa rencanamu, sebelum kau buat aku jengkel. Aku pastikan kau yang menyerah!" lirih Hanum tertawa puas.


To Be Continue!!


Makasih udah dukung HANUM. Jangan sungkan mampir balik dari bab awal, karna ada tambahan beberapa bab yang harus author rubah karna kontes event. Terimakasih semoga kalian suka dan terhibur ya!