
Dalam hembusan angin, Ray membawa Lisa dan menuangkan sesuatu dalam cangkir kecilnya. Tanpa sadar, jika Fawaz masih mengamati Lisa, andaikan Lisa mau memberinya satu kesempatan, mungkin dirinya berada di samping Lisa. Di saat Lisa sedang syuting iklan, dan Ray terlihat berbicara. Sakit, bagi Fawaz saat ini melihat Lisa dengan orang lain.
Ray juga jujur, jika ia terlalu larut, mengatakan semua segala kekesalan dan kecemburuannya pada Lisa. Sehingga ia terlalu memaksa, dan membuat Lisa teringat, jika luka batin Lisa masih basah dan pria yang bernama Fawaz itu, harus ia hancurkan.
Ray yang telah duduk, Lisa yang sedang break! Ia kembali bersenda gurau. Bahwa saat ini Lisa berada di sisinya adalah suatu kebahagiaan, hanya butuh waktu untuk Lisa sadar dan membuka hatinya untuk dirinya saat ini. Ray berharap, Lisa sadar akan sikap dan ketulusan nya. Ia harus sadar, jika ia ingin sekali menikahi Lisa, bukan dengan pura pura. Hanya saja saat ini sebatas project.
"Ini adalah jahe rendah, sedikit hangat jika di minum sore seperti ini!"
"Hahaha. Apa aku harus memanggilmu Pak bos, pak Ray. Atau nama saja ..?" senyum Lisa, ketika sudah selesai pemotretan.
"Terserah kamu Lisa. Aku berharap, setelah proyek berjalan ini. Tidak ada lagi, wanita modus yang mendekatiku. Sudah lama aku tidak mencukur jambang dan kumis. Jadi aku harap, kamu tetap di sisiku. Perfect selalu, agar segalanya lancar bukan." lirik Ray.
"Modus, aku senang jika kita seperti ini. Aku jadi tidak sepi, aku punya tempat mengobrol. Karena project ini, aku bisa mengumpulkan pundi untuk masa depan anak ku." senyum Lisa.
"Jika aku jadi Fawaz. Aku tidak akan menyianyiakan kamu Lisa. Aku salah, menemukanmu dengan terlambat." ucap Ray.
Lisa semakin pusing, ia sedikit rabun akan pandangannya. Sehingga perkataan itu semakin meracau, aksi Lisa saat ini adalah telah mual parah. Hingga saat berbicara serius, di jawab tak seimbang dan aneh.
"Ayo kita masuk Lisa. Aku akan antar kamu pulang!"
"Tidak perlu, aku hanya lupa minum vitamin. Sebentar lagi Rico dan Hanum pasti akan menjemputku! atau Sinta segera sampai." balas Lisa.
Pandangan Lisa semakin tak karuan, ia lesu dan pasrah. Hingga akhirnya ia meminta bantuan juga.
"Ray, bantu aku! Aku ingin berbaring di sofa. Keram perutku, terkadang sering lemas dan ingin memejamkan sedikit mata. Agar aku bisa kembali fit."
"Benarkah? apa kehamilanmu tidak terlalu serius Lisa, kita ke dokter ya?" tapi Lisa menggeleng, ia hanya meminta di rebahkan di sofa.
Ray membopong Lisa, lalu tangan kanannya menutup tirai dengan remot. Hingga di mana, Lisa masih meracau dan menoleh pipinya.
Jauh dari dalam hatinya, Ray ingin meresapi kecupan manis bibir tipis indah Lisa. Saat sekolah dulu, pertama kalinya ia memberi nafas buatan, hingga kedua kali nya ia semakin lama, dan sedikit menikmati membuat Ray, candu ingin mengulang.
'Andai saja. Aku bisa memilikimu, dan bersabar menunggu hatimu terukir namaku Lisa. Aku akan cukup bersabar dan melindungimu.' gemuruh Ray.
Ray merebahkan Lisa di sofa, lalu saat ia berdiri. Tubuhnya di tarik, Lisa tak sadar bagai memeluk guling dengan erat. Jelas saat itu, ia menarik tubuh Ray. Hingga sesuatu terasa dan bangun kala tubuhnya saling menempel.
"Lis, lisaa .." menepuk pipi.
Ray berteriak, ia meminta security membukakan pintu. Lalu meminta Ken, segera cepat mengendarai mobilnya. Rasa panik itu membuat Ray, membopong dan tak menghiraukan tatapan orang lain.
"Minggir kalian!! teriak ray!" pada seluruh yang terpana melihat sang bos, membopong Lisa.
"Ken, cepat bawa dengan cepat! kita ke rumah sakit terdekat!" titah Ray, pada keponakannya itu, melempar kunci mobilnya.
Hingga sampai beberapa puluh menit, mereka sampai di rumah sakit. Tak lupa kala Fawaz yang mengikuti juga dari belakang. Sehingga kala panik melihat Lisa yang di dorong oleh Ray. Tangan Fawaz ikut mendorong dan saat itu juga Ray dan Fawaz saling menatap tajam, bersamaan dengan mendorong ranjang Lisa, yang segera masuk ruang Ugd.
"Bapak tunggu di sini, pasien segera kami periksa!" ucap suster yang terlihat bingung, apakah dua pria ini suami dari ibu hamil yang akan dokter tangani.
***
Hanum yang menatap dua bayinya. Ia segera meletakkan baby Ghina dan Ghani di ranjang bayi. Sementara mereka saat ini, menunggu kedatangan dua pengasuh yang sedang belanja bulanan bersama mama Feli dan mama Rita.
Tapi Rico masih saja memeluk Hanum dari belakang.
"Sayang, gimana kalau kita berikan adik untuk si kembar?"
"Mas, mereka masih kecil. Aku ga mau, masih terlalu sakit aku rasakan."
Rico, yang sedikit tergoda, ia membuka dan menyentuh gunung kembar Hanum. Bibir Hanum sedikit membuka, tanpa menunggu aba aba. Rico menyesapi, dan mereka masih sesekali menatap ranjang bayi yang sedikit pengertian.
Rico sangat nakal, ia terbawa suasana dan menyesapi tutup botol milik Hanum. Hingga di mana, Hanum membuka matanya dan menarik tubuh saling beradu.
Rico tak tahan, hingga di mana jelas ia menatap seluruh milik Hanum bulat, silau lampu ia remangkan. Namun ia sedikit sadar, ia tak mungkin melakukannya saat ini, tak ingin mengambil hak tanpa persetujuan Hanum. Rico menyudahi aksinya yang hampir lama membuat Hanum lemas.
"Sayang, apakah kita bisa melakukanya. Si kembar tidak akan haus lagi kan?"
"Sepertinya, mas Rico harus sedikit cepat! jika salah satu bayi kita menangis. Maka aku harus menyudahinya." bisik Hanum, membuat tatapan Rico lemas.
Tubuhnya merasa lelah saat ini, bahkan ia merasa ada sesuatu yang aneh padanya. Ia merasakan bagai mimpi, kecupan nikmat tapi ia seperti terlelap.
"Baby, jangan rewel. Papa butuh momy kamu sejenak sayang." Rico menatap ranjang bayi, yang jaraknya sedikit jauh dari kasur mereka.
"Aku terlalu bermimpi jauh Mas, bisa memiliki kamu."
Dan benar saja, aksi mereka lancar tanpa gangguan. Meski sedikit rengekan baby Ghina, terlihat menangis sebentar dan tidur lagi, mungkin terlalu keras Rico berteriak saat melepas. Sehingga baby Ghina sangat kaget.
Hingga di mana mereka bersiap mandi, lalu setelah itu ia keluar bergantian, dengan baju minim yang sangat terbuka.
Hanum kini turun kebawah, ia membuat makanan untuk Rico, lalu ia sedikit mengisi perutnya dengan sandwich dan teh, kala membuat sesuatu makanan untuk mas Rico.
Hanum serius berpuluh menit, tak lama Rico bergabung karena hari yang libur. Ia ikut sarapan dan bernonton televisi.
"Apa acara nya saat ini bagus?" tanya Rico, Ikut duduk di kursi dapur, ia juga menyalakan telvisi saat Hanum sedang memasak.
"Entahlah. Aku sudah menontonnya, seru tapi sedang iklan saat ini." jawab Hanum dengan senyum.
Hingga di mana Rico membuka perment mint, dan tiba saja saat film telah mulai. Dalam waktu beberapa menit, adegan kiss pertama pada pasangan terpampang di layar televisi. Membuat Rico kembali mendekati Hanum, dan mengecup bibirnya kilat.
"Mas, malu nanti dilihat orang. Baby Ghina sama Ghani mas tinggalin?"
"Mereka sudah dibawa pengasuh ke kamarnya sayang. Mas hanya ingin dekat denganmu aja." senyum Rico.
Tak lama mama Rita berteriak histeris, hal itu membuat Rico dan Hanum menghampiri. Tak lupa mematikan kompor.
Tbc.