
"Akh! Ya, Hanum sedang nebus obat asma punya Mama. Papa Jhoni, mau kemana kok dilantai ibu dan anak?"
Jelas Hanum, karna saat ini lantai dokter kandungan menyatu dengan apotik, hanya berbeda ruangan.
"Toilet! kebetulan parkir ga jauh dari sini. Hanum katakan apa kamu sedang ha-mil? ini kamu dari ruangan dokter kandungan kan?"
"B-bukan. Hanum janjian sama mbak Nazim. Sekaligus Hanum pesan buah, rencana mau jenguk mama juga." alibi Hanum agar papa mertuanya itu percaya.
"Baiklah! jam sudah mau sore. Jika kamu lelah, pinta Alfa menjemputmu. Kamu harus ikut terjun di perusahaan Jhonson! kamu itu istri penerus perusahaan papa. Jadi maafkan papa kemarin sempat acuh ya!"
"Ya, Hanum ngerti kok pah."
Hingga beberapa saat menyapa, mereka berpisah. Di mana Jhoni pergi ke loby parkiran. Hanum mau tidak mau memesan buah tak jauh dari rumah sakit, secara online.
Lalu menjenguk mama mertuanya, meski hanya meletakan ranjang buah.
Sudah beberapa saat, Hanum kembali keluar dari kamar ruangan Maria. Hanum tak bisa banyak bicara, hanya bisa menjenguk dengan dibatasi dinding kaca dan lengkap memakai jubah medis.
"Semoga mama Maria cepat sembuh!"
Hanum keluar, ia menarik tasnya dan berjalan perlahan. Rasa sakit diperutnya benar benar tak bisa ia tahan. Ia duduk dan menyelonjorkan kedua kakinya. Hanum menunggu Lisa yang menjemputnya, belum juga tiba.
"Aauwh! tidak, aku ga boleh panik. Aku harus tenang, dokter Felicia memintaku untuk bedrest dan tidak banyak memikirkan hal lain."
Hingga dimana Lisa yang memegang ponsel guna melihat maps titik keberadaan Hanum. Ia segera berlari dan menjatuhkan tasnya dan berpangku menatap adiknya itu.
"Syukurlah kamu aktifkan ponselmu Han, gps mu tetap tersambung di ponsel kaka. Ayo kita pulang, pelan pelan aja. Kaka bantu!"
"Gps! jadi kakak, bisa melacak aku?"
"Tidak penting, yang penting sekarang kamu ikut kaka!" cetus Lisa membuat Hanum terdiam.
"Kakak akan mengantar kamu pulang, kebetulan di rumah ada bibi surti. Kaka akan kerja, jadi kamu usahakan istirahat ya!"
"Mama tau aku hamil?"
"Duh, belum sih. Tapi lama kelamaan juga seorang ibu bakal tau sendiri. Udahlah singkirin soal Alfa suami gila kamu itu. Soal dia itu urusan kakak nanti!"
Hanum menjelaskan pada Lisa, ia meminta masukan sarannya. "Kak, jika papa Jhoni meminta Hanum untuk mengenal perusahaan Jhonson bagaimana?!" Hal itu membuat alis Lisa menyilang.
"Duh, segala ikut terjun. Kodrat wanita udah nikah mah, cuma dapat nafkah seneng seneng aja kali. Ngapain juga pake ikutan segala."
"Kak! mungkin maksud mereka ngenalin bahan kain sutra yang super import dan langka. Perusahaan Jhonson kan prodok kain, sama kebutuhan rumah tangga. Emang kaka udah pernah liat pabriknya?"
Lisa menggeleng, hingga di mana Hanum berteriak kesakitan. Membuat Lisa panik dan menghubungi Fawaz dengan nomor ponselnya.
"Aduh! Fawaz masih tugas kan? biar kakak hubungi dia."
"Jangan kak! aku bisa tahan kok. Aku ga mau bikin Fawaz sibuk urusin aku terus. Kasian dia itu banyak pasein yang harus dia tangani!"
Hal itu membuat Lisa mengerti, lalu mengambil vitamin untuk Hanum kunyah. Vitamin yang pernah Hanum ceritakan dari Fawaz, vitamin penguat kandungan dan pereda nyeri.
***
Ke esokan harinya, Alfa mengetuk pintu kediaman keluarga Hanum.
Took! Took!
Tak menunggu Lama, Lisa yang baru saja berolahraga. Ia menatap punggung Alfa suami adiknya itu.
"Eh! Lisa, apa Hanumnya ada?"
"Gue kakak ipar lo. Meski kita seumuaran, tolong sopan!"
"Haah! Kak Lisa apa Hanum istriku ada. Oke! puas,?"
"Eeeuuuh!" kesal Lisa, lalu ia segera membuka pintu.
Hanum bedrest! soalnya dia ..!! Lisa hampir keceplosan.
"Hanum bedrest kenapa?" tanya Alfa.
"Terlalu banyak pikiran, lagian aku heran deh. Hey Alfa! bisa ga kamu cerain aja Hanum. Ga tega gue liat dia nangis terus. Inget ya, semenjak dia nikah. Hanum jadi ga berkembang, anak perempuan dilahirkan untuk bahagia. Apa yang bisa diharapkan dari pria mental illness?"
Bruuugh!! Lisa menutup pintu.
"Lisa tunggu! aku bukan cowo sakit jiwa. Aku kesini ingin memperbaikinya. Aku tau, udah banyak salah sama Hanum. Tolong bantu aku!"
"Bantu apa?" kembali Lisa membuka pintu.
"Bantu merebut hatinya, juga saat ini papa minta aku agar Hanum bisa ke toko kain satunya. Berkenalan sama karyawan lain."
"Ga bisa, Hanum ga ada disini. Katanya suami, tapi ga tau keberadaannya. Aneh." cetus Lisa lalu kembali menutup pintu.
Sementara Hanum kini berada di Toko bahan Kain, entah dari mana ia masih saja memikirkan Alfa. Masih mendengarkan mode manager bahan kain menjelaskan, masih ditemani dengan karyawan papa Jhoni bernama Lani.
Hanum di hubungi papa mertuanya, meski beliau menyuruh pergi bersama Alfa. Tapi Hanum inisiatif pergi duluan. Karna Hanum butuh menenangkan diri dari adanya Alfa.
Hanum cukup memilih bahan yang sebentar lagi ia akan coba untuk menimalisir sebuah busana import, karna papa mertuanya akan mengadakan event. Hingga di mana, ia rasa cukup untuk membuat aktifitasnya kembali sibuk. Sehingga Hanum berfikir, jika kesibukan ini akan memakan waktu dirinya untuk tidak terlalu memikirkan Alfa.
TLITH!!
"Sayang, aku sedang berada di bali. Maafkan terlambat memberitaumu, aku hanya ga ingin kamu berfikir panik. Aku sedang menjalankan pertemuan." pesan terlihat dari ponsel Hanum.
'Ini nomor Alfa, dia bilang sayang. Pasti dia sedang salah kirim. Harusnya dia ini kirim ke irene.' benak Hanum, kembali menutup ponsel lipatnya.
Hanum sedikit minggir, ia menjauh dari kasir. Sehingga ia kembali melihat foto yang di tampilkan Alfa. Juga melihat historynya beberapa jam lalu, entah dari mana nama Hanum di tag oleh akun resmi Alfa. Bahkan Hanum sendiri tidak tau jika berteman di jejaring sosial pada suami crazynya itu.
Seperti inikah rasanya sebuah kecurigaan, Kenapa kamu memberi pesan yang membuat pikiran aku panik Alfa? Hal beban Hanum kini semakin bertambah. Sehingga ia membuyarkan lamunannya ketika Lani menyadarkan.
"Maaf bu, saya harus memberitaukan. Jika ini nominal yang harus kita bayar!"
"Aah, ya benar Lani. Terimakasih ya, kamu sudah yakin kan. Seribu pcs sudah cukup, kita akan coba nanti sisa bahan untuk membuat sarung bantal exlusive." senyum Hanum, lalu mengirimkan kabar pada papa Jhoni.
"Baik bu, semangat. Apa ibu udah sedia nama ukirannya?" Hanum menggeleng, masih memikirkan nama yang pas. Tentu sudah ada dalam bayangan, hanya saja belum terpikirkan yang klop mudah di ingat.
Beberapa jam kemudian, Hanum meminta Lani mengurus segala bahan masuk dan keluar, meminta untuk mengkroscek agar sebuah pabrik yang telah bekerjasama bisa segera membantu pesanan lebih baik, dan perusahaan nama label exslusive jhonson segera di bentuk sampai ke mancanegara.
Dan kembali Hanum menekan perutnya hampir terasa ngilu. Lani karyawan terbaik di perusahaan Jhonson segera menyadarkan.
"Bu Hanum, itu kenapa merah celananya. Ibu sakit? Toloong!!" Lani berteriak meminta pertolongan. Namun Hanum, ia segera lemas dan tubuhnya ambruk begitu saja.
To Be Continue!!
Sambil nunggu lanjutan Hanum. Yuks! mampir litersi Author yang menemani hari rehat kalian. Thanks buat dukungan Hanum Ya All.