
"Auuuwh!" teriak Hanum.
"Kenapa Han?"
"Aku sempat terpeleset dan jatuh, tapi aku tahan dengan siku tangan. Jadinya saat aku jalan sakit." jelas Hanum.
Fawaz segera meneriaki suster, meminta kursi roda dan membawa Hanum ke ruang perawatan untuk di cek.
"Aku serahin kamu Han, sama suster ya Han! Dokter Felicia akan cek kesehatan kamu dan janin kamu!" pinta Fawaz mengenalkan suster Sinta.
"Kalau mertuaku liat, jangan biarkan mereka tau aku hamil ya! Please Fawaz!" sendu Hanum.
Fawaz melihat dengan jelas, kala mata Hanum saat ini terlihat banyak beban. Tapi ia hanya bisa mengantar sampai gerbang ruangan lily, karna ia hanya dokter bedah ahli jantung. Fawaz juga menitipkan pada Sinta sang suster, untuk mengutamakan kesehatan pasein yang ia bawa tadi.
"Suster Sinta, tolong jaga dia ya! kabari saya kalau ada apa apa!"
"Baik dokter Fawaz." senyum suster.
Sementara Maria yang di berbeda ruangan dan lantai. Ia masih menatap langit langit rumah sakit, terlihat begitu tidak baik pada istrinya itu. Sebab jelas terlihat Maria tak bersemangat semenjak sadar.
"Apa yang kamu khawatirkan sayang?"
"Jhoni. Kamu tau keras kepalanya Alfa. Aku takut dan sangat takut menjadi ibu sambung yang gagal terhadap Alfa. Sekian tahun, ia masih tak tau jika aku bukan ibunya." lirih Maria.
"Sayang! cukup. Kamu itu malaikat, kasih sayangmu dan pedulimu terhadap Alfa sudah tak bisa diukur. Bagiku, kamu tetap ibunya, jika Melia masih ada pasti ia bangga. Hanya saja aku yang harus disalahkan, aku memanjakannya."
Fawaz yang tak sengaja ingin mengecek kondisi bibinya, ia harus mendengar hal besar yang tak pernah ia bayangkan. Kecurigaannya benar, jika wanita disamping paman Jhoni hanya istri pengganti.
Melia dan Maria adalah saudara kembar, dengan penyakit bawaan. Yakni rabun dan gagal jantung, setelah puluhan tahun diketahui. Itu adalah sebuah rahasia Fawaz saat masih bersama papanya, mendiang Ardhan Jhonson sebelum wafat.
Fawaz mengetuk pintu, tak lama suster lebih dulu masuk. Agar paman dan bibinya tak menaruh curiga, jika ia baru saja mendengar hal yang tak ingin merubah mood pasein. Bagaimana pun, saat ini paman dan bibinya adalah paseinnya saat di rumah sakit.
HANUM MERASAKAN NYERI.
"Apa disini sakit?"
"Enggak dok! tapi sebelah sini, juga panggul terasa linu." jelas Hanum menyentuh perut sebelah kiri.
"Ibu Hanum. Menurut American Pregnancy, sakit perut saat hamil adalah hal yang normal terjadi. Kondisi ini termasuk ke dalam proses perubahan tubuh karena pertumbuhan janin di dalam rahim. Saat rahim terus membesar untuk memberi ruang pada janin, ini dapat menempatkan tekanan pada otot, sendi, dan pembuluh darah, lalu jika terdapat nyeri pada perut kiri. Apa terjatuh?" tanya dokter Felicia.
"Aku hanya sedikit tidak berhati hati, apa akan ada masalah dok?" panik Hanum.
"Kita cek sekali lagi. Semoga hasilnya baik baik saja. Kita lakukan usg ya!"
"Baik dokter. Lain kali saya akan berhati hati."
Hanum menyentuh perutnya, kala melihat sketsa janin di ruangan dokter. Awalnya ia tak menginginkan ia ada, tapi seiring waktu. Fawaz menyadarkan Hanum. Jika bayi ini kelak penguatnya, ia harus bersabar dan tak menyalahkan lagi.
'Maafkan ibu nak! karna kecerobohan ibu yang membiarkan mereka mendorong ibu, itu sudah kategori mendorongmu juga. Maka dari itu, bertahanlah!' batin Hanum.
"Selesai, silahkan Bu Hanum rehat. Saya akan mendiagnosa sementara, setelah pengecekan tadi."
"Apa hasilnya dokter?" lirih Hanum.
"Maksudnya dok, apakah kandungan saya baik baik saja?"
"Seminggu lagi kembalilah! semoga hasil yang saya terka salah. Ini jarang terjadi, kehamilan bu Hanum adalah hamil di luar kandungan."
"Hamil di luar kandungan, apa akan ada resiko nya dokter?" terdiam.
***
BERBEDA DENGAN LISA.
Foto siapa lagi ini? Aaaakh.., Rehan tidak salah, dia mengirim undangan resepsi pernikahan. Lalu ia mengirim chat meminta maaf.
"Apa yang terjadi pada pria gorila itu, kenapa berubah drastis? dasar penipu, benar benar bisa merayu hati wanita jadi baper." gumam Lisa. Karna saat ini Lisa selesai photo shoot untuk perekrutan selebriti.
Tak lama ia menatap sosmed sang sahabat, ia menatap galeri dan mencoba chatting. "Nay aku kangen, terlebih Marti semakin jauh saja. Aku jadi rindu ingin mengunjungimu ke malaysia!" pesan group Lisa pada teman selebgramnya.
Lisa termenung di kolam ikan, ia merenung
mengapa takdir ku aneh sekali? lalu kembali menghubungi kabar Hanum. Sungguh Lisa khawatir padanya, tapi kesibukannya juga dengan karier tak punya banyak waktu.
Apa baiknya aku minta bantuan pada Nazim untuk bekerja kembali?!
Ya Pak Beni! bagaimanapun tabungan ku pasti akan habis, mengelola pabrik paman Heru rasanya aneh. Aku harus bekerja kembali untuk mama. Memikirkan cinta membuatku semakin merana, aku ga mau kaya Hanum yang tersiksa setelah menikah.
"Baiklah kita coba buat surel, mungkin pak Beni masih mau membutuhkan karyawan seperti ku yang antik ini!" Lisa mencoba melamar kerja, meski sampingan selebgramnya masih aktif.
Satu jam kemudian. Lisa berhasil mengirimkan surel pada entertaiment group. Dan perusahaan jco. Ia mencoba mendaftar apa saja, agar dirinya sibuk dan melupakan kesepian setelah sang papa tiada. Hanum yang tak tinggal serumah, dan mama sering di rumah Eyang.
Lisa pun berhasil menghubungi Hanum. Hingga dimana serak suara seperti habis menangis terdengar di dalam sambungan telepon.
"Han, kamu nangis? Coba kamu sharelock! kaka jemput sekarang!"
"Ya kak! aku butuh sandaran saat ini, terimakasih ka Lisa adalah kaka terbaik."
Lisa menutup ponselnya, ia terjaga dan berhati hati kala membawa mobil saat ini. Ia ingin segera bertemu Hanum adiknya. Semoga saja firasat buruknya salah.
'Han, tunggu kakak! sebentar lagi kakak sampai bertemu denganmu. Bertahanlah, jika lagi lagi Alfa membuatmu menangis. Maka kakak akan maju memperingatinya.' batin Lisa.
Sementarra Hanum, ia masih tak bisa membayangkan. Jika hasil saat ini, membuat Hanum down. Padahal di awal ia sangat berharap tak pernah hamil, karna kelak akan menyusahkan dirinya.
"Hamil di luar kandungan berisiko menyebabkan tuba falopi pecah. Komplikasi ini bisa terjadi secara tiba-tiba dan dapat disertai gejala berupa nyeri hebat di bagian panggul atau perut dengan atau tanpa perdarahan hebat, pucat, lemas, dan pingsan."
Hanum terdiam, ia tak menyangka ujian akan kembali padanya. Pengecekan dilakukan kembali minggu depan, jika tidak itu akan membuat garis keturunan Hanum bermasalah, maka akan ditindak lanjuti dengan kuret.
"Gak, itu pasti salah. Nak! ibu yakin, kamu akan baik baik saja. Maka bertahanlah!" sedih Hanum mengelus perutnya.
Hingga di mana Hanum berpapasan dengan seseorang.
"Kenapa kamu disini Hanum?" tanyanya.
To Be Continue!!