BAD WIFE

BAD WIFE
HAMPIR CELAKA



"Sebenarnya kamu kenapa sih Lis? Ada apa, kenapa pulang dari sana bisa kaya gini?"


Sinta bergumam, ia bulak balik di lantai ruangan rumah sakit. Jika bukan karena seseorang yang tiba saja lewat menghampirinya. Ia mungkin akan lambat menolong Lisa.


"Bagaimana, sudah ada kabar dari dokter?"


"I-ituu su- maksud saya, sedang di tangani dokter." Sinta gugup, kala Ray bertanya.


"Bisa jelasin, kenapa Lisa pulang tidak selamat?" tajam Sinta.


"Dia minta nyambung taksi, ga enak kalau gue anterin sampe depan rumahnya. Jaga nama baik Lisa, tapi denger kabar dia turun beli air mineral, ada sepeda motor mau nabrak."


"Gila, ini pasti ada hubungannya sama selingkuhan suaminya. Siapa lagi coba, Lisa ga punya musuh. Gue tau dialah."


Sinta yang berkata secara gamblang, ia berbicara formal layaknya teman satu lintingan.


Ray, meminta bawahannya menghubungi seorang dokter spesialis kenalannya. Lalu Sinta hanya menatap tak percaya, jika pria yang ia anggap penuh intrik. Ia benar benar menolong dan sepeduli ini, setelah ia di telepon Lisa, dan Sinta menghubungi Ray, karena bisa saja jaraknya lebih dekat, dari lokasi Lisa saat kejadian.


"Di mana suami dari wanita itu?" tanyanya.


"Su- suami. Owh .. Lisa tidaklah punya suami. Dia telah menikah lagi." asal bicara.


"Menikah lagi?" terkejut.


"Eeekh .. ma- maksud saya. Mungkin saja kan, lagi pula tidak seperti wanita bersuami." gumamnya.


"Jadi isu menikah lagi benar adanya, bukan baru selingkuh?" tanya lagi Ray, padahal ia sudah tahu.


Belum jelas Sinta mengatakan semuanya, ia telah di tinggal pergi.


"Ciiieh .. dasar pria sombong. Kemarin baik padaku, meminta data Lisa lewat Pak Ver. Aku yakin bukan soal pekerjaan." deru Sinta.


Sinta dan Ray, menunggu dokter datang. Sinta juga mengabarkan pada keluarganya. Yakni Hanum, beberapa waktu ia chat jika Hanum masih dalam proses untuk mempersiapkan menemui Lisa, hanya saja ia sedang mengurus sang mama yang sedang syok! juga dua bayinya yang masih bayi.


"Dok, gimana kabar teman saya?"


"Sudah membaik, tapi saya sarankan pasien jangan terlalu lelah. Semua baik, kandungannya juga baik. Hanya syok saja, mohon untuk tidak membuat pasein lelah ya!"


"Pasti, saya boleh jenguk kedalam?" ucap Sinta, dan diperbolehkan oleh dokter.


Beberapa jam kemudian. Sinta duduk di tepi meja balkon. Sinta memberikan Teh lemon untuk Lisa minum. Meski aneh, beberapa saat Lisa tak seperti biasanya. Ia selalu murung dan terlihat sedih.


"Lisa. Gue ga tau beban apa yang lo pikirin. Tapi melihat lo seperti ini. Gue ikut batin menyedihkan, apa gue sahabat yang ga berguna. Apa gue ga pantas membantumu?"


"Bukan gitu Ta. Bukan begitu, maaf dan terimakasih udah buat aku, selalu kita bersama. Aku hanya pilu untuk mengatakan sesuatu yang berat. Menceritakannya. Membuat aku sakit dan air mata ini terus aja mengalir. Padahal aku ga ingin menangis Ta." menatap Sendu. Mengusap pipinya yang basah.


"Baiklah. Maafkan gue terlalu memaksa. Jika sudah tenang, gue bisa bantu sesuai kemampuan. Terus terang gue ga mau lo kaya gini Lis."


"Eeets.. tunggu Lisa, lo ga bisa masuk kerja besok, gue ga mau isu itu .."


Lisa menatap Sinta. Ia menanyakan dengan berdiri tepat di wajah Sinta. Mereka saling menatap dan meminta penjelasan.


"Ta. Aku siap .. katakanlah!"


"Sebenarnya. Gue dah coba mencari tau, tapi gue ga yakin. Gue ga yakin jika semua Putrina yang buat isu itu. Gue ga punya bukti Lis, gue harap lo sabar ya. Jadi Putrina berkomplot sama Nestia, buat jatuhin kamu. Dan bisa jadi kecelakaan tadi, itu orang suruhan mereka. Dia mau celakain lo, supaya bisa rebut hati suami lo Fawaz."


"Put- putrina. Apa masalah dia padaku Ta?"


"Gak Ta. Diam membuat aku semakin sedih, aku harus bekerja saat ini, gue bisa tanya langsung."


Sinta semakin senang dan tersenyum menatap Lisa. Sayangnya, apa Lisa akan tahan banting ketika sampai di kantor. Benak Sinta semakin takut Lisa drop. Mengingat hal buruk yang terjadi ia pingsan dan terlihat frustasi.


"Tunggu. Lisa kalau frustasi seharusnya aku mengirim tiket konser kan?" sejenak Sinta. Lisa pun tersenyum, ocehan mereka sejenak jadi melupakan ricuhnya masalah.


"Di luar pak Ray yang bawa kamu, nanti gue antar pulang ya. Pake mobil pak Ray, tenang aja gue anter. Jadi ga akan ada isu kamu sama pak Ray. Gimanapun, pak Ray ikutin saran buat jaga jarak kan?"


"Iy, itu benar. Biar ga tambah masalah kedalamnya."


***


Beberapa Hari kemudian. Lisa dan Sinta telah sampai di pelataran ruang parkir. Ia menunggu dan memencet tombol absen seperti biasa. Hal itu telah terbiasa jika mereka selalu berdua.


Sinta membutuhkan Lisa. Sehingga Lisa pun sebaliknya. Namun tatapan di mulai dari ruangan lift. Semua orang berbisik halus dan terang terangan. Kala itu Lisa ingin sekali keluar, namun tak di sangka seseorang telah menyengkat kakinya.


"Auuuw .." pekik Lisa kesakitan, ia menahan tangannya pada pegangan, dan tidak jatuh.


"Woy, pake mata. Ibu hamil, kalau jatuh mau masuk penjara lo?!" emosi Sinta, pada Putrina.


"Ya mbak. Ada apa masalah apa ya?" ucap Lisa.


"Oh, mau jatuh. Ga sengaja gue." balas Putrina lalu pergi.


Sehingga Sinta ikut terkejut ingin menghampiri. Tapi Sinta terjegat. Lisa memegang baju Sinta, ia meminta dirinya untuk tidak menanggapi.


"Tapi Lisa .. dia itu,"


"Udah. Abaikan aja ok! Sinta, please. Thanks Ya. Karena kamu, aku bisa lewati semua." senyum termanis.


'Alaaah .. gue kira nih ya. Beneran pindah, kenapa masih di kantor juga?' gurau Putrina bertolak pinggang, dari jarak sedikit jauh menatap Lisa.


Lisa yang mengabaikan. Ia memilih untuk menutup telinganya. Baginya ia telah terbiasa dipermalukan. Sehingga Lisa pergi dan mencopy berkas untuk secepatnya selesai.


Berbeda Hal Lainnya.


Di Jam makan siang, Lisa memencet tombol ponselnya. Ia mencoba memberanikan diri untuk menemui Ray. Baginya ia masih status karyawan, untuk apa ia menghindar dan diam.


"Silahkan tunggu bu. Pak Ray sedang menemui seseorang di dalam!"


Lisa mengangguk. Ini pertama kalinya ia menemui Ray ke kantor pusat tanpa temu janji. Sebelumnya ia tak berani jika tanpa ijin.


Tapi kali ini tidak. Lisa ingin kejelasan akan gosip di kantor. Ia tak bisa berlama lama membuat dirinya semakin hancur. Hatinya semakin berkeping tak karuan. Kala mengingat seorang asisten rumah tangga berbicara dengan menjelaskan. Ada surat dari Fawaz, tapi Ray telah mengambilnya saat ia berada di rumah sakit, apa hak Ray mencegah Fawaz untuk menemuinya.


Tlith!


Lisa menerima pesan dari Hanum, jika ia akan kembali ke kota akhir pekan. Hanum meminta Lisa untuk menunggunya.


"Mama mau datang, jadi mama di rumah sakit karena berita aku sama mas Fawaz. Uuuuucch." Lisa menghela nafas, saat membaca pesan.


Tbc.


Pengumuman lewat fanspage chat! inbox sudah dikirim ya, segera akan dikirim pulsa 50k masing masing. Selamat buat tiga orang satu dadakan dukungan Hanum yang udah tebar vote dan gift. @MariaOzawa @Lindamotia & @Mery, kirim nomor nya sudah saya inbox ya. Buat kak lindamotia dan mery hasil kocokan ya! video sudah Author share, semua yang ikutin kisah Hanum pasti kebagian comot nama dari rangkaian nama yang selalu ikut jejak, bakal dimasukin namanya. Bentuk terimakasih Author aja kok! next bakal kena cidukan dadakan lagi ya! terus ikutin Bad Wife.


Berhubung Video disini ga bisa diselipin dalam bab Up! contohnya.