BAD WIFE

BAD WIFE
ALFA SALTING



"Mama. Kalian datang kesini, hanya jemput kami? Pah, bukannya mama harus istirahat?" tanya Alfa, ia menyingkir melepas saat memeluk Hanum.


"Mama kesini jemput Hanum, siapa juga mau jemput kamu." ungkap Maria mendekat ke arah Hanum.


"Mama kamu ini, dia mau jemput Hanum khawatir katanya." jelas Jhoni.


"Pah, Mah. Harusnya ga usah jemput, ngerepotin. Hanum jadi ga enak. Euuumh..,"


"Ga apa, mama seneng deh. Kalian tetap harmonis lagi. Dengan begitu, kalian bisa coba lagi. Mumpung kami orangtua masih ada. Mau ngerasain yang namanya cucu. Mama dan papa mertua kamu Han, ikut sedih, turut prihatin, kamu bersabar ya Hanum!"


"Makasih Mah. Pah."


Mendengar pernyataan dan doa dari mama mertuanya. Hanum segera ikut memeluk erat mama mertua yang menyabarkan. Begitu luluh Hanum ketika melihat orangtua yang baik, ia seperti tidak tega harus terus terang pada mama Maria. Jika dirinya dan Alfa menikah atas dasar, kepura puraan terpaksa diatas kertas.


Alfa menatap Hanum yang memeluk erat, ada rasa tulus melihat wanita yang pernah ia hina itu. Entah sejak kapan Alfa baru menyadari, jika getaran dan takut kehilangan adalah tumbuh rasa cintanya pada Hanum.


Alfa juga membayangkan, jika dirinya jadi Hanum, ia mungkin akan lebih bersikap buruk dan acuh. Mempercayai pria sepertiku yang selalu bermain wanita dan mudah mencaci. Akan lebih melekat kebencian dibanding belas kasihan, di dalam diri Hanum.


'Han, andai saja aku yang dipeluk seperti itu. Aku pasti merasakan kebahagian.' senyum batin Alfa. Alfa melihat Hanum memeluk erat mama mertuanya, seolah sedang menguatkan.


"Ya udah, Alfa. Kamu udah siapin, kita pulang sekarang ya!" titah sang mama.


Sementara Hanum, ia di papah dan berjalan bersama mama mertuanya. Saling bercerita dan sempat minta maaf, karna suaminya salah menduga pada Hanum, saat itu.


Hanum juga ikut mendengarkan, rasanya tak sanggup ketika mama mertuanya anfal lagi. Melihat sikap manis Alfa, kesungguhan dari matanya. Apakah tidak salah, jika memberi kesempatan kedua bagi Alfa? Lalu tugas Hanum adalah menjodohkan Lisa dengan Fawaz. Akan tetapi ia harus berbicara secara serius pada Fawaz tentang komitmennya yang kandas dan harus Fawaz lupakan impian mereka bersama.


"Kamu waktu itu pasti sedih ya, papa mertua kamu acuh sama kamu. Karna katanya Alfa nuduh kamu yang enggak enggak?" tanya Maria.


"Ooh mama tau? soal itu mah, kalau Hanum merasa itu hal yang wajar. Hanum minta maaf, karna memang Hanum sendiri yang salah sih." senyum Hanum.


"Tuh kan liat, begitu manisnya kamu kalau senyum. Kamu itu mantu idaman Hanum, kebaikan hati kamu. Itu udah sangat sempurna jadi menantu Jhonson. Iya kan Pap?" melirik.


"Betul itu, kalau Alfa masih lirik yang lain. Ga mantul itu, yang ada kita cut dia jadi anak kita! Bukan begitu Mama sayang?" jelas Jhoni dengan merayu istrinya.


"Duh. So sweet ya, mertua Hanum." goda Hanum tersipu malu.


Hahaaa!! semuanya saling tertawa, tidak termasuk Alfa yang menggaruk rambut tak gatal. Senyum miring dan wajah memerah seolah salting kala Hanum belaga manis didepan kedua orangtuanya.


'Sepertinya Hanum harus dekat dengan mertuanya, sementara kami tinggal bersama. Agar Hanum bisa manis padaku seperti ini.' batin Alfa yang ikut mengekor langkah istrinya.


SESAMPAI DI KEDIAMAN MERTUA.


"Hanum sayang, kamu istirahat diantar Alfa ya! mama dan papa masuk dulu. Nanti kita makan siang bersama ya!" pinta Maria.


"Tak apa sayang, sampaikan salam pada mereka ya! yang penting sehat utama. Alfa ajak istrimu ke kamar!"


"Haah, ya Mah. Itu sudah pasti." senyum lebar Alfa.


"Apa otakmu traveling? istrimu harus istirahat Alfa!" cetus Jhoni.


"Haduh! apa yang papa pikirkan sih, aku tertawa dan senang bahagia apa tidak boleh?" gerutunya.


"Tampilan wajahmu, senyum penuh intrik sudah terlihat di mata papa. Jadi jangan coba coba kelabui papamu!" sebal Jhoni yang melempar kertas kecil ke arah Alfa.


"Udah udah! ga papa, ga anak. Kalian bukannya samanya. Udah kasian Hanum dong, pipinya merona itu pasti! Kamu juga Alfa, ga perlu nyaut kalau papamu bicara kaya tadi!"


Alfa mengangguk, sesaat Maria menarik tangan suaminya kearah tangga. Sementara Hanum ikut menggeleng kepala karna sikap tadi saat berkumpul itu sangat lucu. Hanum berjalan lebih dulu meninggalkan Alfa yang masih meraih Drawstring Bag.


Hanum masih menatap langkah marmer dan rak lemari besar dengan kaca bening. Ia masih begitu malas melihat minuman koleksi keluarga Jhonson. Sehingga langkah Hanum terhenti ketika kedua mertuanya lebih dulu masuk.


Kini Hanum berdua saja bersama Alfa. Lalu Alfa segera meletakkan kembali Drawstring Bag nya. "Apa yang kamu pikirkan, kamu kenapa berhenti di sini Hanum?"


"Alfa! apa minuman mahal ini bisa dijadikan amal?"


"Maksdumu, amal dibagikan pada orang lain. Lalu siapa yang mau nerima, kamu tau berapa harga minuman ini?"


"Jangan sombong! maksudku jika hanya dipajang tapi tidak bermanfaat. Kenapa tidak dijual saja, lalu dibagikan hasilnya. Bukankah lebih bermanfaat. Contohnya, jika rak lemari ini jatuh karna gempa. Hancur semua bukan?"


"Kau! Aach, kenapa seperti mama sering protes. Baiklah akan aku pikirkan. Aku mengerti maksudmu."


"Satu lagi, setelah di kamar. Aku ingin sendiri, dan aku minta kamu jangan menahan aku. Aku ingin bicara pada mama Maria juga bertemu Fawaz. Aku harap kamu ijinkan!"


"Itu bukan satu lagi dong Han. Tunggu, soal apa lagi. Dengan mamaku bukankah kita sudah sepakat?" tanya Alfa meraih tangan Hanum.


Hanum menatap Alfa yang menggenggam tangannya, lalu kembali mematahkan hati Alfa.


"Kita belum deal soal sepakat Alfa! aku masih ingin meluruskan impianku!"


Alfa terdiam menatap mata Hanum, lalu ia juga menjatuhkan Drawstring Bag, sehingga Hanum menoleh kala wajah Alfa mendekat satu centi.


"Soal apa, aku ingin tau baru aku ijinkan!"


To Be Continue!!