BAD WIFE

BAD WIFE
KANEBO KERING



Saat ini, Hanum dan Rico mencari Lisa. Mereka khawatir dengan Lisa yang berpergian, terlebih ponselnya juga tidak aktif.


"Mas, jangan sampai mama tahu. Kalau kak Lisa ga ada dikamar."


"Sayang, biar mas suruh Erwin cari. Hubungi teman Lisa, Sinta. Waktu dimall mas emang ketemu Lisa, dia pulang sama Ray dan Sinta sepertinya. Mas kan udah jelasin, mas menarik Fawaz soal kerjasama yang sudah hampir bangkrut."


"Iy mas, tapi kak Lisa lagi hamil. Bisa bisanya malam malam keluyuran, besok pagi kalau mama tau kak Lisa ga ada dikamar, gimana?"


"Sabar ya sayang!" kecup Rico, menenangkan Hanum.


***


Pagi harinya Lisa memang akan diantar pulang oleh Ray! ia tak sengaja bertemu Lisa yang sedang berjalan dengan rasa sedih di sepanjang jalan raya yang terlihat sepi malam itu. Saat itu juga Ray meminta Lisa masuk ke dalam mobilnya dan mendengarkan curahan Lisa.


Ray menarik dasi, lalu membuka kancing dan meregangkan kerah baju kemejanya. Lisa cukup panik dan melirik akan sikap pria di sampingnya itu.


"A-apa kamu punya musuh?" tanya Lisa.


"Heeh, tidak apa. Bukankah dirimu yang lebih terang terangan mempunyai musuh?" ketus Ray.


Lisa terdiam, ia membuang wajahnya kala kemeja itu dibuka dua kancing. Ia semakin tidak biasa, duduk berdua namun pria itu membuka bajunya.


"Tu-tunggu. Kamu mau apa buka baju?"


"Aku, kenapa menutup mata. Aku akan menepi, hal yang seharusnya di lakukan."


Lisa membuka mata, ia menatap beberapa menit aksi Ray, yang telah menepikan mobilnya di pinggir. Lalu melirik, pria di sebelahnya hanya memakai singlet putih dan celana kantor yang masih rapih. Ia turun, dengan santai dan mengambil beberapa kanebo yang tersimpan di balik jok mobil.


"Tunggu disini Lisa. Aku akan kembali!"


Beberapa puluh menit, Lisa cukup tersipu akan aksi Ray, yang menyiram air untuk kaca mobilnya. Lalu menyemprotkan berkali kali pembersih untuk noda kuning telur. Hingga di mana, perhatian yang sedikit berhenti menatap aksi pria macho sedang membersihkan kaca mobil.


"Astaga. Apa selain bos, dia juga hobi memamerkan roti sobek. Memang benar, tubuhnya sangat ideal perfect. Tapi jika aku wanitanya. Haa .. lihat saja, aku akan makan hati kelak. Tak jauh beda dengan mas Fawaz." gerutu Lisa.


Lisa ingin sekali keluar mobil, membantu Ray. Tapi ia takut beberapa orang karyawan, akan melintas. Sehingga akan terjadi bahan gosip dan yang tak mungkin Ray suka. Alhasil ia sebal, kala di dalam mobil tak berbuat apa apa.


"Aaakh. Kenapa aku jadi serba salah, harusnya aku membantu membersihkan. Agar tidak ada wanita dan ibu muda yang berhenti di depan mobil. Sungguh ini bukan lelucon, atau sebuah Atraksi yang harus di pertontonkan." sebal Lisa, ia ingin segera sampai rumah.


Ray, yang sedikit lagi hampir selesai, ia ingin memeras kanebo dari tangannya, namun di hentikan oleh tangan indah Lisa. Hingga di mana ia terkejut. Karena Lisa membantunya.


"Hei, kenapa kamu turun?"


"Haah, agar cepat selesai pastinya. Memang apalagi, aku di dalam saja membuat sakit mata. Lihatlah! Terlalu banyak orang mengeliligi bukan?" menatap Ray.


Ray tersenyum, bahkan ia tak sadar jika banyak orang yang melihat dan senyum senyum melambaikan tangan. Hingga di mana ia menatap wajah Lisa yang sedikit lucu.


"Apa kamu cemburu?"


"Aku. Heeuh .. mana mungkin. Sudahlah, ini selesai, setelah ini kita mampir ke tempat cuci mobil bagaimana?"


"Baiklah. Aku juga ingin mengajakmu ke butik. Makan sore, dan pertemuan nanti malam. Project iklan kita."


"Pertemuan?" Lisa menohok kaget, kala beberapa mobil bus karyawan melintas.


Astaga .. teriak Lisa. Dengan sadar Ray, melirik tatapan di mana Lisa lihat, hingga di mana ia menutup wajah Lisa dengan kanebo dan menarik nya untuk masuk ke dalam mobil.


"Aaaakh. Bau sekali, ueeeeek. Uuuuuuueeek." melempar kanebo ke sembarang.


Lisa masuk!! dan Ray, menatap Lisa yang mual mual.


"Kenapa. Kamu ga enak badan?"


"Uuuueeek .. uuuuueek, dasar pria jahat."


"Auuuw. Kenapa memukulku?" tanya Ray.


"Pake tanya kenapa, bukankah kamu sengaja. Kamu tau aku hampir mati dan muntah muntah. Kamu tutupi wajahku dengan kanebo bekas lap kuning telur?"


"Owh. Aku tidak bermasud .. hanya saja tadi kamu yang mengageti aku duluan, sumpah ga sengaja Lisa."


"Peeea. Dasar bos gila, bagaimana bisa ia menutupi seorang wanita dengan kanebo kotor." gerutu Lisa, memang saat itu Ray berhenti kala kaca mobil terkena timpukan telur mentah, dari orang gila.


Ray, pun membuka singlet, lalu memakai kembali kemejanya. Hingga di mana ia kembali menyetir ke suatu tempat. Meski dalam perjalanan ia sempat meminta maaf berkali kali. Tapi Lisa hanya diam tak menanggapi.


SRITH!!


Lisa terhenti kala di sebuah butik. Lalu ia ikut turun ketika Ray, membuat kode untuk dirinya segera keluar. Hingga Lisa terpaksa turun, namun menatap Ray memberikan kunci mobilnya pada asistennya.


Satu jam kemudian, Lisa hanya menurut. Ia bingung akan banyak pertanyaan. Ia harus kemana, tapi lelahnya menjadi penat saat sebuah ponsel berdering.


"Sinta. Hah, ada apa lagi ini? tumben dia nelepon lagi?"


Lisa pun menerima panggilan dari Sinta. Lalu dengan cekat ia menerima panggilan.


"Ya Sin, ada apa?"


"Lo dimana lisa?"


"Gue. Gue lagi di luar, ada kerjaan."


"Yah, padahal gue ada di depan rumah lo nih. Masa ia, lo ga bisa pulang sebentar?"


"Sory ya Sin. Untuk saat ini, gue ada kerjaan dan ga tau mau kemana. Tugas kerjaan pastinya. Nanti gue kabarin, lo pulang dengan hati hati ya! gue ada teken kontrak iklan dulu."


"Ya udah, Lisa klo gitu ... ?" Tuut .. Tuut.


Sinta merasa kesal, mengapa Lisa sedikit aneh. Ia seperti menyembunyikan sesuatu darinya saat ini. Lalu bicara pada Hanum, Rico, tante Felicia dan mama Rita. Jika Lisa pergi dadakan karena teken kontrak iklan yang tak bisa di tinggalkan.


"Rita, apa sulit anakmu menerima bantuan kita? kenapa dia jadi mati matian kerja seperti ini, bahkan dalam keadaan hamil." cetus Felicia, sebagai ibu Fawaz yang gagal mendidik anaknya.


"Lisa, sudah terbiasa mandiri jeng. Maaf." ucap mama Rita.


***


BEBERAPA MENIT KEMUDIAN.


Lisa pun telah cantik dengan gaun berwarna navy. Hingga di mana, ia menatap cermin apakah ini dirinya. Ia menatap dress code dengan kerlipan dan sedikit memanjang belahan itu hingga menepi di atas lututnya sebelah kanan.


"Astaga apa ini tidak berlebihan. Sebenarnya aku akan kemana. Apa bos gila itu akan meminta makan malam. Lalu seperti di film romansa dan menginap di hotel lalu .. Aaakh, melakukan .. uuups." Lisa menutup wajahnya, yang sedang membaca adegan iklan.


CEETEEEGH.


Lisa terkejut saat keningnya di sentil oleh Ray.


"Apa yang kamu pikirkan. Cepatlah keluar!"


"Haaah. Aku tidak memikirkan apapun, hanya saja saat tadi. Aku berfikir, jika kita akan double date, dalam iklan preweding kan?"


Ray menertawai kepolosan Lisa. Hingga di mana, ia meminta untuk Lisa tersenyum dan tak befikir bukan bukan.


Ray menarik tangan Lisa. Meski seluruh pelayan menunduk hormat. Mengucapkan rasa terima kasih. Hal itu, membuat Lisa sedikit malu, untuk sikap manis pria yang sedang menggandengnya.


Hingga beberapa jam kedepan, project iklan bareng bersama Ray. Lisa senyum, karena telah selesai dalam pekerjaan pertamanya. Lisa mengelus perutnya dan berkata.


'Nak, semoga rejeki kamu ngalir terus. Mama dapat tawaran kontrak kerjaan baru lagi.' batin Lisa.


DI DALAM MOBIL, RAY BERBICARA AKAN ADA PERTEMUAN KLIEN BISNIS. IA MEMINTA LISA UNTUK MENEMANI SEBAGAI REKAN SEKERTARISNYA.


"Ray, apa kamu yakin. Aku takut, jika nanti?"


"Panggil Pak. Atau bos, saat kita di luar bertemu rekan. Kecuali saat kita berdua, dan di rumahku!" bisik Ray.


Lisa sungguh tak bisa berkata kata lagi. Pria di sampingnya memang sangat menyebalkan. Tapi ia menahan segala cara agar tidak emosi. Bukan berarti Lisa membencinya, Lisa hanya tidak suka jika sikap Ray, membekas kelak di hatinya.


"Aku tidak tau, apakah sikap manis pria ini. Hanya untuk membuatku rapuh kelak. Lisa kamu harus menjaga dan memagarkan hatimu! sudah banyak beberapa pria menyakitimu saat ini." batin Lisa, bergumam.


Masih menatap jalan yang lurus, tidak padat dan tidak juga terlalu lancar. Hingga mereka menepi di sebuah hotel berbintang yang mewah.


"Pak. Kita ke sini?"


"Ya. Di atas lantai sembilan puluh tujuh, adalah area aula rekan bisnis kita bertemu. Aku harap kamu tetap menahan rasa sedih, atau cemburumu pada seseorang yang mungkin kamu kenal!"


"Haaah. Apa maksudnya?" lirih Lisa.


Tak sadar, Lisa mengikuti gerakan Ray. Hingga naik lift dan menepi di sebuah lantai empat puluh lima berhenti.


Lisa di kejutkan dengan mas Fawaz dan Nestia. Rupanya mereka bertemu dalam management yang sama, terkait konflik dan kerjasama melibatkan mereka berdua. Yakni Lisa dan Ray.


"Kenapa, kamu ga berani masuk," tanya Ray, menatap Lisa.


Tbc.