
Beruntungnya kala Hanum dan Rico sedang berada di kepolisian singapore. Tanda tanda itu benar adanya Adelia, wajah dan sebagian tubuhnya itu sama persis. Hingga Rico menunggu hasil tes dna selama beberapa jam, hatinya sangat sakit karena mengabaikan Adelia.
"Mas, Hanum antar ke rumah sakit ya?"
"Ga usah sayang, kayaknya mas hanya kecapean aja. Mas harus ke pusat Marco kan, setelah dari sini?"
"Nanti saja sayang. Mas ga apa apa."
"Tapi kesehatan mas, lebih penting."
"Mas, gini aja. Aku nginep di apartemen milik papa di daerah sini. Jadi kalau ada apa apa, mas bisa cepat pulang. Kasihan klien mas, mereka jauh jauh datang loh." ucap Hanum.
"Mas lebih khawatir jika meninggalkan kamu di sini sayang."
"Tapi wajah mas pucet, mas juga tadi makan sedikit lagi."
"Mas hanya merasa bersalah, ucapan pedih mas terhadap Adelia karena mas ingin dia berubah, tapi jika benar adanya anak ini meninggal karena ulah seseorang. Pasti Alfa, akan mas hajar dia itu."
"Mas, Hanum sama halnya. Tapi memukul bukan menyelesaikan masalah, kita serahin sama pihak berwajib ya! yang kita pikirkan adalah bicara dengan papa. Adelia akan dimakamkan dimana, dan penjelasan dengan Leo sama papa juga. Hanum merasa bersalah."
"Kamu benar sayang, mas tidak kepikiran ke arah itu."
Tak lama pihak rumah sakit memberikan sebuah chip, saat tes dna berlangsung dan hasil otopsi. Rico meminta dokter menyerahkan segalanya pada polisi, dan ia percayakan pada polisi, serta merta ia meminta duplicat copy an. Apa yang sebenarnya terjadi pada Adelia.
Setelah beberapa saat, Hanum dan Rico mengabarkan pada orang rumah. Jika ia akan pulang dengan jenazah Adelia dan proses pemakaman. Terutama Erwin, ia sibuk membantu Rico menyiapkan segala hal. Bukan tanpa alasan papa Mark juga akan syok, tapi Erwin sudah bisa handle terkait kesehatan papa Mark, bagaimana ia akan menyampaikan secara halus.
"Mas, tapi kamu sakit. Biar Hanum hubungi dokter ya! atau kalau Hanum jemput mama untuk temani mas gimana? kira kira mama sibuk gak ya?"
"Boleh, tapi kamu gimana sayang. Setelah sampai ibu kota, mas langsung ke rumah sakit. Biar mas tunggu Erwin saja?"
"Masih ada waktu dua jam setelah penerbangan mendarat, Hanum antar ke apartemen. Hanum juga harus ganti pakaian dan ambil sesuatu yang tertinggal di rumah, sebelum dokter periksa mas. Rumah pasti akan ramai nanti." jelas Hanum.
Rico merasa tidak enak, ia sudah tau jika perusahaan Marco akan trouble dan guncang dengan adanya berita kematian tragis Adelia.
Beberapa kali Hanum mendengar. Rico menghubungi klien untuk bekerjasama, karena kasus Adelia semua saham dan nama baik papa Mark dan market Marco harus di ambang kebangkrutan lagi.
"Mas, maaf ya! Semua pasti gara gara Hanum, karena mas bela Hanum jadi ..."
"Hey! jangan melow. Perusahaan Marco sudah berdiri puluhan tahun. Soal pasang surut sudah biasa sayang, mas udah katakan. Ga ada sangkut pautnya sama kamu. Jadi kamu harus baik baik aja ya! hindari wartawan yang menghampiri."
Di mobil, Hanum sedikit sakit akan punggung, mata yang semakin berkunang dan pusing membuatnya bersandar memejamkan mata. Hingga menunggu tiba tujuan sampai, ia mengambil sebuah permen Jahe sekedar membuang rasa sakit yang ia tahan.
'Pria sukses ada, sosok wanita yang berada di belakangnya. Tapi kalau mas Rico, akan tumbang semua karena aku. Apa jadinya aku mas, aku tau hatimu gundah saat ini.' deru batin Hanum, karena tak ingin mas Rico mengalami kegagalan lagi.
Belum lagi Hanum selalu ingat kata kata Lisa dahulu. Yang selalu saja mematahkan kegundahan perasaan khawatirnya.
IBU KOTA.
Tiba Hanum dan Rico kembali, ia menyempatkan ke apartemen karena kondisinya yang tidak enak.
Apartemen Rico.
Rico yang sedang di periksa dokter, ia masih menatap sang istri yang masih menghubungi seseorang dengan wajah guratan campur aduk. Bukan guratan bahagia, melainkan sebuah kepanikan dan kecemasan karena di rumah akan banyak wartawan. Meski jenazah Adelia sudah pasti akan tiba esok pagi atau siang, sesuai prosedur.
Rico duduk dan lemas menunggu aksi istri yang sibuk di area balkon, hingga selesai. Tapi lagi lagi Hanum ingat kata kata Lisa dan wanita wanita yang saat ini mungkin mas Rico akan datang bersama klien wanita super modis melebihi model, dan mencerca Hanum adalah penyebab kematian Adelia.
"Aah! sudahlah Hanum. Jangan mematahkan ingat ingatan seperti itu lagi!" gumam Hanum menyadarkan dirinya, untuk tetap tenang.
"Baiklah bu Hanum, detak jantung, gula darah semua normal. Pak Rico hanya kelelahan saja. Setelah ini mohon waktu istirahat, jangan terlalu di forsir. Berikan waktu enam jam untuk rehat pak!" ujar dokter.
Setelah mas Rico di periksa, Hanum juga ikut serta di periksa karena kehamilannya yang menginjak lima bulan. Dokter juga ikut mengecek kesehatan pasangan suami istri itu yang memintanya datang. Sesaat sebelum mereka pulang ke rumah dan menjelaskan semuanya.
'Syok.' batin Hanum dan Rico saat ini.
"Punggung bawah bu Hanum juga bisa merasakan kramnya. Ciri ciri hamil sebelum dari riwayat selanjutnya yaitu rasa lelah sepanjang waktu. Tapi janin kehamilan semua berdasarkan dari haid terakhir. Minggu depan bu Hanum cek lebih lanjut ya! saya akan memeriksa perkembangannya!" senyum dokter.
"Sekali lagi selamat ya bu Hanum, bu Hanum dan pak Rico akan dikaruniai buah hati lagi, semoga bahagia selalu. Dalam beberapa bulan bu Hanum harus operasi nanti saya berikan rujukan, mengingat bu Hanum masih terlalu muda lepas melahirkan kelahiran pertama kan."
"Terimakasih dokter."
"Apa dokter, buah hati saya akan baik baik saja. Sebab kemarin istri saya naik pesawat?"
"Di usahakan ini yang terakhir ya pak. Semuanya baik."
Dokter pun menjelaskan, sehingga raut kebahagian membuat Rico dan Hanum saling senyum. Setelah selesai dokter pamit, setelah memberikan obat, dokter menulis resep obat tambahan untuk mereka tebus nanti.
"Terimakasih kamu sudah hadir sayang." kecup Rico pada perut rata Hanum.
Hanum sayang, meski perlakuan Adelia yang membuatmu tak nyaman. Di tambah kita akan hadirnya buah hati lagi. Percayalah mas hanya menginginkan dirimu satu satunya, istri dan orang terpenting dalam hidup mas, sampai maut memisahkan. Mas ga akan menyianyiakan dan menodai cinta pernikahan kita.
"Kamu dan bayi kita sehat terus ya! senyum, rileks dan bahagia. Agar mas juga semangat. Jangan lagi memikirkan hal terburuk. Marco akan baik baik saja, hal dunia bisnis selalu seperti ini. Mas hanya kesulitan ketika satu klien meminta mas menyerahkan aset Pusat Marco. Sedang menegonya saja. Apalagi syok berita kematian Adelia seperti ini." jelas Rico.
"Baiklah, semangat papa sayang." pujian dari Hanum dan calon buah hati. Sehingga Rico memeluk sang istri dengan raut kebahagiaan.
Hanum juga tersenyum dan mencium pipi suami tercinta, bisikan perkataannya ia menatap bola mata yang jujur, mereka menikmati indra pengecapan, yang telah bertautan dengan lama sebagai simbol keharmonisan.
Tak lama Rico mendapat panggilan dari Erwin, ia angkat dan berbicara selama beberapa menit.
Tbc.