
Hanum masih menatap prilaku Alfa dan seorang wanita. Hingga tak sadar ia berjalan membuat dirinya jatuh dan tiba saja sebuah mobil terlihat mematai seseorang dengan tatapan senapan pada Alfa. 'Tidak! apa dia mengincar Alfa?' benak Hanum.
Namun saat Hanum menghampiri, mobil itu pergi dan benar saja. Menoleh sikap Alfa dan seorang wanita kembali membuatnya sakit.
"Irene, kamu kenapa di sini?"
"Darling! Eeeeum. Bukankah kamu berpesan, agar aku cepat datang? Jadi aku yakin, kamu akan datang kesini." senyumnya.
'Haah! jadi dia itu kekasih Alfa. Apa dia selebriti, atau .. kenapa wajahnya familiar ya,?" Hanum memikirkan penuh tanya. Sementara dirinya mengekor di tinggal lebih dulu oleh Alfa yang bergandengan manja.
"Hey gendut. Jangan lambat, jika kau ketinggalan. Maka kau tidur diluar!" ketus Alfa menoleh kebelakang, yang melihat senyum miring pada Hanum.
Ck.. Hal itu membuat Hanum ingin melempar sesuatu, tubuhnya memang gempal. Tapi membawa koper dan bag miliknya saja sudah berat. Di tambah harus membawa koper milik Alfa yang besar. Sungguh gila, aku di nikahi apa hanya untuk menjadi pembantu. Gerutu Hanum saat ini, membuat matanya semakin berlinang.
Namun isyarat mbak Nazim, Hanum hampir lupa. Ia kembali bergegas masuk dengan sekuat tenaga. Menatap punggung wanita body goals terlihat sangat menarik, membuat mata pria pasti meliriknya. Sedangkan Hanum melihat dirinya berjalan saja, sudah menggetarkan bumi ketika berpijak. Hanya acuhan tatapan orang yang melihat ke arahnya seperti ejekan membuat Hanum telah terbiasa sikap orang menatapnya.
'Astaga! apa manusia di bumi harus berteman tergantung fisik. Padahal gendut atau kurus, semua sama saja di mata Tuhan. Apa salahnya aku gendut, bukannya aku terlalu bahagia. Hingga bobotku semakin naik, dan jika aku bicara terlalu kurus jelek, karna aku pikir dia terlalu menderita. Apa dia mau menerima ucapanku?' itu adalah perkataan Hanum dalam hati yang sudah terlanjur sebal.
Hingga ia lupa, dimana Alfa dan wanita tadi sudah pergi lebih dulu. Hanum melirik mencari cari agar jejaknya benar tak kehilangan.
"Aduh! dia kemana arahnya ya? Masuk lift, apa tangga. Tapi kok ga keliatan, aduh dasar bodoh! lagi lagi kehilangan jejak." Hanum menoleh tangga yang berputar melingkar seperti obat nyamuk bakar dari tangga paling bawah.
Hanum mencari cari, hingga akhirnya ia lelah. Ia duduk di sofa sejajar dengan custumer service, wanita bule yang dari tadi mungkin melihat dan memperhatikannya.
"Hello Miss is there anything I can help, need help" artinya hello nona, apa yang bisa saya bantu. Perlu bantuan? wanita bule itu menghampiri Hanum yang memijit mata kaki bengkaknya.
Aduh! Help artinya tolong bukan ya, apa dia nawarin bantuan buat aku ya. Hanum masih senyum memijit kaki bengkaknya.
"Begini kak, eh mbak. Kaki saya bengkak. Capek, bisa bantu saya cari kamar Alfa?"
"What? Alfa, custume nomor berapa. Sudah reservasi?" tanya wanita bule, yang kini berbahasa indonesia.
'Jiah! tau bahasa indo juga, syukurlah. "Alfa pria yang pakai baju kotak kotak garis emas. Sama cewe mirip model shampo pantene. Baru aja tadi lewat, tolongin saya ya mbak!"
Mendengar ocehan Hanum, wanita bule itu tersenyum. Mengambil talky walky yang terikat di pinggang. Tak lama dua security datang menghampiri membuat Hanum ternganga.
"Permisi! Nona mari ikut kami, tunawisma tidak boleh ke tempat ini. Ini adalah peraturannya!"
"What. Tunggu! saya bukan tunawisma, dasar pria gila, semua karna Alfa aku kaya gini. Kalian jangan sembarangan ya, saya telepon papa saya. Biar saya cari tau lewat papa saya, kalian ga percaya banget sih." cetus Hanum yang merogoh tasnya. Bodohnya lagi, ia lupa jika ponselnya berada di tas hitam pipih yang di tenteng Alfa.
'Ah! sial sekali, baru hari pertama. Kenapa kaya gini sih?" cetus Hanum duduk melemas, ia berjongkok dan merengek karna bukan tunawisma. Senyumnya meringis antara takut dan kesal.
"Aku bilang! aku bukan tunawisma. Huhuu! apa kalian tidak percaya padaku. Huhuuu?" isak tangis Hanum seperti anak kecil, hidungnya telah meler. Berharap Alfa turun mencarinya dan memberitau jika semua custumer service dan security tidak menyebutnya gelandangan yang numpang tidur secara gratis.
"Darling! kita sudah satu jam di kamar, kemana dia? kamu tidak mengenalkan istri jelekmu padaku?" tanya Irene.
Alfa yang telah mengaitkan kemejanya, ia akhirnya segera menoleh mencari keberadaan Hanum. Ia lupa pintu masih terbuka lebar, bahkan kopernya saja masih belum datang.
"Aku hubungi dia dulu sayang."
Dreddeth!! suara dering, Alfa menoleh dan mencari keberadaan bunyi itu. Terlihat jelas, jika ponsel Hanum ada pada tas ramping pipihnya.
Segera Alfa memakai celana, lalu terlihat buru buru membuat tatapan Irene menahan aksi Alfa yang panik.
"Darling. Dia hanya identitasmu saja kan, kamu tidak mencintainya kan?" menatap Irene dengan memakai rok.
"Sayang! jika terjadi sesuatu, aku bisa kena amuk mama papa. Kamu tunggu di sini ya!kecup Alfa pada Irene.
'Sssst! semoga panikmu bukan karna kamu mencintai wanita bogem ya, Darling!'
Kesal Irene, ia menyibak selimut, dan memotret dirinya saat ini berada dalam kamar pengantin.
"Kalian aku sudah bilang, aku bukan Tunawisma. Mana ada modelku bawa koper seperti ini kalian anggap begitu sih." masih mode menangis.
"Jelaskan pada kami, nomor reservasi dan nama yang jelas nona. Agar kami tidak salah pada anda." salah satu security.
"Namanya Alfa.. "
"Alfa Jhonson. Perusahaan Jhonson yang memiliki aset ratusan triliun pada hotel mewah ini." ungkap Alfa yang datang tepat waktu.
Hal itu membuat Hanum menoleh, menghapus air mata, dan matanya yang merah. Ia melihat jelas, jika semua karyawan hotel ini menunduk dan meminta maaf. Begitu datangnya Alfa meski mereka tak menghiraukan prilaku Alfa yang memakai kemeja miring sebelah, dan terlihat jelas celana boxer pendek.
Ciut hati Hanum, 'Bisa bisanya dia mencariku dengan setelan sehabis bergulat.'
"Kau terlalu lama, semua karna kamu Alfa. Aku di anggap tunawisma." protes Hanum.
"Sudah bagus kau ku selamatkan, lain kali kau jalan cepat dikit! mereka tidak salah, tubuh gempalmu memang seperti tunawisma yang selalu datang mengada ngada." cetus Alfa.
Hal itu lagi lagi membuat Hanum merasa tidak percaya. Lagi lagi ia harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan satu hari setelah resepsi pernikahan.
"Jika kau terus menerus seperti ini, aku akan benar benar merubah diriku menjadi kurus."
"Kau bilang apa, kurus. Dengan cara sedot lemak, itu akan membuat dirimu seperti buntalan kasur. Kurus atau seperti ini, tidak ada yang melirikmu gendut."
Hanum menghela nafas, hingga dimana ia melihat nomor 7501. Lantai sebelas, membuat Hanum tertuju ketika mendorong kopernya. Hal yang tak habis Hanum pikir adalah, wanita dengan setengah telanjang tadi senyum melambai tangan di atas kasur yang bertabur bunga merah. Terlihat jelas sudah berantakan.
"Kau lihat apa, kau ingin di depan pintu?"
"A-aku. Kamarku dimana?"
"Sofa! kau tidur disana, ada gudang kecil. Cukup seukuran tubuhmu ketika masuk. Lalu bersihkan semuanya, setelah itu kau masak!" titah Alfa membuat sorot mata hanum tajam.
Tling! Tling. Nada ponsel berdering, Hanum menoleh ke arah ponselnya. Terlihat sebuah panggilan, membuat Hanum ingin meraihnya. Tapi lagi lagi suara kasar Alfa membuat dirinya kaget.
"Jangan sentuh!"
To Be Continue!!
Dua bab meluncur, masih ada satu tapi masih proses reveiw. Jika tidak terlambat, malam atau besok dini hari ya All.