BAD WIFE

BAD WIFE
BERTEMU DI LIFT



"Pak Ric," Hanum memandang arah mata kebawah, layaknya karyawan bertemu bos.


"Hanum, naik dulu ke lantai atas. Ingat tunggu saya! jangan pergi kemana mana!" tegasnya memerintah.


Hanum mengiyakan, ia tau jika ada klien penting. Terlihat Adelia juga di samping menatap dengan ketidaksukaan pada Hanum. Belum lagi, tiga klien orang asing tepat di samping pak Rico.


Hanum segera memencet tombol tujuh, ketika pintu lift tertutup. Lalu sedikit gemetar kala ia ingin masuk ruangan Rico yang tak ada orangnya. Maju mundur saat itu Hanum, ia merasa tidak bisa masuk ketika pemilik tak ada. Hanum berusaha mencoba melirik ke kiri dan kanan.


"Masuk saja bu Hanum! mungkin setengah jam menunggu. Pak Rico meminta bu Hanum tetap di dalam menunggunya!" ungkap Erwin.


"Oh! ya, ok. Aku akan masuk, tapi di dalam tidak ada cctv kan?"


"Maksud bu Hanum."


"Tidak apa, saya akan masuk." senyum Hanum.


Entah kenapa Hanum masih sedikit trauma, ruangan yang menyisakan dirinya seorang diri. Membuat Hanum takut terjadi sesuatu, ia takut hal itu seperti Alfa di masa lalu. Setelah tidak bersahabat, ia akan menggertak dengan sebuah rekaman yang tak lazim.


"Sudahlah Han! pak Rico tidak seperti Alfa." gumam Hanum berfikir baik.


Hanum duduk di sofa, sudah satu jam matanya sedikit mengantuk. Ia memijit kening, menyapu tangan dengan menempelkan telapak tangan karna kedinginan. Lalu melihat sebuah mesin coffe tapi Hanum bingung menggunakannya. Belum lagi bola coklat di sampingnya, yang sulit di buka.


"Ruangan yang elit, tapi sayang aku tidak tau cara menggunakannya."


Hanum melirik tombol pembuat coffe. Bentuk bulat seperti coklat berwarna merah, biru dan hijau. Membuat Hanum melihat dan bingung cara untuk membukanya.


"Ini coklat, tapi kok susah dibuka ya?"


Tiba saja sebuah tangan melewati samping tubuhnya, Hanum menoleh tapi cekatan satu tangan lagi mengapit pada meja, melingkar tubuhnya.


"Maaf menunggu lama! ini bukan coklat tapi coffe!"


"Hah, benarkah?" lirih Hanum, wajahnya melihat Rico hanya sejengkal saja. Belum lama Hanum merasa kedinginan.


Tapi saat ini, kehangatan dari seorang pria tepat dibelakangnya. Membuat Hanum sedikit berkurang karna dingin.


Tling!


Coffe telah berbunyi, benar saja kucuran coffe Hanum lihat, saat bentuk coklat di masukan kedalam mesin coffe. Dua gelas Rico buat masih dalam memberi punggung. Seolah ia mundur sulit untuk bernafas, karna hanya dalam berapa centi tubuh Rico benar saja sangat dekat.


"Sudah siap, masih mau berdiri atau duduk Hanum?"


"Pak! sepertinya tidak enak jika dilihat orang. Sebenarnya ada apa ya pak? saya kesini karna..,?"


"Aku hanya memastikan, apakah semalam kamu marah padaku. Terlihat dari cctv kamu bekerja hari ini. Murung dan seperti malam kemarin kamu tidak bahagia?"


"Wuaah! pak Rico, kenapa harus memperhatikan saya bekerja. Itu hanya perasaan bapak saja." gelak tawa tak lucu.


"Benarkah, tapi melihat wanita masa depan saya harus baik baik saja dan bahagia. Baru saya tenang." jelas Rico.


Hanum terdiam, apa ia harus menjaga jarak. Agar Rico tidak menaruh harapan padanya. Hanum takut jika kelak, Rico akan sama seperti pria lain yang selalu saja tidak rela jika perpisahan tiba. Maka sebuah aib yang akan membuat dirinya kembali dalam masalah.


"Tapi apa..?"


"Ka Lisa bilang, aku suruh bawa seperangkat alat shalat. Pergi begitu saja, apa maksudnya ia meminta dibelikan mukena?" bingung Hanum.


Uhuuuk! Uhuuk! terbatuk Rico. Saat Hanum bercerita dengan bawel menjelaskan.


Rico mengambil air minum, dengan kilat Hanum mengambil satu gelas yang ada di meja kerja Rico. Lalu dengan berhenti beberapa saat, Rico menatap tajam pada Hanum.


"Apa saya salah pak?"


"Begini. Apa Lisa sudah menikah?"


"Pacar aja belum, gagal terus. Huuuftt. Bapak ngerti artinya?"


"Biar saya kirimkan sesuatu agar mood kakakmu baik. Sekarang kamu bersiap ambil tas mu Hanum! kita segera ke rumah sakit."


Aneh! Hanum lagi lagi tidak mendapat penjelasan. Ia keluar dari ruangan Rico dengan mode maju mundur menatap Rico yang masih memandangnya serius.


Rico menghubungi Erwin, mencari data Lisa dan gerik siapa yang ia sukai. Namun dalam beberapa menit ia sadar. Jika Lisa meminta Hanum untuk tidak jatuh cinta, bahkan dekat dengan seorang pria.


Pada umumnya wanita yang dilangkahi, akan sedikit cemburu jika ia akan dilangkahi lagi. Konon pepatah dulu jodohnya akan tersendat dan sedikit lebih lama. Hal itu Rico sadari dengan tatapan tak biasa, ia sedikit lega karna Hanum terlihat berbeda bukan karna dirinya.


Hanum yang sampai loker, ia merutug kekesalan. Ingin sekali cepat pulang, ia melupakan jaket dari Rico malam kemarin. Hanum melihat model jaket dari eccomerce. Ia sedikit syok yang melihat harga dan model jaket puluhan juta.


"Ya ampun, bahkan gaji ku selama dua tahun tidak cukup. Bagaimana jika jaket itu rusak?" lirih Hanum panik.


Hanum mencoba menghubungi orang rumah. Guna bertanya pada mbok surti. Semoga jaket itu masih ada, tidak tergores oleh kucing atau peliharaan tetangga sebelah.


'Matilah kamu Hanum, ceroboh sekali melupakan jaket. Gimana nanti kalau pak Rico nanyain?' gerutunya.


Hanum segera mengambil tas, ia turun ke arah tangga dan segera menuju loby. Guna meminta maaf, menjelaskan soal jaket. Hutang yang lain saja belum ia bayar saat melunaskan pada keluarga Jhonson. Kini soal jaket branded yang tak mungkin Hanum bisa membelinya.


"Semoga pak Rico tidak marah."


Buugh! tangan seseorang menarik sweater Hanum. Hanum terhempas menuju pojok dinding tembok. Saat itu Hanum memang sedang ingin menghubungi Rico, jika ia sudah ada diloby. Tapi belum tersambung sudah terhempas tubuhnya.


"Aaaaaakh!" Hanum menahan sakit di sebuah lehernya.


'Alfa lepasin!'


"Ga akan ada yang nolong kamu, sekarang kamu mau ikut aku atau mati di sini!" lirihnya.


Pandangan Hanum terlihat samar, ketika apitan kedua telapak tangan besar menempel erat pada lehernya.


'Siapapun tolong aku!'


~ To Be Continue ~