BAD WIFE

BAD WIFE
WARISAN HANUM



"Ini apa?" tanya Ghina heran sambil menerima kertas yang ada di tangan Ghani.


"Kamu bisa baca kan?" tanya Ghani sinis.


Ghina menghela nafas berat, kemudian mulai membaca pesan yang ada di satu lembar kertas tersebut.


Betapa terkejutnya ia, saat membaca surat tersebut. Ternyata itu adalah surat dari bunda Hanum yang mengatakan kalau perusahaan Market Marco dan anak-anak perusahaan lainnya mulai saat itu dibawah kepemimpinan Ghani. Dan semua kepemilikan harta atas nama Rico, seperti sebuah rumah mewah yang terletak di pinggir jalan utama termasuk rumah reot yang berdampingan dengan rumah mewah tersebut akan dibuat nama Ghani, asalkan ia menerima lamaran keluarga Zoya yang mempunyai putri bernama Shiren.


Setelah membaca surat tersebut, Ghina memandang ke arah Ghani dengan tajam. Ia baru tahu, jika market Marco sebagian atas nama Ghani, lalu setengahnya lagi di pimpin milik Leo.


"Apakah kau serius, akan menolaknya?" tanya Ghina tidak percaya dengan apa yang di bacanya itu.


"Kamu punya otak buat berpikir kan? Kamu pikir ini sebuah lelucon? aku sudah bilang tidak ingin dijodohkan."


"Tapi kenapa?" gumam Ghina heran.


Ghani tidak habis pikir dengan semuanya, ternyata kakek adalah orang kaya, dan berbagai tanya memenuhi benaknya! terutama soal warisan tersebut.


"Kamu benar benar menjadi orang yang tidak bersyukur Ghani! Seharusnya kamu senang mendapat harta dalam sekejap seperti ini!" teriak Ghina marah.


Ghani terdiam mendengar pernyataan Ghina. Apakah dia harus senang seperti yang saudaranya katakan? Padahal dia tidak tahu alasan yang membuat kakek Mark memberikan semua harta kekayaannya kepada Ghani, selagi papa Rico masih hidup. Padahal kakek Mark memiliki seorang cucu lain bernama Leo.


"Tidak bisa seperti itu Ghina, aku tidak tahu alasannya. Apakah aku harus seperti itu?" tanya Ghani pelan dan menyugar kasar rambutnya.


Ghina hanya tersenyum sinis kepada Ghani, hanya karena ia anak perempuan. Maka kemewahan hanya berhak untuk anak laki laki.


"Kamu itu sombong sekali. Seharusnya kamu itu berpikir bagaimana cara kamu menjadikan perusahaan ini menjadi lebih maju di bawah kepemimpinan kamu!" ujar Ghina.


"Aku tidak punya pengalaman apapun, tentang perusahaan market Marco hanya kak Leo yang tau, aku hanya berpengalaman menjadi pemulung, tukang bangunan, dan presenter beberapa bulan. Dan itupun aku akhirnya di pecat, sekarang aku hanyalah kuli panggul. Apakah tidak lucu, seorang kuli panggul tiba-tiba menjadi seorang pemimpin di Market Marco?" tanya Ghani kepada Ghina dan memandang lekat kepada saudara kembarnya itu.


"Tapi kamu tamat kuliah kan? setidaknya kemauan bunda kamu bisa meneruskan papa, papa dan bunda sering jatuh sakit. Mengertilah agar kamu terima." tanya Ghina kemudian.


"Aku akan membantu kamu," Ghina kemudian setelah dia yakin kalau Ghani bisa di percaya sebagai pemimpin dari Market Marco, ia hanya sebal jika market Marco dipimpin oleh Leo, bagi Ghina yang berhak adalah anak kandungnya bukan anak angkat yang tidak tau diri.


"Kenapa kamu benci kak Leo?"


"Kamu lupa, Leo itu anak dari adik papa, dia bukan adik asli. Dia adik angkat, jelas orang lain! dan aku sebal, kala aku melamar kerja. Ternyata pimpinan bos ku teman baik Leo, rasanya tidak adil. Aku dengar cerita ibu Adelia, ibu kandung Leo. Dia terlalu banyak membuat papa dan bunda menderita. Jadi aku harap kau bersedia menjadi pemimpin market Marco seluruhnya. Please!" ujar Ghina.


"Ghina, aku punya kekasih bernama Arum. Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku memang saat ini ingin sukses dengan jerih payahku! bukan harta dari keluarga kita. Mengertilah!" ujar Ghani, ia berlalu pergi.


Ghina kesal, pada saudara kembarnya itu. Ia tidak habis pikir. Kenapa Ghani tidak mau menurut permintaan kedua orangtuanya itu.


***


Di Rumah.


"Mas, apa permintaan papa tidak menyakiti hati anakmu. Ghani, aku rasa ia mencintai wanita pilihannya."


"Mas, maaf! Hanum tahu, tapi rasanya perjodohan tanpa cinta itu sangat sakit. Belum lagi, mas tahu kan. Kisah Hanum dijodohkan. Uhuuuk .. Uhuuuk, Hanum hanya ingin ketiga anak anak kita rukun setelah kita tiada."


"Sayang! kita akan panjang umur, Ghina dan Ghani memang selalu akrab. Tapi aku yakin, mereka berdua bisa berdamai dengan Leo. Leo disini tidak salah, ibunya yang salah. Tidak seharusnya Ghina mendengar percakapan aku dan papa soal Adelia."


"Mereka masih terlalu kecil, untuk mengetahui Leo. Tapi Hanum yakin, Leo anak baik. Saat ini ia membantumu di market Marco, karena Ghani tidak konsisten, tidak fokus pada market Marco. Tapi Ghina merasa kecewa dengan kita, karena telah memberikan aset Marco pada Leo. Apalagi Ghina bicara dia anak angkat yang menguasai. Hanum tahu, Leo tidak marah sedikit pun ucapan Ghina. Tapi .."


"Percaya sama mas! mas akan membentuk kedua anak anak kita. Kamu percaya sama mas kan sayang! mas ingin kamu tetap sehat." ujar Rico memeluk Hanum.


Hanum dalam pelukan, ia sangat kecewa akan dirinya. Penembakan saat ia hamil, ia merasa sering banyak efek sakit. Tidak sesehat seperti dulu. Terlebih ketika ketiga anaknya tumbuh dewasa. Berbagai konflik setelah papa Mark meninggal, dan saat itu pula Ghina mendengar semua asal usul Leo. Yang ia kira ia adalah kakak kandung tertua.


Hati Ghina sedikit memutar pikiran Ghani, memperngaruhi untuk membenci Leo. Leo meski anak dari Adelia, tapi Hanum dan Rico amat mencintainya tanpa pilih kasih.


Sehingga bentuk kedewasaan Leo sangat tajam, kala ia sudah bisa menghandle membantu mas Rico di dunia marketnya. Belum lagi jatuh bangun, Leo lah yang mendukung Rico untuk tetap mempertahankan perusahaan market yang bermasalah di berbagai cabang.


Hanum menatap ruang jendela, terlihat Ghina kembali pulang. Bersama dengan Ghani yang tersulut emosi, anak laki lakinya tampak anak anak dengan tingkah yang tidak bisa berfikir dewasa.


"Siang, Bunda. Ghina rindu."


"Sayang, kalian udah pulang. Gimana hari ini, kalian happy ada masalah?" tanya Hanum.


"Baik baik saja Bunda."


"Aku yang ga happy! Bunda, Ghani bilang tidak mau perjodohan. Ghani akan keluar dari rumah ini, jika Bunda tidak paksa papa untuk berhenti menjodohkan. Bunda tahu kan, Ghani akan sukses tanpa bantuan market Marco." ujarnya.


"Uhuuk. Nak, apa yang kamu ucapkan. Setidaknya pikirkan masa depanmu. Ini untuk kebaikanmu."


"Bunda itu terlalu pilih kasih, Leo sudah berada menjadi Ceo. Lalu aku akan ada dibawahnya, untuk apa Bunda? anak kandung rasa anak tiri."


"Astagfirullah! Nak, Bunda minta maaf. Tapi Leo tidak seserakah itu, kamu perlu belajar dari bawah. Bunda mohon nak! berdamailah. Leo tidak seperti yang kalian pikirkan!"


"Bunda terus aja deh, belain anak angkat itu. Seliciknya ibunya, dia terlahir dari wanita licik. Bunda tahu, Ghina udah bawa Ghani kemari, tapi Ghina juga kecewa sama Bunda. Terus aja belain si Leo itu."


Hanum merasa sakit, ia menangis kala kedua anak anaknya masih saja marah terhadap dirinya yang masih menempatkan Leo di market Marco.


"Cukup!" teriak Rico, mematahkan kedua anaknya yang akan pergi.


"Kalian berdua, ke ruang kerja papa sekarang juga!" tegas Rico, membuat mata Hanum untuk tidak bersikap keras pada putra dan putrinya itu.


Tak lama Leo datang, membawa berkas. Dan mendengar perdebatan antara Ghina dan Ghani yang melihatnya tajam. Posisi Hanum dan Rico sedikit merasa bersalah pada Leo, atas ucapan Ghina yang menyakiti hatinya.


Tbc.


Mampir Juga On Going.


Judul : Pengantar Box Jutawan